Malu itu Perlu


Alkisah, terceritakanlah seorang mahasiswa kota kembang yang di sela kesibukan kuliahnya bekerja paruh waktu sebagai wartawati sebuah surat kabar. Meski belum menjadi sebuah pilihan profesi yang tetap, tetapi ia menjalani kerja kewartawanannya dengan penuh dedikasi dan idealisme tinggi seolah ia telah menemukan passion yang senantiasa mendorongnya untuk menulis dengan profesional.

Suatu ketika, si mahasiswi mengangkat sebuah tulisan hasil investigasinya terhadap sebuah proyek properti yang mengungkapkan banyak catatan tentang ketidakwajaran. Intinya dalam proyek tersebut terdapat indikasi-indikasi perbuatan melawan hukum dan menimbulkan kerugian negara. Gamblangnya ada dugaan korupsi di dalam pengerjaan proyek tersebut.

Melalui serangkaian wawancara dan investigasi di lapangan yang cukup, si mahasiswi yang wartawati tersebut kemudian mengajuan sebuah tulisan yang membongkar tindakan korup tersebut ke meja redaksi. Selang beberapa hari kemudian, bukannya tulisan otentik hasil investigasinya yang dimuat, namun yang justru terpampang sebagai headline di halaman terdepan koran tempat ia bekerja adalah sebuah tulisan yang sudah dipoles dan dimanipulasi untuk membelokkan fakta. Apakah si wartawati protes?

Tentu saja wartawati tersebut protes kepada pimpinan redakturnya. Sang redaktur memberikan jawaban bahwa pihaknya tidak dapat berbuat apa-apa dengan adanya intervensi dari direktur yang menginginkan korannya tidak menelanjangi proyek properti yang penuh indikasi korupsi tersebut.

Tidak hanya terima sampai di situ, si wartawati menghadap direktur dan menyampaikan protesnya. Kali ini direktur koran tersebut memberikan keterangan yang berputar-putar yang pada intinya korannya butuh para pemasang iklan, dan salah satu kontributor pemasang iklan yang menghidupi koran tersebut adalah perusahaan properti yang diberitakan tersebut. Ketika didesak lebih lanjut mengenai idealisme dan profesionalisme kewartawanan, sang direktur akhirnya mengungkapkan secara gamblang bahwa tidak sebaiknya koran yang ia pimpim berani berseberangan, bahkan melawan, seorang pejabat HS alias Herman Sangkelana. Ia adalah seorang pejabat tinggi di salah satu kementerian.

Mendengar nama berinisial “HS” alias Herman Sangkelana disebut, nampak ada gurajat keterkejutan di wajah si wartawati. Akhirnya ia keluar kantor, kembali ke sebuah rumah tua yang  ditinggalinya selama ini saat kuliah di kota kembang. Tak seberapa lama, ia meluncur mengendarai mobilnya melaju di jalan tol dan tiba di sebuah rumah elit di pinggiran ibukota. Sesaat setelah satpam penjaga pintu membukakan pintu gerbang, tersorot sebuah papan nama di muka rumah tersebut, “Herman Sangkela”.

Pengantar uraian di atas merupakan sebuah prolog kisah Inka, seorang wartawati berdedikasi tinggi yang dikemas dalam Sinetron Wajah Indonesia berjudul “Malu Itu Perlu” yang tayang pada salah satu stasiun televisi Minggu malam, 29 Maret 2014 mulai pukul 23.00 WIB. Lalu bagaimana kisah kelanjutannya?

Tanpa seorangpun tahu bahwa Inka si wartawati tadi ternyata adalah anak ke dua dari Herman Sangkelana. Dalam dialog singkat pada malam hari ketika ayahnya akan berdinas luar ke Bangkok bersama ibu dan kakaknya, ia sempat memberikan beberapa sindiran mengenai perilaku ayah dan keluarganya yang memanfaatkan fasilitas kenegaraan dengan mengajak keluarga pada saat berdinas luar negeri. Pembicaraan juga sedikit mengarah kepada kasus proyek perusahaan properti milik ayahnya tersebut.

