Renungan Nasib Nasi Basi


Pagi-pagi menjelang terbit fajar, seorang tetangga sebelah yang hendak berangkat kerja berpapasan dengan seorang tetangga yang lain. Tetangga yang lain tersebut tergopoh-gopoh membopong sepanci sisa nasi. Ia rupanya hendak “membuang” nasi sisa tersebut di kandang samping pekarangan yang menjadi basecamp beberapa jenis unggas, seperti ayam dan menthok.

Membuang sisa nasi, nampaknya hanya sebuah peristiwa biasa. Toh banyak rumah tangga, terlebih warung makan dan restoran yang pasti menyisakan nasi basi yang kemudian mesti dibuang. Akan tetapi coba kita bayangkan jika nasi sebakul lebih dibuang dari sebuah keluarga yang sekedar menyandarkan hidupnya dari seorang kepala rumah tangga yang berprofesi sebagai tukang ojek!

Saya, tetangga saya, maupun Anda tentu tidak bisa mengetahui latar belakang peristiwa pembuangan nasi basi sepanci atau sebakul tersebut. Tanpa bermaksud berburuk sangka terhadap keluarga tukang ojek tersebut, tetapi mungkin timbul pertanyaan di benak kita, alangkah sayangnya nasi sebanyak itu kok sampai menjadi nasi basi yang harus dibuang? Apakah memang masaknya kebanyakan? Ataukah nasi tersebut sekedar pemberian dari orang lain yang karena satu dan lain hal tidak sempat tersentuh untuk dimakan?

Namun demikian kita juga tentu sangat menyayangkan apabila di tengah masyarakat tanah air yang belum sepenuhnya bisa makan tiga kali sehari, masih sulit bisa membeli beras sekedar untuk kebutuhan satu-dua hari, kok ada nasi terbuang percuma. Dimanakah rasa syukur kita seandainya kebetulan kita diberikan rejeki sehingga bisa menghidangkan sebakul nasi untuk keluarga kita sehari-harinya? Sejauh apakah kita menghindarkan diri dari sifat dan sikap kemubadziran? Dari sudut nalar yang manakah kita bisa membenarkan sebuah keluarga yang hidup pas-pasan dari penghasilan yang juga pas-pasan namun gagah berani “membuang” nasi basi? Kenapa sampai ada nasi basi?

Pertanyaan-pertanyaan retoris tersebut tentu saja bukan pula bermaksud memberikan pembenaran kepada suatu keluarga kaya raya yang sudah tercukupi semua kebutuhan hidupnya, bahkan mungkin bergaya hidup mewah, untuk abai terhadap kenikmatan rejeki yang dilimpahkan Tuhan dan boleh membuang nasi sembarangan.

Bukankah kearifan masyarakat kita juga telah mengkreativitaskan diri mengolah sisa nasi menjadi nasi goreng, kerupuk gendar juga menjadi intip goreng yang sangat lezat di lidah kita? Kreativitas tersbeut justru merupakan hasil olah pikir dan olah rasa manusia kita untuk lebih mengoptimalkan kenikmatan Tuhan sampai titik yang setinggi-tinggi untuk tetap menjaga rasa syukur akan karunia-Nya. Mungkin banyak diantara kalangan masyarakat kita yang belum meresapi hal-hal kecil seperti ini.

Dari fragmen peristiwa kecil ini saya hanya ingin sekedar bercermin dan mengajak pembaca semuanya untuk merenung diri sejenak. Apakah karunia kenikmatan Tuhan telah kita syukuri dengan sesungguh-sungguhnya antara lain dengan mendayagunakan kenikmatan tersebut dengan sebaik-baiknya demi kemaslakhatan bersama danmenghindarkan diri dari sikap boros dan tindakan mubadzir?

Saya sempat membayangkan andaikata menjadi sesuap atau sebulir nasi putih yang tercipta melalui proses evolusi penggemblengan yang teramat panjang dan berat, dari bulir gabah ditumbuk, digesek, digiling hingga kemudian telanjang menjadi beras putih nan suci. Sebelum ditanak, beras itu harus diguyur air dan “dipususi“, dicuci dan diperas bersih untuk menghilangkan segala sisa kotoran yang melekat padanya. Sehabis itupu bulir-bulir beras  menjalani peristiwa “perliwetan” dimana ia terendam dan tenggelam dalam gelegak air mendidih yang sekaligus panas untuk menjelmakan diri menjadi nasi.

Sekedar sebagai makhluk Tuhan yang senantiasa patuh kepada setiap titah perintah-Nya, nasi-nasi itu, semenjak dari gabah hingga beras dan nasi, telah menjalani proses penderitaan dan penggemblengan untuk menjalankan perintah yang bermuara kepada pengenyangan perut manusia yang lapar. Ia tengah menunaikan tugas untuk menjaga keberlangsungan hidup para manusia melalui nutrisi yang dikandung dan disarikannya dari sari pati bumi dan energi alam.

Nasi-nasi itu akan dianggap berguna dan berhasil menjalankan amanat Tuhan-Nya hanya dan apabila hanya nasi-nasi tersebut benar-benar memberikan asupan tenaga ke dalam tubuh manusia untuk menggerakkan manusia menunaikan tugas-tugas kebajikan. Maka jika nasi memang telah menjadi nasi, nasi menjadi lebih berhak untuk disantap manusia dibandingkan disantap ayam, menthok, maupun jenis unggas dan binatang yang lainnya. Kalaupun sekedar untuk dikonsumsi unggas, gabah tidak perlu digembleng, ditempa, dan diolah dengan pukulan, gesekan, guyuran, rebusan, hingga menjadi wujud nasi. Tokh ayam dan menthok sudah doyan dan cukup mencerna gabah. Sekali lagi ini hanya sebuah perenungan yang bisa jadi tidak ada ujung-pangkalnya. Semua kembali ke nurani kita masing-masing.

Lor Kedhaton, 26 Maret 2015

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s