Musik Gelombang Ke Tiga


Kenduri Cinta Mei 2015, sebagaimana tema yang diketengahkan “Kiai Kanjeng of the Unhidden Hand”, memang didedikasikan sepenuhnya untuk menggali pengenalan lebih mendalam mengenai kelompok musik gamelan Kiai Kanjeng. Akar asal-usul dan sejarah berdirikan Kiai Kanjeng tidak bisa dilepaskan sama sekali dari proses kreativitas dan karya adilihung kelompok asal Jogjakarta ini.

Berawal dari kelompok karawitan Dinasti yang menjadi satu kesatuan dengan Teater Dinasti, Kiai Kanjeng terlahir dari Komunitas Pak Kanjeng yang merepresentasikan pembelaan terhadap hak-hak wong cilik yang terkena gusuran pembangunan waduk Kedongombo di Boyolali pada pertengahan dekade 80-an. Pak Kanjeng merupakan sebuah lakon naskah teater yang diinspirasi dari tokoh Pak Jenggot di desa Kedungpring dan dituliskan oleh Emha Ainun Nadjib. Naskah monolog yang diperankan secara bergantian oleh Butet Kertarajasa, Nevi Budiyanto, dan Cak Nun sendiri merupakan sebuah simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan kekuasaan Orde Baru. Hanya sempat dipentaskan beberapa kali, penampilan kisah Pak Kanjeng menuai cekal dari yang berwajib kal itu.

Tidak terhenti di naskah dan pentas teater Pak Kanjeng, adalah Nevi Budiyanto yang berinovasi lebih lanjut menciptakan gamelan Kiai Kanjeng. Berbeda dengan gamelan Jawa pada umumnya, gamelan Kiai Kanjeng telah dimodifikasi sedemikia rupa hingga mampu menggabungkan unsur pentatonik dari timur dan unsur diatonik dari barat dalam sebuah komposisi irama yang harmonis. Dengan demikian gamelan Kiai Kanjeng menjadi sangat fleksibel dan memiliki keluasan spektrum frekuensi untuk memainkan segala macam jenis musik.

Berbahagia sekali jamaah Kenduri Cinta selama semalam suntuk mendapatkan kisah kesaksian perjalanan Kiai Kanjeng dari para pelakunya langsung. Dengan dipandu oleh Toto Rahardjo, eksplorasi sejarah Kiai Kanjeng diawali dari kesaksian Bambang Isti Nugroho dan Simon HT, dua tokoh yang pernah menjadi “tumbal” Orde Baru karena turut mendobrak ketidakadilan yang terjadi lewat kreativitas karya seni yang dinilai menyudutkan pemerintah kala itu.

Dalam salah satu segmen, beberapa personil Kiai Kanjeng juga sempat membeberkan rahasia dapur yang belum banyak diketahui banyak orang. Islamiyanto, salah seorang vokalis memberikan gambaran mengenai hubungan antara Kiai Kanjeng dan Indonesia. Dengan ungkapan retoris ia bertanya kepada jamaah, “Tahu buah kelapa? Tahu kisah mengenai santan kelapa? Untuk memetik dari pohonnya yang tinggi bukankah perlu dipanjat? Setelah kelapa dipetik, seringkali kelapa dijatuhkan begitu saja. Sakit? Tentu saja. Setelah itu kelapa dikupas sabutnya hingga terlihatlah batoknya. Batok itupun selanjutnya dipecahkan, baik dengan cara dipukul maupun dibanting. Sakit lagi? Sudah pasti demikian! Buah kelapa selanjutnya dicungkil. Tersakiti lagi bukan? Apakah dengan demikian sudah didapatkan santan kelapa yang diinginkan? Belum! Setelah kelapa tercungkil ia perlu diparut, lalu diperas, barulah santan bisa keluar. Berbagai proses penempaan yang begitu panjang, keras, melelahkan, dan bahkan terasa sakit. Kemudian jikapun santan itu dipanaskan atau direbus kemudian dicemplungkan ke dalamnya buah pisang, apa yang didapatkan? Kolak pisang! Ya, kolak pisang! Pernahkan ada kolak santan? Itulah Kiai Kanjeng!”

Dalam segmen yang lain, Cak Nun mengungkapkan kenapa Kiai Kanjeng memiliki stamina yang sangat luar biasa. Sekian tahun menjalani kebersamaan dalam proses kreativitas dan pemaknaan perjalanan hidup tentu bukan sesuatu yang mudah dipertahankan, bahkan pementasan malam itu telah tercatat sebagai penampilan Kiai Kanjeng yang ke 3640. Sebuah prestasi luar biasa yang belum tentu bisa ditorehkan oleh kelompok musik pop dari penjuru bumi manapun.

Menurut Cak Nun dalam kreativitas karya Kiai Kanjeng tidak ada kamus pengakuan diri sebagai seniman. Gamelan sekaligus musik hanyalah merupakan alat atau metode untuk keakraban. Yang dilakukan Kiai Kanjeng adalah misi pelayanan. Mereka sepenuhkan mempersembahkan karya-karyanya dalam rangka mengemban tugas kemanusiaan.

Gamelan, musik, karya atau apapun kegiatan yang dilakukan manusia dapat digolongkan ke dalam tiga tingkatan gelombang. Gelombang pertama adalah musik mencari uang. Pada fase ini seseorang pelaku musik masih menyandarkan penghidupannya kepada karya-karyanya. Golongan ini menjadikan pemusik sebagai profesi dalam rangka mencukupi nafkah hidunya.

Gelombang ke dua, musik untuk musik alias seni sekedar untuk seni itu sendiri. Setelah uang didapat, ketenaran disandang, materi diperoleh, harta kekayaan direngkuh, bagi seorang pemusik ternyata menuntut sebuah pencapaian kepuasan pada nilai yang lebih tinggi lagi. Meski uang tidak lagi menjadi tujuan utama, namun pada gelombang ini uang tetap hadir sebagai sebuah bonus kehormatan dan kemasyuran yang menghampiri.

Lepas dari gelombang pertama dan ke dua, dan pada posisi inilah Kiai Kanjeng berdiri, musik didedikasikan untuk Tuhan. Kiai Kanjeng tidak peduli lagi akan apa yang didapatnya dari proses yang secara konsisten dan ikhlas mereka jalani. Mereka sangat menyadari bahwasanya kehadirannya di lingkungan tertentu merupakan perwujudan amanat Tuhan untuk menumbuhkan kemanfaatan dalam kebersamaan. Mereka sangat meyakini jika sesuatu diniatkan dalam rangka menuju kepada Tuhan, maka Tuhan sendirilah yang akan menjadi kehidupannya dunia akhirat. Di sinilah luar biasanya Kiai Kanjeng.

Ngisor Blimbing, 12 Mei 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s