Sejuta persaan gelisah bergojak di dada dan otak Inka. Secara naluriah ia tentu saja sangat sayang kepada ayah, ibu dan kakaknya. Akan tetapi naluri dan hati nuraninya sangat tidak menyetujui dengan tindakan korup oleh siapapun. Tanpa sepengetahuan ayah dan kakaknya yang juga terlibat dalam proyek properti penuh tindak korupsi tersebut, di tengah malam Inka menyelinap ke ruang kerja ayahnya dan mengkopi semua data laporan proyek properti yang heboh tersebut.

Singkat cerita, idealisme Inka menuntunnya untuk terus melanjutkan investigasi perihal penyimpangan proyek properti milik ayahnya yang juga seorang pejabat negara tersebut. Di luar dugaannya, rekan-rekan wartawan dan juga senior redakturnya memberikan dukungan penuh pada saat ia disidang di hadapan direktur yang memojokkan Inka dan berkeras untuk menghentikan ulah berbahayanya. Akhirnya dewan redaksi, melalui voting, memutuskan kasus properti tersebut harus diungkap melalui tulisan untuk mendorong penegak hukum menindaknya.

Dengan picuan berita yang ditulis, berbagai koran dan media lain semakin menyorot kasus properti yang dicurigai merugiakan keuangan negara tersebut. Hal ini mendorong aparat penegak hukum untuk segera turun tangan. Akhirnya, Herman Sangkelana diadili dan mendapatkan hukuman pidana penjara 15 tahun.

Sebuah pilihan berat telah diambil Inka, ia tetap menuruti hati nurani betapapun hal itu berakibat sangat berat bagi keluarganya. Kepentingan negara dan rakyat harus diutamakan di atas kepentingan pribadi dan keluarganya. Betapa HS sangat marah dan mendendam ketika mengetahui bahwa yang membawanya ke penjara adalah anak kandungnya sendiri. Bahkan ketika ia sudah di dalam sel penjara, ia enggan bertemu ketika Inka membesuknya. Semua tentu terasa sangat pahit dan getir di hati Inka.

Di akhir cerita, melalui doa dan kepasrahan kepada Tuhan, dikisahkan Herman Sangkelana akhirnya mau menemui Inka. Dalam sebuah percakapan yang teramat dalam, HS mengungkapkan kesadarannya bahwa ia akhirnya sadar bahwa ialah yang telah keliru dan tidak bisa bertanggung jawab terhadap keluarganya dengan memberi nafkah melalui jalan yang haram. Akan tetapi Inka telah menyelamatkan dirinya dan keluarganya. Penjara dunia ada jangka waktu  akan berakhir, tetapi penjara akhirat akan abadi sepanjang masa. HS sangat berterima kasih dan bangga memiliki Inka. Inilah akhir kisah sinetron Malu Itu Perlu.

Sinetron Malu Itu Perlu, merupakan sebuah kritik cerdas terhadap fenomena perilaku korup yang kian merajalela di negeri ini. Tidak hanya dilakukan secara mandiri oleh seseorang, banyak tindakan korupsi yang melibatkan secara langsung maupun tidak langsung semua anggota keluarga sebagaimana proses pencucian uang yang sering dipakai sebagai kedok korupsi. Di sinilah pesan moral yang sangat dalam ingin disampaikan bahwa setiap anggota keluarga memiliki peran untuk saling mengingatkan satu sama lain agar jangan sekali-kali korupsi karena terkadang dorongan atau bisikan korupsi juga bisa berasal dari dalam sebuah rumah tangga.

Sinetron ini dibintangi oleh Ayudia Bing Slamet dan Rahman Yacob.

Lor Kedhaton, 30 Maret 2015

Foto dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Sastra dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s