Salah Paham Penumpang Kereta


Hari itu Senin pagi. Sebagaimana rutinitas di awal pekan, kepadatan di stasiun Tangerang biasanya lebih padat dengan para calon penumpang yang membludak. Suasana ruwet kian bertambah dengan pelaksanaan proyek penataan lingkungan di sekitar area stasiun. Arus penumpang yang biasanya memasuki area stasiun melalui gerbang di sisi seberang Masjid Agung sudah beberapa hari sebelumnya dialihkan ke gerbang sisi tengah. Walhasil calon penumpang pejalan kaki harus berputar-putar dulu untuk mencapai loket dan peron stasiun.

Sebagai penumpang yang hanya kadang-kadang menjadi pengguna kereta api, saya tidak sepenuhnya tahu informasi perkembangan kebijakan layanan stasiun Tangerang termasuk keberadaan proyek yang sedikit banyak mengganggu kenyamanan calon penumpang. Pagi itu niatnya ingin naik kereta komuter line yang biasa berangkat pukul 06.45 WIB. Ketika memasuki area stasiun pada pukul 06.35, belum nampak satupun kereta sebagaimana biasanya. Para calon penumpangpun sudah berdiri berdesakan di sisi peron jalur 1. Pengumuman dari petugas menginformasikan bahwa kereta baru melaju di stasiun Poris. Akhirnya pukul 06.50, kereta yang seharusnya berangkat 06.45 baru memasuki stasiun tempat kami menunggu.

Begitu kereta terhenti dan pintu dibuka, sekonyong-konyong para calon penumpang saling menghambur, saling berebut dan berdesakan untuk mendapatkan tempat duduk. Saya sendiri terima pasrah dan memilih masuk belakangan. Dan akhirnya memang saya hanya mendapatkan tempat berdiri tepat di samping pintu.

Belum menempatkan dan menata diri dengan baik, saya dikejutkan dengan suara ribut-ribut di sisi tengah gerbong. Dua orang perempuan tengah kasak-kusuk terlibat dalam adu mulut yang membuat semua penumpang lain tercengang. Satu perempuan bertubuh sedang dan berkaca mata. Satu perempuan lain bertubuh gemuk besar. Keduanya duduk saling berdampingan, tetapi justru mereka berdualah yang sedang terlibat adu mulut. Umpatan-umpatan keluar bagaikan berondongan peluru dari para prajurit yang tengah adu senjata. Satu dua orang mencoba meneduhkan suasana dengan nasehat singkat. “Sudah-sudah, banyak orang! Tak baik ribut-ribut!” Meski demikian emosi kedua perempuan itu bukannya teredam.

Usut punya usut pada saat tadi para calon penumpang berebutan untuk naik gerbong dan mencari tempat duduk, dua orang tersebut terlibat desak-desakan bangku kereta. Si perempuan kurus berniat baik ketika dilihatnya ada bapak-bapak lansia yang juga tengah berusaha mencari bangku kosong. Ketika si perempuan sudah duduk terlebih dahulu, ia mengamankan satu posisi di sampingnya untuk diberikan kepada bapak lansia tersebut.

Di pihak lain, perempuan gendut rupanya sedang hamil. Karena tubuhnya yang memang gemuk dan besar mungkin penumpang yang lain tidak ngeh dan menduga bahwa ia sedang hamil. Merasa perempuan hamil harusnya mendapatkan prioritas, termasuk juga di deretan bangku non-prioritas, maka ia dan suaminya langsung duduk di bagian tengah.

Si perempuan kurus yang yang “membokingkan” satu space untuk bapak lansia yang sama sekali tidak dikenalnya menegurnya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa perempuan yang gemuk tersebut sedang hamil. Dari sinilah kesalahpahaman bermula. Adu mulutpun berkepanjangan dan membuat penumpang yang lain justru menjadi serba tidak enak.

Semua orang kemudian paham bahwa pertengkaran tidak perlu terjadi hanya karena salam paham. Masing-masing pihak punya niatan baik. Si perempuan kurus ingin menolong orang lain. Si perempuan gemuk itupun kalau menyampaikan baik-baik bahwa dirinya tengah hamil, pasti juga tidak akan menimbulkan eyel-eyelan.

Setelah kedua perempuan merasa tidak enak dengan pandangan mata para penumpang lain yang merasa tidak nyaman dengan suara ribut-ribut mereka, akhirnya adu mulutpun berakhir dengan masing-masing saling diam. Suasanapun kembali tenang dan persoalan dianggap selesai.

Gambaran peristiwa seperti di atas mungkin banyak terjadi di ibukota Jakarta. Rimba raya jutaan manusia yang sehari-harinya dipenuhi suasana persaingan, perebutan, menang-menangan, bahkan perang hidup-mati. Jakarta yang semestinya menjadi tidak sekedar ibukota tetapi juga ibukota hati nurani justru semakin menampakkan ketidakberadapannya. Kebijakan pola pembangunan sentralistik dengan memadatkan uang dan modal di ibukota telah menggiring kepada keadaan pemusatan manusia. Di Jakarta orang mencari kerja, kesempatan, peluang, karir, uang dan tentu saja penghidupan yang kurang bisa dijanjikan di daerah. Akhirnya bom-bom permasalahan sosial dan krimimal tumbuh setiap saat untuk meledak dan menhancurkan peradaban pad suatu saat yang entah kapan itu. Masihkah ada angin di Jakarta?

Lor Kedhaton, 23 April 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s