Menulis Membentuk Pekerti


Menulis mungkin sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari aktivitas kita sehari-hari. Seiring dengan kemajuan teknologi, mulai dari mesin ketik manual, mesin ketik elektronik, hingga komputer yang jauh lebih canggih, kita semakin dimanjakan sehingga semakin jarang menulis langsung dengan tangan kita. Sekedar mencatat hal-hal kecil dan khusus, mungkin kita memang masih menulis tangan. Selebihnya, kita sudah terbiasa menulis dengan mesin tulis.

Di masa kecil, mulai semenjak berkenalan di bangku sekolah taman kanak-kanak, kita tentunya sudah diperkenalkan kepada menulis dengan tangan. Di masa awal keberadaaan kita di sekolah dasar, justru saya sempat mendapatkan pengajaran khusus yang berkaitan dengan keahlian menulis tangan. Menulis ternyata tidak sembarangan hanya sekedar menulis. Menulis merupakan sebuah keahlian, bahkan seni, yang menjadi wajib untuk dipelajari dalam ilmu menulis halus.

Menulis halus merupakan mata pelajaran yang khusus mengajarkan menulis tangan. Karena pelajarannya menulis halus, maka buku tulis yang dipergunakan juga buku tulis khusus yang sering disebut sebagai buku halus. Buku halus memiliki baris garis berukuran lebar dan sempit. Garis tersebut menjadi pemandu dalam menggoreskan pena untuk membentuk huruf yang proporsional besar-kecil maupun tinggi rendahnya. Di samping soal proporsional besar-kecil dan tinggi-rendahnya hurus yang ditulis, hal yang tidak kalah pentingnya dengan pelajaran menulis halus adalah tebal-tipisnya kehalusan garis-garis aksara yang membentuk tulisan.

Tebal-tipis garis aksara ini sangat erat kaitannya dengan arah gerakan pena pada saat kita menorehkan tinta. Pada saat arah pena ke atas, pena sedikit harus diambangkan sehingga garis yang tertoreh semakin tipis. Sebaliknya, pada saat arah pena membentuk garis aksara ke arah bawah, bersamaan dengan gerakan tersebut justru tekanan pena pada permukaan kertas harus ditambah sehingga terbentuk guratan garis aksara yang lebih tebal. Di sinilah seni menulis halus menjadi gampang-gampang susah untuk dijalani.

Kini seiring dengan perkembangan teknologi dan juga dinamika kurikulum anak sekolah yang sering berganti-ganti, sebagai orang tua wali murid si Ponang yang baru duduk di bangku kelas satu sekolah dasar, saya merasa soal kemampuan anak dalam menulis tangan sedikit terabaikan untuk tidak mengatakannya sama sekali tidak menjadi perhatian. Berbeda dengan keberadaan mata pelajaran menulis halus di masa lalu, kini pelajaran tersebut sudah ditelan jaman. Bahkan sekedar menulis huruf dengan cara yang benarpun sangat kurang mendapatkan bimbingan dari para guru. Semenjak usia taman kanak-kanak, anak justru lebih digenjot untuk bisa lancar membaca. Hal ini terformalkan dalam pola atau metode calistung, baca-tulis dan hitung.

Memang tidak ada yang salah dengan metode calistung, akan tetapi porsi perhatian dan panduan menulis sangat minimalis. Hal ini mungkin perlu mendapat perhatian bersama dan menjadi bahan perenungan yang mendalam bagi kita semua, terutama insan pemerhati dunia pendidikan anak.

Menulis halus alias menulis tangan, sebenarnya bukan semata-mata membekali anak didik dengan kemampuan menulis secara tepat, benar, dan cepat. Sebagaimana istilah menulis halus, di dalam proses menulis halus terdapat unsur untuk membentuk kehalusan budi pekerti siswa. Ada banyak nilai luhur yang sekaligus ditanamkan pada proses menulis halus, mulai ketelitian, kesabaran, kelembutan, keindahan, hingga keruntutan penalaran dan pola pikir. Proporsional besar-kecilnya aksara, tebal-tipisnya kontur garis aksara, tegak lurus ataupun kemiringan huruf yang konsisten merupakan proses penajaman pola pikir, ucapan, serta sikap yang akan membentuk ketrampilan sekaligus menunjang kecerdasan emosional seorang anak didik.

Secara tidak langsung, sebagai orang tua yang pernah mendapatkan pelajaran menulis halus di masa lalu, kita bisa membandingkan bentuk tulisan tangan kita dengan anak-anak di masa kini. Bahkan terhadap generasi guru-guru yang mendapat didikan jaman Belanda maupun orde lama, tentu sangat jauh bedanya. Betapa rapi dan indahnyanya tulisan generasi terdahulu. Tebal-tipis, tegak-miring, hingga besar kecilnya mengesankan kerapian yang sekaligus mengesankan kewibaan dan karakter penulisnya. Sebaliknya tulisan anak masa kini, banyak sekali yang mengabaikan kaidah penulisan huruf secara benar, sehingga sama sekali tidak memunculkan sebuah keindahan. Bisa diistilahkan tulisan anak masa kini bagaikan cekeran pitik yang sekedar terbaca saja sulit. Boro-boro kewibawaan dan karakter penulisnya, sekedar bicara tulisan rapi saja sangat jauh panggang daripada api.

Jikapun anak-anak kita tidak mendapatkan pembelajaran menulis halus sebagaimana jaman sekolah kita di masa lalu di sekolah mereka, apakah kemudian kita sebagai orang tua berlepas tangan dan masa bodoh dengan keadaan. Alangkah baiknya jika di rumah orang tua sedikit meluangkan waktu untuk mengajari dan mendampingi anak-anak kita mengenai bagaimana menulis halus. Bukankah sarana penunjang menulis halus yang berupa buku halus masih banyak di jual di sekitar kita? Mempertimbangkan berbagai manfaat yang bisa ditanamkan dalam proses menulis halus, teramat sayang jika anak-anak generasi penerus masa depan tidak mengenal seni menulis halus yang sekaligus membentuk sikap dan budi pekerti yang halus, lembut, penuh welas asih dan kasih sayang.

Tidak ada salahnya kita memungut kembali bagian masa lalu yang sudah dianggap using dan kuno namun masih sangat relevan dengan pewarisan nilai atau budi pekerti luhur untu anak cucu di masa depan. Bagaimana menurut Sampeyan?

Lor Kedhaton, 24 Maret 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Sastra dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s