Boncengan Bocah Kuno


Deda1Sepeda kayuh memang merupakan salah satu sarana angkutan periode awal sebelum hadirnya mesin. Dengan mengandalkan tenaga kayuhan kaki dari pengendaranya menjadikan kendaraan ini super irit dan sangat ramah lingkungan. Mungkin karena kayuhan kaki alias sikil (dalam bahasa Jawa) ini yang menjadikan orang barat menyebut sepeda dengan ungkapan bai-sikil, bycicle. Tentu saja hal terakhir ini hanya sebuah pikiran lucu-lucuan semata dan jangan dimasukkan ke dalam hati, terlebih ke dalam otak.

Sebagai sebuah negeri jajahan yang selama ratusan tahun menjadi takhlukan negara penjajah, sepeda hadir di Nusantara tentu saja diperkenalkan oleh kaum penjajah Belanda. Pada awalnya sepeda masih menjadi sebuah kemewahan hanya hanya bisa dimiliki oleh para tuan menir dan noni-noni Belande. Orang pribumi masih benar-benar by sikil alias kemana-mana jalan kaki, atau paling mewah ya naik kuda atau delman.

Seiring dengan perkembangan sejarah, beberapa kalangan pribumi terutama kalangan ningrat dan orang berada juga mampu memiliki sepeda. Para amtenar atau pegawai pamong Belanda banyak yang bersepeda lengkap dengan baju beskap putih serta topi bundarnya. Demikian halnya para kaum terpelajar juga mengandalkan sepeda untuk pulang pergi ke sekolahnya.

Pasca Indonesia merdeka, sepeda masih menjadi sarana transportasi yang penting bagi masyarakat. Sepeda banyak dipergunakan untuk pulang-pergi kerja, berangkat ke sekolah atau kampus, bahkan ada juga ojek sepeda seperti yang kini tersisa di kawasan Kota Tua Jakarta.

Setelah masyarakat berkenalan dengan sepeda bermesin atau sepeda motor, sepeda menjadi sedikit banyak tergusur ke arah pinggiran. Bahkan untuk sepeda jenis sepeda onthel hanya tersisa menjadi sarana transportasi masyarakat kawasan pedesaan. Dengan dilengkapi bagasi atau boncengan di sisi belakang pengemudi, sepeda banyak dipergunakan sebagai sarana angkut barang. Para petani tidak jarang mengangkut gabah, beras, kelapa, hingga rumput untuk makan ternak juga menggunakan sepeda.

Di samping boncengan di sisi belakang, dulu banyak sepeda yang dilengkapi bagasi khusus dudukan bocah di depan pengemudi sepeda. Boncengan yang kecil mungil tersebut hanya dikhususkan untuk mengangkut bocah balita karena ukurannya memang mungil. Bocengan berupa dudukan yang terbuat dari bahan plastik tersebut dilengkapi dengan kerangka dari besi lunak yang terdiri atas tiga bagian, yaitu dudukan, pegangan, serta pedal injakan kaki anak. Di sisi tengah antara pegangan dan pedal indajakan terdapat cantolan untuk mengkaitkan boncengan tersebut ke sisi kanan dan kiri setang sepeda. Jadilah para bocah di jaman dahulu menikmati kemewahan berkendara dengan duduk di boncengan klasik tersebut.

Nah dewasa ini seiring dengan kampanye ramah lingkungan dan pola kehidupan sehat, masyarakat kembali melirik menggunakan sepeda. Bersepeda bangkit kembali sebagai salah satu gaya hidup menikmati kesantaian sekaligus sebagai sarana olah raga. Bahkan ada kalangan tertentu yang menjadikan sepeda sekaligus sebagai sarana transportasi untuk mencapai tempat kerja. Jadilah jargon bike to work yang terkenal itu, menjadi slogan bagi para anggota komuitas pesepeda untuk kerja tersebut.

Nah, uniknya nich kembali ke masalah boncengan tadi. Meskipun produk sepeda santai jaman sekarang telah sama sekali lain daripada sepeda onthel, seperti sepeda lipat dan sepeda gunung, namun ada juga yang dilengkapi dengan cantolan boncengan bocah model kuno di sisi depan pengemudinya. Ternyata bagasi khusus balita itu nampak serasi juga disandingkan dengan desain sepeda yang modern saat ini.

Termasuk saya sendiri merupakan pesepeda yang masih mempergunakan jasa boncengan bocah untuk memboncengkan si Genduk Noni berkeliling sepedaan tatkala Sabtu atau Minggu pagi. Karena desain yang jadul dan semakin langka dijumpai, jadilah aksi sepeda gunung yang dilengkapi dengan bagasi bocah serta si bocahnya yang anguk-anguk ke kanan-kiri menjadikan kami seolah menjadi perhatian pandangan banyak orang di sepanjang jalan.

Sampeyan hobi bersepeda juga? Sampeyan punya bocah balita juga? Sampeyan ingin bersepedia ria dengan anak balita juga? Lha monggo boncengkan bocah Sampeyan dengan kembali menggunakan boncengan bocah kuno nan klasik. Dijamin akan lebih asyik!

Lor Kedhaton, 27 April 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag . Tandai permalink.

4 Balasan ke Boncengan Bocah Kuno

  1. dono berkata:

    maaf mas..mau nanya, pasang boncengan gitu di sepeda gunung model lelaki gmn y? biasa kan cuma dicantolin ke stang,nah sepda model laki kan ada “dalangan” tuh…jdnya gak bisa nyantolin… bisa dikasih fotonya mas? ke dohnsevilla@gmail.com… mksh

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Dear Mas Dono,
      Untuk memasang boncengan yang biasa hanya dicantolkan ke stang itu ke sepeda yang ada “dalangan” atau plantangan perlu dilakukan sedikit modifikasi Mas.
      Kalo yang saya lakukan, saya pasangkan boncengannya pada sebuah papan datar selebar kurang lebih 10 cm, panjang mengikuti panjang dalangan (dilengkapi sekrup, biar kencang), dan di ujung papan dibuat “coakan” ke tiang stang dan di ujung lain coakan melekat ke tiang sadel. Nah, papan inilah yang ditempelkan di atas dalangan. Untuk memperkuatnya bisa diikatkan dengan tali ke dalangannya. Demikian Mas Dono…silakan dicoba

      Suka

      • dono berkata:

        Trm kasih banyak mas atas penjelasannya…
        Klo ada waktu ketika dirumah, boleh minta fotonya mas… ๐Ÿ˜‰ masalah kuatnya itu yg msh dipikiran ๐Ÿ˜‰

        Suka

  2. Ping balik: Tips Pasang Boncengan Anak Jadul | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s