Nekat, Mengadu Nasib Ke Negeri Orang


Hari ini adalah May Day. Tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Internasional. Tentu saja tema pembicaraan yang paling aktual bisa dipastikan berkenaan dengan aksi demo buruh di berbagai kota belahan dunia. Dari Jakarta, Jogja, Surabaya, Medan hingga Makassar ribuan buruh menyampaikan beberapa tuntutannya. Soal aspirasi kenaikan upah buruh, penghapusan sistem outsorcing, tunjangan kesehatan, perumahan atau transportasi menjadi isu utama.

Saya tidak akan menambahi tulisan bertema May Day, tetapi hanya ingin sedikit berkisah mengenai seorang tetangga Dalem Ngisor Blimbing. Namun demikian, kisah tersebut tentu saja masih ada gandeng-cenengnya atau hubungannya dengan dunia perburuhan kita.

Adalah Bang Sueb, seorang pedagang gorengan keliling asli asal Indramayu. Sudah beberapa tahun, ia dan keluarganya merantau di pinggiran ibukota. Dari penghasilannya sebagai penjual gorangen keliling, tentu saja kehidupan keluarga kecil sangat pas-pasan. Penghasilan dari jualan hanya cukup untuk sekedar makan dan sewa rumah petak. Nasib ramah seolah belum berkenan menghampiri mereka.

Pekerjaan jualan gorengan keliling seperti Bang Sueb tentu saja bukanlah pekerjaan yang ringan. Di pagi hari buta, ia harus sudah bangun dan mruput menuju pasar untuk kulakan bahan, seperti ubi, tepung, kol, tauge, loncang, seledri, dll. Siang menjelang sore barulah Bang Sueb beraksi dengan pikulan yang dimodifikasi mengangkut kompor, tabung gas, adonan gorengan dan juga tempat gorengan yang telah matang. Dari gang ke gang, dari kampung ke kampung dijalani Bang Sueb dengan penuh kesabaran. Harapannya sangat sederhana ketika turun ke jalanan, agar gorengannya laku dan cepat habis. Hanya itulah satu-satunya tumpuan penghidupan keluarganya.

Hari ke hari, waktu ke waktu dan masa ke masa. Bukannya kehidupan semakin baik dan berpihak kepada wong cilik seperti Bang Sueb, e malah harga semua barang kian melembung. Dipicu kenaikan harga BBM, harga tepung, minyak, bahkan sekedar lombok ijo juga turut naik. Hal yang sama juga berlaku setali tiga uang dengan uang sekolah, ongkos angkutan umum, biaya periksa kesehatan, dan semua hal yang dibeli dengan uang.

Beberapa tahun membina rumah tangga, Bang Sueb dikaruniai dua orang anak. Si sulung sudah masuk SD meski terpaksa dititipkan kakek-neneknya di kampung halaman Indramayu. Hal ini tak lepas dari mahalnya biaya sekolah di pinggiran Jakarta yang sulit terjangkau keluarga Bang Sueb. Adapun anak ke dua, masih berumur dua tahunan dan ikut kedua orang tuanya. Untuk membantu meringankan beban Bang Sueb, istrinya secara serabutan sering menjadi buruh cuci setrika. Meski kedua suami-istri merupakan tipe pribadi pekerja keras dan tak kenal lelah, namun apa daya kemampuan ekonomi keluarga mereka tak kunjung berubah. Untuk sekedar hidup sehari-haripun mereka sangat pas-pasan.

Seiring bertambahnya usia anak-anaknya, Bang Sueb yang ingin setiap anak-anaknya bisa mengenyam bangku pendidikan yang lebih baik. Namun tentu saja tidak ada pendidikan yang gratis di negeri manapun. Justru dari waktu ke waktu biaya sekolahpun semakin tidak berpihak kepada Bang Sueb. Menyikapi hidup yang pas-pasan dan tak kunjung membaik, istri Bang Sueb berani nekat mengambil sikap. Ia nekat mendaftar menjadi TKI atau TKW ke negeri Taiwan. Dengan bekal pendidikan yang minim, ia rela menjalani hidup sebagai pembantu rumah tangga.

Adalah menjadi hak setiap anak bangsa untuk mendapatkan penghidupan dan pekerjaan yang layak di negerinya sendiri. Hal ini merupakan amanat kontitusi yang harus dijunjung tinggi oleh pemimpin kita. Namun bicara peluang dan kesempatan kerja di negeri kita sendiri, kita semua sadar belum semua angkatan kerja yang ada mendapatkan lapangan pekerjaan.

Pergi ke luar negeri untuk mengadu nasib hanya berbekal pendidikan dan ketrampilan yang seadanya adalah sebuah kenekatan yang luar biasa. Banyak pemuda-pemudi, bahkan warga setengah baya yang nekat menjadi buruh di negara orang seperti Malaysia, Taiwan, Jepang, Korea, dan negara-negara Timur Tengah. Mereka hanya berpikir bagaimana tidak berpangku tangan dan terus memperjuangkan nasibnya yang terabaikan oleh negara.

Kenekatan para TKI melanglang ke negeri perantauan tak sepenuhnya bebas dari segala risiko. Ada banyak kasus memprihatinkan yang menimpa saudara buruh migran tersebut. Ada yang terkena tipuan para penyalur kerja yang tidak bertanggung jawab. Ada yang ilegal masuk dan bekerja di negeri tujuan. Ada yang disiksa atau diperkosa majikannya. Bahkan ada juga yang terancam hukuman mati karena pembelaan diri terhadap tindak kekerasan yang dialaminya.

Di Hari Buruh kali ini, secara pribadi saya berpengharapan semoga para pemimpin negara ini segera memikirkan strategi perlindungan para buruh migran di luar negeri sana. Bagaimanapun mereka adalah tulang punggung keluarga, bahkan juga pahlawan devisa. Alangkah tidak bijak jika pemerintah mengambil kebijakan moratorium pengiriman TKI tanpa diiringi dengan peningkatan peluang lapangan kerja di dalam negeri.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s