Generasi Pewaris Tradisi


Radya SurjanIndonesia sungguh sebuah negeri yang sangat kaya tradisi. Keberadaan ratusan suku bangsa dengan masing-masing adat istiadat, seni, dan budayanya inilah yang menjadikan negeri kita semarak warna-warni pelangi tradisi. Salah satu karya yang tidak bisa dilepaskan dari tradisi adalah pakaian adat.

Seiring dengan perkembangan jaman dan juga semakin memudarnya tradisi kedaerahan yang justru semakin tergantikan dengan tradisi nasional bahkan global, pemakaian pakaian adat menjadi sebuah pemandangan yang semakin langka. Pakaian adat saat ini hanya terbatas dipergunakan benar-benar pada suatu acara adat, terutama pada perhelatan suatu pernikahan. Itupun hanya terbatas dipergunakan oleh mempelai berdua dan barisan keluarga inti. Adapun para tamu lebih merasa nyaman dengan pakaian nasional, seperti hem atau jas berdasi, atau setidaknya pakaian batik.

Akan tetapi di beberapa hari belakangan ini, di berbagai sekolah-sekolah kita tidak heran jika mendapati para pelajar kita menggunakan pakaian adat di sekolah. Tentu saja tidak ada perhelatan pernikahan atau upacara adat yang dihelat di lingkungan sekolah. Kalau Anda lupa, baiknya saya ingatkan bahwa pekan ini adalah pekan Hari Ibu Kita Kartini. Sebagai sebuah tradisi yang diformalkan, Hari Kartini kemudian selalu identik dengan pakaian adat.

Meskipun memang hakikat pesan moral Hari Kartini tidak hanya soal anak-anak yang diajari untuk mencintai pakaian adat masing-masing suku yang ada di tanah air, tetapi anjuran pemakaian pakaian adat pada saat memperingati Hari Kartini adalah sebuah langkah postitif dalam rangka menanamkan, menumbuhkan, memupuk, serta memelihara rasa nasionalisme anak bangsa. Sedari dini anak-anak kita harus sudah dipahamkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk yang terdiri dari ratusan suku bangsa, maka keberagaman harus ditanamkan sejak di bangku sekolah. Dengan mengenal keberagaman justru kita berharap rasa persatuan diantara anak bangsa akan semakin menguat.

Di samping sekedar berpakaian adat, rangkaian acara Hari Kartini juga banyak diwarnai dengan aneka jenis perlombaan. Ada lomba peragaan busana adat, lomba memasak, lomba menggulung stagen, lomba melukis tokoh Kartini, paduan suara, olah raga, dlsb. Di samping menggali kembali akar tradisi, Hari Kartini juga menjadi ajang unjuk ketangkasan bakat anak-anak kita. Tentu saja hal tersebut merupakan hal yang positif. Bagaimana Kartinian di lingkungan sampeyan?

Ngisor Blimbing, 25 April 2015

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s