Nderes Qur’an


Sudah pasti setiap ummat Islam tahu bahwa ayat Al Qur’an yang diturunkan pertama kali berkaitan langsung dengan membaca. Terkait langsung dengan kitab suci kaum muslim ini, membaca Al Qur’an merupakan salah satu amal ibadah yang penuh hikmah. Dari berbagai riwayat bahkan kepada setiap pembaca ayat-ayat suci tersebut diberikan pahala dalam hitungan per huruf, bukan per kalimat, bukan per surat ataupun per juz. Betapa sangat pemurah Gusti Allah Yang Maha Pemurah.

Atas dasar latar belakang itulah kaum muslim, terutama di dusun-dusun pada zaman dulu, sangat istikomah untuk mengisi waktu selepas Maghrib hingga Isya’ dengan membaca Al Qur’an. Kegiatan ini bisa dilaksanakan secara bersama-sama di masjid atau langgar, ataupun di salah satau rumah warga yang dijadikan tempat ngaji. Ada pula warga yang membaca Al Qur’an di rumahnya masing-masing. Jadilah waktu-waktu tersebut selalu terdengar gema lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an. Suasana dusun hampir-hampir mirip dengan suasana kota santri, demikian barangkali ungkapan dari kelompok qosidah Nasidaria pada jamannya. Sungguh sebuah suasana yang menentramkan dan menyejukkan hati bagi siapapun yang tersentuh nuraninya.

Membaca ayat-ayat suci Al Qur’an yang dilakukan secara rutin dan berkesinambungan mulai dari Al Fatihah pada juz pertama hingga diakhiri surat An Naas di penghujung juz 30 di lingkungan pedesaan sering sebagai nderes. Nderes, bukan ndèrès! Meskipun dari segi penulisan kedua kata tersebut sangat mirip, namun pembacaan dan maknanya sangat berbeda. Kata yang terakhir, ndèrès, memiliki makna aktivitas pekerjaan menyadap air nira kelapa untuk dijadikan gula merah. Adapun kata nderes merupakan istilah yang dipergunakan untuk menyatakan kegiatan pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an yang dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan setiap hari.

Sebagaimana makna lugas dari iqra’ atau membaca, aktivitas nderes memang semata-mata membaca ayat Al Qur’an. Tanpa tahu maknanya? Tentu saja bagi pembaca yang sekaligus mengetahui makna kata per kata atau kalimat per kalimat jauh lebih baik. Namun demikian di kalangan kebanyakan ummat Islam yang nderes Qur’an, mereka hanya benar-benar sekedar bisa membaca tanpa mengetahui maknanya. Di sinilah hebat dan dahsyatnya nderes Qur’an! Dimana hebatnya?

Bayangkan ketika kita membaca teks book pada saat di bangku sekolah atau kuliah. Kita tentu paham dengan bahasa yang dipergunakan dalam referensi yang dibaca. Dalam hal ini dengan membaca kita bisa mendapatkan pemahaman dan ilmu baru. Dan memang tujuan membaca buku literatur tersebut kita ingin menggali informasi dan ilmu yang menambah deretan pengetahuan kita. Meskipun demikian, kita masih merasa berat, jenuh, dan tidak mudah untuk mencerna setiap kata setiap kalimat, terlebih seluruh isi buku.

Sedangkan nderes Qur’an, bisa baca tetapi tidak tahu arti dari kata dan kalimat yang dibaca! Meskipun bisa nderes sambil membuka-buka tafsir Qur’an, tetapi nderes murni ya hanya membaca dan terus membaca tanpa menggali makna atau tafsirnya. Bayangkan membaca dengan ketidaktahuan! Siapa manusia yang tahan melakukan hal yang konyol tersebut? Ya itu tadi, para manusia yang konsisten untuk nderes Qur’an itu.

Para penderes Qur’an adalah manusia yang hanya tahu bahwa membaca Al Qur’an itu sebuah bentuk ibadah yang diperintahkan Gusti Allah dan dicontohkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad dan para sahabat. Adalah atas dasar kepatuhan kepada Tuhannya dan keinginan untuk meneladani teladan Nabi Muhammad, para penderes menderes Al Qur’an.

Bagi kebanyakan manusia modern, termasuk kebanyakan ummat Islam masa kini, aktivitas nderes Qur’an mungkin hanya dianggap sebuah tindakan bodoh bin sia-sia. Membaca tanpa menambah pemahaman, apa perlunya? Mending waktu digunakan untuk membaca buku, mengeksplor internet, bekerja, mencari hiburan, nonton tivi, atau mungkin kerja lembur. Atau kalaupun niatnya ingin ibadah, pilihan mungkin akan lebih disukai membaca tafsir Qur’an. Atau amalan-amalan lain yang lebih nggenah!

Ah, tetapi biarlah! Meskipun dikomentari tidak rasional, tidak logis, tidak profesional, tidak profitable dan lain sebagainya, tetapi saya kok tetap yakin bahwa pada sebuah masjlis orang yang nderes Qur’an, maka malaikat akan turun berduyun-duyun dari berbagai tingkat langit untuk melingkari penderes Qur’an seraya mendoakan seribu satu doa kebaikan dan keberkahan. Dan nyatanya batin saya senantiasa merasakan ketentraman dan kelegaan tersendiri sehabis menunaikan rutinitas nderes Qur’an tersebut. Lebih alhandulillah lagi, anak lelaki sayapun sudah mulai cak-cek untuk nderes Qur’an meski baru mulai dari Juz ‘Amma.

Ah, andaikan setiap rumah kembali disinari dengan nilai Islam dari aktivitas nderes tersebut, saya yakin Indonesia akan lebih baik. Dunia akan lebih tentram, tata-titi tentrem kerta raharja, baldatun thoyyibatun wa rabbung ghofur. Wallahu alam bishowab.

Ngisor Blimbing, 14 Mei 2015

.

u

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s