Belajar Melukis di Kandank Jurank


KDJ1Tulisan ini merupakan tulisan kedua mengenai aktivitas kreatif yang rutin digelar di markas Komunitas Kandank Jurank Doank milik Dik Doank di kawasan Jurangmangu. Salah satu kegiatan pengembangan seni yang dilaksanakan di Kandank Jurank adalah workshop seni lukis. Acara ini digelar secara terbuka di tengah pelataran setiap Ahad Pagi. Hangat sinar mentari pagi diiringi dengan kicauan burung dengan terpaan hembusan angin sawah sangat cocok sebagai sarana pengantar penggalian ide kreatif yang dapat dituangkan melalui karya seni lukis.

Minggu pagi di pertengahan April ini sebenarnya tidaklah dirancang secara khusus untuk menyambangi Kandank Jurank. Akan tetapi tanpa angin, tanpa hujan, senja hari sebelumnya tiba-tiba terbetik ide untuk angon bocah-bocah ke tempat Mas Dik tersebut. Akhirnya jadilah minggu pagi itu si Ponang dan Genduk bangun lebih pagi dengan semangat menyambangi Jurangmangu. Kepergian kali ini merupakan ke dua kalinya untuk si Ponang, adapun Genduk baru pertama kali turut jalan minggu pagi yang cukup jauh.

Ketika tiba di Kandank Jurank, nampak sebuah kesibukan persiapan suatu acara. Bersamaan dengan kedatangan kami, nampak pula rombongan ibu-ibu berkerudung juga tengah tiba. Di pelataran utama sisi depan teras sanggar, sudah tertata panggung sederhana dengan segala kelengkapan sound sistemnya. Bahkan sepagi itu, Mas Dik sudah siap di depan mikrofon dan memberikan ungkapan sambutan kepada para hadirin yang mulai hadir mengalir.

Sementara di sudut lapangan futsal, nampak serombongan anak-anak berbaju polos putih-putih dengan sabuk khas di pinggang mereka. Mereka rupanya serombongan murid-murid beladiri dari sebuah perguruan karate. Di panggung bawah kenari nampak pula rombongan berbaju biru muda yang merupakan para karyawan dari sebuah bank swasta.

KDJ2   KDJ3

Menjelang pukul delapan pagi, hadirin berkumpul duduk lesehan di sisi timur dan utara lapangan rumput untuk segera memulai acara. Acara workshop melukis pagi itu sangat istimewa karena akan mengetengahkan sesi melukis dengan cat air. Sebuah gaya melukis yang cukup unik dan sulit mengingat dibutuhkan ketelitian dan kesabaran yang ekstra tinggi untuk melakukannya. Lebih menarik lagi sesi tersebut langsung dipandu oleh para pelukis yang tergabung dalam Ikatan Pelukis Wanita Indonesia.

Di sesi awal, dengan panduan acara secara langsung oleh Mas Dik, tampil Ibu Tio yang sudah berusia 70-an tahun namun masih sangat gesit menarikan kuas cat airnya di atas kertas putih. Sambil memberikan arahan dan tips-tips dalam melukis, ibu penggerak IPWI tersebut terus melukis. Posisi lukisan cat air yang harus senantiasa mendatar untuk menghindari lelehan cat air yang belum kering tidak menyusutkan perhatian para hadirin yang duduk di bawah dan tidak dapat melihat secara langsung proses kreatif yang sedang dilakukan Ibu Tion. Namun demikian, sesekali dengan sangat cepat lukisan yang sedang diproses tersebut diperluhatkan juga kepada hadirin.

Setelah banyak arahan melukis menggunakan cat air dibahas, tibalah saatnya hadirin semua mempraktikan diri untuk melukis. Masing-masing peserta diberikan selembar kertas gambar dan sebuah alas tempat melukis. Tema lukisan tidak ditentukan alias bebas sekehendak hati pelukisnya. Demikian halnya, karena keterbatasan sarana cat air, hadirin justru dibebaskan untuk melukis dengan pewarna krayon maupun spidol.

Sambil terus santai mendengarkan obrolan ringan yang dilontarkan Mas Dik, anak-anak yang berkelompok 5-6 orang terus antusias menggoreskan pensil, spidol atau krayonnya. Ada yang melukis sebuah rumah. Ada yang menggambar ikan di dasar laut dengan segala flora faunanya. Ada yang menggambar kucing. Ada yang menggambar stasiun kereta api listrik lengkap dengan sarana parkir dan beberapa minimarket di sekitarnya.

KDJ4   KDJ5

Si Ponang yang pada awalnya masih sangat malu-malu untuk bergabung dengan teman-teman sebayanya yang lain lambat laut asyik juga terhanyut dalam keseriusan penyelesaian gambarnya. Sebagaimana biasanya, gambar yang dibuat si Ponang menampilkan kesatuan gambar detail yang sarat dengan cerita stasiun versinya sendiri. Maka pada saat waktu menggambar hampir habis, gambar stasiun yang diinginkannya belum selesai dengan tuntas. Beberapa bagian sudah sempat diwarnai dengan krayon, akan tetapi sebagian yang lain msaih menampilkan corak kertas putih polos. Namun demikian, saat gambar  harus dikumpulkan si Ponangpun rela menyerahkannya kepada para juri.

Meskipun tidak meraih juara menggambar di pagi itu, mudah-mudah si Ponang dan Genduk bisa mulai paham untuk mengaktualisasikan kreativitas seni mereka dengan caranya masing-masing. Di samping itu suasana Kandank Jurank yang ramai dengan anak-anak yang hadir juga mampu memberikan kepercayaan diri untuk mencari dan memperbanyak jaringan pertemanan di antara anak-anak yang masih polos dan suci dari dosa-dosa duniawi.

Setelah hampri setengah hari kami menghabiskan waktu di Kandank Jurank, kamipun mengakhiri kunjungan tersebut dengan bersantap mie ayam sambil duduk santai di meja kursi kayu yang meski sederhana tetapi tertata dengan sentuhan seni yang tinggi dan menyentuh hati. Akhirnya kamipun pulang dengan seulas senyum di bibir kami masing-masing. Meski tidak berjanji, si Ponang dan Genduk nampak ingin suatu saat kembali bisa melukis di Kandank Jurank.

Lor Kedhaton, 13 April 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s