Kartono, Sosok Kakak Kartini Yang Terlupa


Huruf Alif dan Air Putih

Raden Mas Panji Sosrokartono barangkali merupakan nama asing bagi sebagian generasi saat ini. Menilik dari nama Kartono, barangkali kita akan menebak adanya hubungan kekerabatan dengan Raden Ajeng Kartini, pahlawan emansipasi wanita dari Jepara. Bulan April memang bulannya Kartini, sebagaimana peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April diperingati. Adakah hubungan antara Kartono dan Kartini?

RMP Sosrokartono adalah kakak kandung RA Kartini. Ia dilahirkan di Jepara pada tahun 1877, merupakan putra ke dua dari delapan bersaudara putra Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang menjabat bupati dari 1890 – 1905. Selama 29 tahun beliau malang melintang sebagai pengembara di Eropa sejak 1897. Para kaum intelektual dan bangsawan Eropa menyebutnya sebagai De Javanese Prins(Pangeran dari Jawa) atau De Mooie Sos(Sos yang tampan).

Pada awalnya ia belajar di Delft untuk kemudian mendalami ilmu di Universitas Leiden, Belanda. Selepas menamatkan pendidikannya, Kartono berprofesi sebagai wartawan perang untuk koran The New York Tribune. Ia meliput secara langsung dari fron terdepan Perang Dunia I di daratan Eropa. Untuk memudahkan tugas jurnalistik dan menembus medan perang, ia diberi pangkat Mayor oleh tentara Sekutu. Meski demikian ia menolak dipersenjatai. Ia pernah pula bekerja sebagai staf Kedutaan Prancis di Den Haag, bahkan pernah menjadi penerjemaah di Liga Bangsa Bangsa yang berkedudukan di Wina.

Apa sebenarnya keistimewaan seorang Kartono hingga sebagai seorang putra pribumi yang dijajah lebih dari tiga setengah abad begitu cemerlang berkarir di perantauan jauh dari tanah kelahirannya?

Sosrokartono dikenal sebagai orang yang cerdas dengan penguasaan 17 bahasa asing dan 9 bahasa daerah. Ia berbicara dalam bahasa Inggris, Belanda, India, Cina, Jepang, Arab, Sanskerta, Rusia, Yunani, Latin, bahkan ia juga pandai berbahasa Basken(Basque), suatu suku bangsa Spanyol, demikian pernah dituturkan oleh Bung Hatta. Sebagai wartawan perang ia menerima gaji US$ 1.250 pada waktu itu. Dengan penghasilan sebesar itu, ia termasuk konglomerat di Wina. Maka tidaklah mengherankan apabila lingkup pergaulannya begitu luas di kalangan para bangsawan Eropa.

Konon di masa pengembaraannya tersebut ia pernah sempat berkorespondensi dengan Rajendra Tagor dan Albert Einstein, dan terlibat dalam perdebatan panjang mengenai filsafat dan teologi. Semenjak di Eropa, Kartono memang sudah menekuni laku tirakat sebagaimana tradisi orang Jawa di tanah asalnya. Dan kebiasaan ini yang kelak menjadikannya seorang spiritual spesial.

Kecakapannya dalam berbagai bahasa asing menjadikan Kartono berani menemui calon pejabat Gubernur Jendral di Hindia Belanda, W Rooseboom pada tanggal 14 Agustus 1899. Kepada calon petinggi tanah jajahan itu, ia menyampaikan bahwa Kerajaan Belanda harus benar-benar memperhatikan pendidikan bagi kaum pribumi. Bagaimanapun kejayaan dan kemakmuran yang dinikmati bangsa Belanda adalah mutlak atas jasa tanah jajahan. Upaya yang disampaikannya tersebut merupakan bentuk dukungan moral terhadap perjuangan yang pernah digagas oleh adiknya, RA Kartini, untuk memajukan pendidikan kaum pribumi terlebih kaum perempuannya.

Pada saat menjadi pembicara dalam Kongres Bahasa dan Sastra Belanda ke-25 di Gent, Belgia pada September 1899, Kartono menyampaikan pidato berjudul Het Nederlandsch in Indie(Bahasa Belanda di Indonesia). Dalam kesempatan tersebut ia mempersoalkan hak-hak kaum pribumi di Hindia Belanda yang tidak pernah dipenuhi oleh pemerintah penjajah. Dengan tegas ia menyatakan sebagai musuh dari siapapun pihak yang akan menjadikan Hindia Belanda menjadi bangsa Eropa atau berkebudayaan Eropa. Baginya Hindia Belanda memiliki khasanah budaya adiluhung yang yang bersumber dari adat istiadat berbagai suku bangsa yang telah mendiami gugusan Nusantara secara turun temurun.

