Seni Kethoprak Makin Terdesak


Kethoprak merupakan salah satu seni tradisi yang saya kagumi semenjak usia bocah. Di kala itu memang jaringan siaran televisi masih sangat terbatas. TVRI masih menjadi satu-satunya pelaku penyiaran televisi. Itupun acaranya masih terkotak-kotak antara acara yang disiarkan langsung oleh suatu stasiun TVRI daerah dengan muatan wajib dari TVRI Pusat. Dikarenakan lokasi desa tempat kami tinggal yang meskipun menjadi wailayah admintratif Provinsi Jawa Tengah, tetapi lebih dekat secara geografi ke Yogakarta, maka siaran TVRI Jogjakarta menjadi menu tontonan warga dusun kami.

Diantara acara yang menjadi favorit warga dusun adalah kethoprak mataraman. Acara yang tayang seminggu sekali ini sering menampilkan grup kethoprak yang kondang kaloka saat itu, diantaranya grup PS Bayu dari Sleman, Saptamandala Kodam IV, Wahyu Budaya dari Kediri, dll. Di masa kecil itulah para bocah seperti kami sangat mengenal dan seringkali menirukan karakter lucu para dagelan kethoprak, semisal Gudel, Genjik, Ngabdul, Poniman, Gito-Gati, Sandirono-Sandirene, Bambang Rabies, dan masih banyak seniman kreatif lainnya.

Di samping mengenal dan menggemari siaran kethoprak dari TVRI, seni kethoprak juga menjadi menu siaran banyak radio kala itu. Pagi menjelang siang, siang menjelang sore, bahkan malam hari selalu ada saja radio yang memanjakan para pemirsanya dengan siaran kethoprak. Salah satu kelompok yang paling terkenal dengan aksi rekamannya yang disiarkan di radio-radio adalah Saptamandala Kodam IV. Kelompok kethoprak yang dipimpim pasangan suami istri Widayat-Marsidah ini juga digawangi para jagoan dagelan seperti Ngabdul dan Poniman. Sponsor utama siaran kethoprak kala itu adalah PT Henson Farma dengan produk obatnya yang ternama seperti Utradin, Ultraflu, juga PilKita.

Selain menyimak kisah drama kethoprak dari layar televisi dan siaran radio, di wilayah pedesaan tempat tinggal kami kala itu juga masih sering ada pentas kethoprak yang biasanya ditanggap oleh seseorang yang sedang memiliki hajat. Di samping pentas kethoprak oleh kelompok seniman lokal, tak jarang kami berkesempatan menyaksikan aksi para seniman kethoprak yang terkenal di televisi. Saya masih ingat ketika kelas VI SD, Pakdhe Prapto pernah nanggap PS Bayu yang menghadirkan semua personilnya, komplit dengan Bambang Rabies. .

Kethoprak merupakan seni drama yang memadukan seni teater, seni karawitan, seni tembang, bahkan seni artistik penataan panggung. Lakon yang dipentaskan dalam seni kethoprak sangat beragam, mulai kisah klasik kerajaan yang pernah jaya di Nusantara seperti Kahuripan, Kediri, Singosari, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, hingga Yogyakarta dan Surakarta. Di sampingitu ada juga kisah babad Timur Tengah yang menceritakan Umar Maya dan Umar Maji.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Seni Kethoprak Makin Terdesak

  1. Agus Mulyadi berkata:

    Hahaha, miris kang, jaman saiki akeh sing luwih milih nanggap orjen tunggal tinimbang nanggap ketoprak. Bapakku saiki mandek dadi pemain ketoprak yo le mergo wis angel job’e, duuuuh, ketoprak, riwayatmu kini

    Suka

    • sang nanang berkata:

      padahal Pak Trimo punya harapan besar kepada anak lanangnya untuk meneruskan dan melestariakan bakat ngethopraknya ya?

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s