Pujian Isra’ Mi’raj


Isra MirajTanpa sadar dan benar-benaan dan paham kalender Hijriyah, rupanya hari ini bertepatan dengan 27 Rajab 1436 H. Mengenai tanggal tersebut, mungkin kita tahu bahwa hari tersebut merupakan peringatan Isra’ Mi’raj Kanjeng Nabi Muhammad SAW.  Dari peristiwa penting inilah ummat Islam, melalui Rasulnya, menerima perintah sholat wajib lima waktu sehari semalamnya. Isya’, Subuh, Luhur, Ashar, dan Maghrib, jadilah tepat kita singkat menjadi ISLAM.

Sebagai sebuah kisah sejarah yang didongengkan oleh para guru agama maupun guru ngaji di kampung-kampung, peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan sebuah “cerita dongeng” yang sangat menarik bagi anak-anak. Antara nyata dan tidak nyata, antara sekedar dongeng dengan sebuah realita sejarah, antara percaya dan tidak percaya, bagi para bocah memang segalanya masih dipertanyakan berdasarkan logika pemikiran yang lurus. Namun seiring keterbatasan pengetahuan dan strategi komunikasi, para penutur kisah Isra’ Mi’raj seringkali memilih untuk mendoktrinasi kisah tersebut sebagai dogma yang harus diyakini berlandaskan keimanan.

Di samping mengenal sejarah peristiwa Isra’ Mi’raj dari para guru agama dan guru ngaji, serta beberapa penceramah di mimbar, di masjid dusun kami dulu juga sering ditembangkan syair pujian mengenai Isra’ Mi’raj. Tahu apa yang dimaksud dengan “pujian” nggak?

Pujian-pujian atau biasa disebut pujian saja, bagi kaum muslim tradisional di dusun-dusun merupakan lantunan syair, tembang, maupun sholawatan yang biasa dilakukan pada saat menunggu pelaksanaan sholat berjamaah di masjid atau mushola. Antara saat dikumandangkannya adzan dan iqomad, sambil menunggu berkumpulnya jamaah dan kedatangan sang imam, di samping biasa diisi dengan sholat sunat waktu tersebut juga sering diisi dengan lantunan pepujian tadi.

Pepujian lebih merupakan sebuah tradisi. Secara syariat atau tuntunan ibadah dalam agama Islam jelas tidak ada perintah ataupun larangan mengenai hal ini. Daripada waktu yang sangat mujabbah tersebut hanya diisi dengan obrolan ngalor-ngidul yang tidak karuan, maka generasi pendahulu kita berkreasi dengan syair pujian untuk menantikan saat iqomad.

Ada berbagai macam syair atau tembang pepujian. Ada yang berbahasa Arab, seperti  sholawat badar, sholawat nariyah, dan beberapa syari yang lain. Ada pula syair dalam bahasa Jawa yang entah diciptakan oleh tokoh siapa, seperti anjuran bergegas sholat jamaah jika adzan telah berkumandang, syair tentang pengingat kematian, syair tentang keindahan surga maupun kengerian neraka. Dan diantara sekian syair tadi ada kisah mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj.

Adalah Amat Zaenuri atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pak Dombo, salah seorang muadzin di masjid dusun kami di masa lalu, sering mengkombinasikan sholat badar dengan kisah Isra’ Mi’raj. Meski pepujian tersebut saya dengar semasa masih usia bocah, namun saya masih ingat syairnya secara lengkap. Sebuah syair pujian yang sederhana namun sangat dalam maknanya. Syairnya kira-kira begini:

Sholatullah salamullah, ‘ala toha rasulillah;

Sholatullah salamullan. ‘ala-‘ala yasin khabibillah;

Isra’ Mi’raj Kanjeng Nabi, Tindake ing wayah bengi;

Diderekake malaikan loro, Jibril Mikail asmane.

Hanya begitu? Memang hanya begitu saja. Namun di balik syair pepujian yang hanya empat baris tersebut tersimpan sebuah kisah yang bisa diurai secara lebih panjang lebar sebagaimana kisah Isra’ Mi’raj yang sesungguhnya. Di situlah justru kekuatan syair pepujian yang luar biasa. Pesannya singkat tetapi maknanya sangat simbolik dan mendalam. Pepujian merupakan sebuah bentuk nilai kearifan lokal yang mengakulturasikan nilai-nilai agama dengan tradisi tembang yang sudah ada sebelum Islam masuk di Tanah Jawa.

Seiring perkembangan waktu, justru tradisi pujian antara waktu setelah adzan dengan iqomad telah banyak ditinggalkan para pelantunnya. Generasi sepuh para pelaku pepujian satu per satu bahkan kebanyakan diantara mungkin sudah banyak yang telah meninggal. Di sisi lain, arus puritanisasi ajaran Islam juga terlanjur telah menggusur segala hal seni tradisi yang berkaitan erat dengan ritual ibadah yang dinilai sebagai tindakan bid’ah. Dan memang setelah tardisi pepujian punah di masjid-masjid ataupun mushola dusun kita, antara adzan dan iqomad memang diisi dengan aktivitas individu masing-masing jamaah yang menjadikan masjid sunyi dari pepujian. Namun sayangnya kesunyian tersebut juga disebabkan sepinya masjid dan mushola oleh para jamaah, terlebih para remaja dan anak-anak yang merasa kuno dan belum saatnya meramaikan masjid. Alangkah sayangnya!

Ngisor Blimbing, 16 Mei 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s