Keluhuran tradisi, adat istiadat dan budaya yang dimiliki Nusantara harus terus dipupuk dan dikembangkan. Kepada siapapun putra pribumi yang berada di belahan bumi manapun, dihimbaunya agar tetap bangga dan melestarikan budaya bangsanya. Hanya dengan rasa kebanggaan terhadap bangsa dan budayanya itu, bangsa kita akan menemukan jati diri hingga akan menjadi bangsa yang mulia dan bermartabat disegani bangsa lain.

Setelah dua puluh sembilan tahun melanglang buana di dunia Barat, Kartono memutuskan untuk pulang ke tanah airnya, Hindia Belanda. Sekembalinya di Jawa, Kartono tidak kembali ke Jepara melainkan bergabung dengan Taman Siswa Bandung. Ia memang bertekad meneruskan cita-cita Kartini untuk memajukan pendidikan kaum pribumi. Atas jasa baik RM Soeryodipoetro, adik Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan kita, Kartono diminta menjadi pimpinan Nationale Middlebare School(Sekolah Menengah Nasional) milik Taman Siswa. Selain itu ia juga diminta menempati sebuah gedung di jalan Pungkur Nomor 7 Bandung.

Jalan Pungkur Nomor 7 kemudian berkembang pula menjadi sebuah perpustakaan atas jasa baik beberapa kolega dan teman-temannya yang memberikan sumbangan koleksi buku. Rumah panggung dari kayu dengan dinding anyaman bambu tersebut diberi nama Pondok Darussalam yang berarti rumah kedamian.

Pondok Darussalam kemudian berkembang menjadi tempat berkumpulnya para tokoh pergerakan nasional. Tak kalah tokoh seperti Bung Karno memerlukan datang untuk sekedar belajar bahasa dan bertukar pikiran dengan Kartono. Bahkan kemudian pondok tersebut menjadi pusat kegiatan Partai Nasional Indonesia dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisastie pimpinan Abdoel Rachim, mertua Bung Hatta.

Demi menyaksikan penderitaan rakyat di sekitarnya yang didera kemelaratan dan berbagai macam penyakit, Kartono kemudian banyak melakukan tirakat dan laku prihatin. Ia seringkali melakukan cegah dahar lan guling, melakukan puasa dan mengurangi waktu tidur. Seringkali ia hanya minum air kelapa muda. Berkat karomah yang dianugerahkan Tuhan, ia berhasil menyembuhkan masyarakat yang datang berobat kepadanya. Ia kemudian dikenal sebagai tokoh spiritual hingga dipanggil dengan sebutan Eyang Sosro.

Eyang Sosro dalam melakukan penyembuhan terbilang memakai metode yang unik. Cerita air putih, huruf alif dan wejangan kebijakan filsafat Jawa adalah media penyembuhan yang melegenda. Bahkan dengan air putihnya, ia pernah diminta oleh Sultan Deli untuk memberantas wabah penyakit yang menyerang warganya.

Eyang Sosro meninggal pada tahun 1952 setelah mengalami kelumpuhan selama sepuluh tahun. Tokoh yang tidak pernah berumah tangga ini dimakamkan di Sedo Mukti desa Kalipitu, Kabupaten Kudus Jawa Tengah.

Diantara nasehat bijaknya yang terkenal adalah ungkapan sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, dan menang tanpa ngasorake(kaya tanpa harta, sakti tanpa jimat, menyerang tanpa prajurit, dan menang tanpa merendahkan). Bahkan di batu nisannya tertulis trimah mawi pasrah, suwung pamrih tebih ajrih, langgeng tan ana susah tan ana bungah, anteng manteng sugeng jeneng(rela terhadap takdir yang terjadi, tidak ambisius tiada ketakutan, tetap tenang dalam keadaan suka dan duka, diam sungguh-sungguh, maka akan selamat sentosa).[]

 Cisitu, 14 April 2009

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kartono, Sosok Kakak Kartini Yang Terlupa

  1. ardhi berkata:

    apik iki mas nanang tulisane.. kardi adarma pèni adamar

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s