Duit Beli Duit


EmoneySemua orang butuh uang alias duit. Duit di jaman modern ibarat bagian ruh yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Mau minum, butuh duit! Mau makan, butuh duit! Mau bepergian, butuh duit! Mau sekolah, butuh duit! Mau ke dokter, butuh duit! Ibarat semua kegiatan atau keperluan manusia tidak bisa lepas dari benda yang bernama duit.

Kemajuan dunia teknologi informatika berbasis sistem yang terdigitalisasi dan terotomatisasi menjadikan trend segala hal terdorong ke arah electronic online. Layanan pajak online, layanan perizinan online, transaksi online, bahkan semua aspek pelayanan pemerintahan menuju online. Maka kita kemudian tidak asing lagi dengan istilah e-commerce, e-goverment, e-budgeting, e-procurement, e-banking, dan tentu saja e-money. Nah kali ini kita akan berbincang mengenai e-money ini. Apakah yang disebut e-money?

Saya sendiri mungkin termasuk orang yang ketinggalan mengenal produk teknologi canggih yang satu ini. Sebelumnya mungkin saya pernah diperkenalkan dengan kartu kredit maupun debit. Tentu saja saya pada awalnya sangat nggumun bin kagum dengan kartu ajaib tersebut. Bagaimana sekedar memasukkan kartu debit di slot mesin ATM, mesin tersebut langsung mengeluarkan uang dalam jumlah tertentu. Pikiran ndeso bin gombal saya sebenarnya tidak memahami bagaimana mungkin sebuah mesin bisa ngasih duit kepada seseorang yang memegang kartu duit tersebut. Hal yang sama juga dinyatakan si Ponang dalam beberapa kesempatan. “Bapak nggak usah kerja saja! Kan sudah punya kartu ATM, tinggal minta duit ke mesin ATM kan dikasih!” demikian ungkapan lugu bin lucu dari seorang bocah.

Demikian halnya soal berbelanja dengan kartu kredit ataupun kartu debit. Tinggal menggesekkan kartu di alat yang sudah disiapkan di meja kasir, kita langsung bisa membopong barang yang kita borong di toko atau supermarket. Dunia memang sungguh hebat, orang nggak pegang uang tetapi bisa membeli barang atau apapun hanya dengan sebuah kartu tipis.

Belakangan baru saya dikasih tahu beberapa kolega bahwa ternyata proses transaksi dengan kartu-kartu tersebut tidak sama sekali gratis. Jer basuki mawa bea. Segala sesuatu ternyata tetap masih harus tunduk kepada hukum bahwa tidak ada yang gratis di dunia. Semua ada biaya dan ongkos yang tetap harus dibayar. Rupanya orang baru bisa menggunakan kartu debit apabila ia telah memiliki sejumlah cadangan dana tertentu di bank yang mengeluarkan kartu debitnya. Kalau cadangan tersebut telah terkuras dan habis, tentu saja kartu debit tidak bisa digunakan untuk gesak-gesek seenak wudelnya sendiri.

Demikian setali tiga uang dengan kartu kredit. Sedikit yang membedakan kartu jenis ini sebenarkan alat berhutang. Jadi meskipun tidak memiliki cadangan dana tertentu orang boleh menggunakan terlebih dahulu sejumlah uang dari bank tertentu. Barulah dalam kesempatan lain hutang tersebut ditagih dan harus dilunasi oleh pemegang kartu kredit. Tentu saja penggunaan kartu ini tetap ada batasan yang harus ditaati oleh penggunanya.

Nah ini baru soal e-money. Rupanya yang diistilahkan e-money ini juga semacam kartu tadi. Kartu ini lebih mudah digambarkan sebagai kartu yang berisi pulsa dengan nomimal harga tertentu, sebagaimana pulsa yang kita isikan ke hand phone. Nah jika nomimal pulsa telah habis, untuk dapat menggunakan kartu kembali ya harus diisi lagi dengan “pulsa”. Hanya saja pulsa yang saya maksudkan di sini berupa sejumlah uang. Memang jadi agak aneh ketika kita membeli e-money dengan duit. Bukankah hal ini sama dengan membeli duit dengan duit? Nah kan kebayang belum ya?

Tidak usah terlalu dipikir soal duit untuk membli duit. Jangan membayangkan perumpaan jeruk makan jeruk! Praktik yang sama juga sudah lumrah dilakukan pada saat orang menukarkan suatu mata uang tertentu dengan mata uang negara lain. Atau mungkin istilahnya menukarkan uang dengan pulsa bayar apa ya? Intinya e-money adalah alat pengganti pembayaran atau transaksi yang berbasis penggunaan mesin elektronik.

Lalu dimanakah e-money dapat dipakai. Kalau di Jakarta saat ini beberapa layanan transportasi publik telah mempergunakan e-money alias kartu bayar. Kereta commuter line dan busway telah menerapkan e-money tersebut. Demikian halnya di beberapa gerbang pintu tol juga telah terpasang mesin bayar elektronik tersebut.

Kenapa harus pakai e-money? Rasanya kurang adzol jika membayar sesuatu tidak dengan uang? Ah, tak perlu berlebihan lah! Bukankah kita sudah akrab saling bertransaksi dengan cara transfer dlsb, tidak langsung menggenggam uang bukan? Setidaknya untuk pembayaran di area publik dengan sekian ribu orang, tentu saja penggunaan e-money akan mempercepat proses transaksi sehingga antrian orang tidak akan terlalu menumpuk. Bukankah ini salah satu terobosan solusi untuk meningkatkan pelayanan terhadap pengguna jasa? Semoga demikian.

Lor Kedhaton, 29 April 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s