Swallow, Produk Asli Indonesia


Mengisi liburan tanggal merah di akhir pekan kemarin, kebetulan si Ponang justru turut menunggui Buliknya yang sedang menjalani persalinan anak ke duanya di salah satu rumah sakit sekitar Parung Bingung. Tentu saja di setiap benak seorang anak yang nampaknya adalah sebuah keceriaan dan keriangan. Terlebih ketika mendapat tambahan seorang saudara sepupu, mereka tentu terhanyut dalam kegembiraan yang tiada tara.

Semenjak siang, petang, bahkan malam hari, si Ponang dan sepupunya yang merupakan kakak dari dédék yang baru terlahir pastinya berasyik masyuk dengan berbagai candaan dan permainan. Mulai dari lari kejar-kejaran lah, petak umpet, hantu-hantuan, dan apapun jenis dolanan yang mereka kreasikan. Jadilah suasana rumah sakit yang semestinya tenang, sunyi senyap, justru menjadi hiruk-pikuk oleh ulah para bedhes tersebut. Tak kurang-kurangnya para orang tua mengingatkan dan menasehati, namun yang namanya anak-anak tentu saja sulit untuk diatur sebagaimana orang yang sudah dewasa. Akhirnya kamipun sekedar memakluminya, tokh sebagai saudara sepupu merekapun jarang-jarang mendapatkan kesempatan untuk berkumpul dan bermain bersama.

Nah dikarenakan keasyikan bermain itulah, dalam salah satu adegan pergulatan terjadilah sebuah intrik tragedi kecil yang menghebohkan karena lebih banyak sisi keulucuannya. Ya, saat tengah asyik dengan derai cekikikan, ndilalahnya sandal si Ponang putus di bagian jepitannya. Namanya juga anak-anak, akhirnya merengeklah ia kepada Bapaknya. Mungkin dunia keceriaan mereka seketika menjadi teramat menyiksa seakan kiamat telah tiba.

Kondisi pada saat itu untuk langsung beli sandal di tempat sekitar memang tidak memungkinkan. Akhirnya untuk sementara waktu, saya sedikit mengakali keadaan tersebut dengan menyambung bagian sandal yang terputus dengan peniti. Menurut perhitungan, dengan sambungan darurat tersebut paling tidak memungkinkan kami untuk berjalan ke warung sebelah dan membeli sandal yang baru.

Cilakanya kok ya tidak ada warung terdekat yang menjual sandal seukuran kaki si Ponang. Terpaksalah kami harus menempuh jarak yang semakin jauh dari lokasi putusnya sandal. Untuk nyangking dan berjalan nyeker, si Ponang nggak mau dan merasa malu. Untuk ditinggal sebentar dan Bapaknya membeli sandal sendiri, iapun tak mau. Akhirnya terjadilah apa yang saya khawatirkan, baru beberapa meter berjalan sambungan darurat dengan peniti yang saya buat terlepas. Jadilah kami sebentar-sebentar berhenti untuk selalu memperbaiki peniti tersebut.

Setelah sempat memasuki dua buah minimarket di pinggiran jalan, namun sandal bocah yang kami jumpai senantiasa berukuran lebih kecil sehingga kekecilan, atau justru malah kebesaran hingga kedodoran di kaki si Ponang. Perjalanan bertambah jauh di tengah terik sinar matahari tengah hari tentu saja sangat menyiksa badan kami.

Pucuk dicinta dan ulampun tiba. Pada sebuah warung di samping penjaja sayur-mayur justru bergelantungan sandal-sandal jepit yang sudah sangat dikenal banyak orang. Tanpa basa-basi dan ba-bi-bu, kamipun langsung menghambur dan memilah-milah gantungan sandal-sandal tersebut. Puji Tuhan Sang Maha Pengasih, ternyata ada salah satu pasang sandal yang ukurannya pas di kaki si Ponang. Sebuah sandal bermerk akrab di telinga, dengan model sederhana, dan tentu saja dengan harga yang semanak pula. Akhirnya berjalanlah si Ponang dengan sandal barunya tersebut. Haripun kembali gembira. Sebagai orang tua, sayapun merasa lega.

Ternyata kemewahan sebuah kebahagiaan sejati adalah sebuah momentum dan detik-detik dimana kita tengah membutuhkan sesuatu dan di saat yang bersamaan itupun sesuatu yang kita butuhkan tersebut dihadirkan Tuhan di hadapan kita. Kebahagian saya justru berlipat ganda tatkala melihat si Ponang memakai sandal sederhana tersebut dengan penuh rasa bangga berbalut rasa syukur yang membuncah.

Di kala sampai kembali di rumah, justru si Ponang dengan bangga sempat memamerkan sandal barunya tersebut sebagai “sandal asli produk Indonesia”. “Ini sandal-sandal yang dipakai para artis lho,” kisahnya kepada ibunya. Iapun menambahkan bahwa di tivi ada turis-turis bule yang memakai sandal ini di bandara lho! Alangkah bangganya ia dengan produk asli Indonesia yang baru dimilikinya. Petang hari tatkala sholat di mushola, sandal baru itupun menemaninya denga penuh kebersahajaan. Demikian tatkala si Ponang turut menghadiri acara tasyakuran dan aqikahnya bayi di tetangga sebelah, sandal itupun turut menghantarkannya. Itulah sandal swallow, sandal asli produk Indonesia kebanggaan si Ponang.

Lor Kedhaton, 6 April 2015

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s