Petani Menagih Janji


Heboh soal traktor? Jika kita menyimak beberapa pemberitaan beberapa hari terakhir di berbagai media massa tanah air, ada hal menarik mengenai traktor bantuan Presiden. Beberapa bulan di masa awal pemerintahannya, Presiden Jokowi menginstruksikan penghematan anggaran di berbagai instansi pemerintah. Anggaran yang dihemat di Kementerian Pertanian, diantaranya kemudian diwujudkan dalam bentuk traktor yang siap diberikan kepada para petani untuk memacu swasembada beras nasional.

Kala itu seremonial penyerahan traktor yang konon berjumlah 1300 itu nampak sangat gegap gempita. Deretan traktor-traktor baru yang masih kinyis-kinyis memenuhi suatu lapangan, bahkan meluber di jalanan tempat acara tersebut. Beberapa perwakilan kelompok tani kemudian didaulat untuk menerima bantuan traktor tersebut secara simbolik.

Kini beberapa bulan berselang, muncul beberapa polemik di beberapa daerah yang berkaitan dengan bantuan traktor tersebut. Di sebuah tivi swasta bahkan menayangkan pemberitaan mengenai penarikan traktor dari suatu kelompok tani oleh pihak suplier. Terang saja hal tersebut menjadikan mereka kecewa dan mempertanyakan kesungguhan kebijakan bantuan traktor tersebut.

Dalam pemberitaan  yang lain, Presiden sempat memberikan klarifikasi bahwa sejumlah 1300 traktor tahap pertama akan diberikan kepada para petani melalui kelompok tani masing-masing. Pada saat pencanangan bantuan tersebut, sengaja semua traktor dijejer untuk memastikan apakah jumlahnya benar-benar 1300. Ia tidak ingin membuat upacara simbolik dengan penyerahan beberapa traktor saja. Traktor yang memang masih terbatas untuk diberikan kepada seluruh kelompok tani yang ada di Indonesia tentu saja belum merata seluruhnya. Itupun sehabis acara, traktor-traktor tersebut ya segera diangkut lagi dengan truk menuju ke berbagai wilayah kabupaten/kota yang telah memiliki jatah bantuan. Jadi traktor tersebut bukan diangkut lagi ke pabrik rekanan untuk sekedar pameran. Benarkah demikian? Benarkah tidak ada penarikan traktor yang telah diserahkan sebelumnya?

Sebagai negara agraris yang sebagian warganya masih menggantungkan penghidupannya dari sektor pertanian, petani adalah tulang punggung negeri ini. Petani menanam padi, sayur-mayur, palawija, juga berbagai buah-buah, utamanya adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Meskipun beberapa komoditas kebutuhan tersebut diimpor dari negara lain, akan tetapi pasokan utama tetap berasal dari para petani di dalam negeri. Tetapi benarkan nasib petani telah menjadi perhatian sungguh-sungguh dari pemerintah jika memang kita semua sepakat bahwa petani adalah tulang punggung negeri ini?

Petani sebagai mayoritas warga negeri ini, selama ini mungkin masih sebatas menjadi komoditas politik yang hanya diperlukan dan dielu-elukan pada saat dibutuhkan suaranya pada saat kampanye wakil rakyat maupun pemilihan presiden atau kepala daerah. Mereka senantiasa dijanjikan akan menikmati bantuan sarana produksi, benih, pupuk, peralatan pertanian, juga pembangunan sarana irigasi dan bendungan untuk menunjang kegiatan pertanian. Dengan janji tersebut, pertanian akan lebih maju, panen akan lebih berlimpah dan para petani akan menikmati kehidupan yang lebih sejahtera.

Berbicara dengan janji-janji, terutama dari pemerintah pusat, saya jadi teringat beberapa janji di masa lalu yang hingga kini masih tetap menyisakan banyak pertanyaan. Pada saat gempa dahsyat menimpa saudara-saudara kita di Bantul sepuluhan tahun lalu, para korban yang notabene kebanyakan diantaranya adalah para petani mendapatkan janji dana bantuan rahabilitasi rumah. Tidak main-main, jumlahnya puluhan juta rupiah yang tentu saja sangat berarti bagi kantong keluarga petani. Namun apakah semua petani korban gempa tersebut benar-benar mendapatkan realisasi janji tersebut secara adil dan merata?

Lima tahun silam, pada saat ribuan petani di lereng Merapi mengalami kerugian akibat erupsi Gunung Merapi, merekapun mendapatkan janji bantuan mulai dari bibit anakan sapi, bibit pohon salak, termasuk juga sarana prasarana penunjang pertanian. Namun kembali fakta memperlihatkan bantuan tersebut belum benar-benar dirasakan dan menyentuh semua petani secara merata.

Janji bisa jadi menjadi pengharapan yang dapat memacu semangat bagi siapapun untuk lebih giat dalam bekerja. Janji bagi para petani bisa menjadi penggerak mereka untuk lebih giat, tekun, dan bersungguh-sungguh untuk meningkatkan produktivitas pertanian mereka. Akan tetapi, sebuah janji yang tidak sepenuhnya terwujud sebagaimana harapan yang telah tertanam justru bisa menjadi bumerang yang dapat mematahkan semangat.

Menimbang janji memiliki dua sisi buah simalakama, maka alangkah eloknya bila pemberi janji benar-benar berusaha dengan kesungguhan daya dan upayanya untuk amanah mewujudkan janjinya. Di sisi lain pihak yang diberi janji, akan lebih bijak apabila tidak sepenuhnya terlena dengan kenikmatan sebuah janji sehingga terus menanti pengharapan-pengharapan yang bisa jadi tidak terealisasi. Bagaimanapun sedulur petani sudah teruji dengan tempaan berbagai cuaca dan musim kenyataan yang penuh pahit getir perjuangan dan tidak akan mengkerdilkannya untuk berpangku tangan menunggu bantuan pemerintah. Swadaya, swausaha, swakelola, adalah bentuk kemandirian yang menempatkan petani sebagai barisan manusia merdeka di negeri ini. Jaya mulya untuk petaniku. Salam merdesa!

Lor Kedhaton, 19 Maret 2015

Foto dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s