Rawat Ruwat Buku


Kata rawat dan ruwat memang mirip. Tidak hanya dari segi pengucapan, makna rawat dan ruwatpun sedikit mirip. Andaikan anak-anak yang terlahirkan secara kembar, pasti rawat dan ruwat ini merupakan kembar siam yang dempet menyatu jiwa dan raganya semenjak proses pembuahan membuahkan embrio dan berkembang menjadi janin untuk kemudian lahir ke dunia nyata.

Rawat merupakan suatu kegiatan untuk memelihara sesuatu dengan tujuan fungsi atau kegunaan sesuatu yang dirawat tersebut tetap dapat berlangsung atau berlangsung lebih lama lagi, awet dan tidak mudah rusak, bahkan nilai guna dan fungsinya syukur-syukur bisa bertambah. Handphone perlu dirawat agar terus bisa digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh. Kita mandi setiap hari juga dalam rangka merawat tubuh kita agar tetap terjaga kebersihannya, tetap sehat dan terhindar dari berbagai ancaman penyakit, di samping tentu saja harapan setiap orang agar diberikan umur panjang. Demikian halnya dengan makan, minum, tidur.

Bahkan soal perawatan tubuh, dengan semakin majunya jaman, ada banyak jenis perawatan yang mengkhususkan terhadap organ tubuh tertentu yang semakin detail dan rumit. Ada perawatan kuku, rambut, gigi, kulit, dll. Dan semakin spesifik suatu perawatan, nampaknya semakin memerlukan biaya yang semakin tidak murah.

Di luar perawatan terhadap tubuh manusia, tentu saja kita juga mengenal berbagai jenis perawatan. Seperti tadi sudah kita contohkan ada perawatan handphone, ada pula perawatan rumah, motor, mobil, hingga perawatan jalan dan jembatan. Jika kita cermati lebih mendalam, semua jenis perawatan yang telah saya sebutkan senantiasa berhubungan dengan sisi fisik atau jasmani suatu benda.

Lain rawat, lain pula ruwat. Jika rawat dengan kata perawatannya lebih menitik-beratkan terhadap pemeliharaan tubuh, jasmani, fisik, atau setiap hal yang kasat mata, maka ruwat nampak lebih menyentuh sisi ruhaniah alias hal-hal yang tidak kasat mata. Ruwat dan ruwatan lebih memiliki nuansa ruhaniah dan batiniah yang juga merupakan bagian dari sisi kehidupan manusia. Ruwat atau ruwatan lebih berdimensi peristiwa sosial budaya yang berkaitan erat dengan adat tradisi suatu kelompok masyarakat.

Tulisan kali ini sebenarnya tidak dalam rangka membandingkan, terlebih mengkontradiksikan, makna rawat dan ruwat. Rawat dan ruwat justru saling memperkuat dan melengkapi satu sama lain sebagaimana manusia memiliki dimensi jasmani dan ruhani, jiwa dan raga, lahir dan batin.

Sebagaimana judul yang telah saya tuliskan, sebenarnya saya hanya ingin cerita soal rawat-ruwat buku. Sebagai ummat yang diperintahkan untuk senantiasa membaca ayat, sayapun kemudian berusaha membiasakan diri untuk membaca salah satu bentuk ayat tersebut dengan membaca buku literatur berbagai hal. Buku merupakan jendela dunia. Dengan buku pengetahuan kita menjadi lebih terbuka dan beragam. Hal inilah yang sangat membantu kita untuk menemukan kemudahan-kemudahan dalam menjalani perjalanan kehidupan.

Meskipun dengan keterbatasan keuangan, semenjak pertama kali kerja dan mendapatkan gaji sendiri, saya berusaha untuk rutin membeli buku sebagai bahan bacaan. Membaca kemudian menjadi sebuah rutinitas yang sebisa mungkin tidak pernah saya tinggalkan. Menyadari keterbatasan kantong, saya lebih sering membeli buku diskonan di acara-acara pameran buku. Tidak harus sebuah buku baru, tetapi sekedar buku yang belum pernah saya baca dan terasa menarik untuk dibaca, sering menjadi kriteria utama dalam membeli buku. Banyak sekali buku obralan seharga 5 ribu atau 10 ribu rupiah yang saya koleksi. Buku seolah menjadi aset kekayaan yang kami miliki di rumah kami.

Seiring dengan perjalanan waktu, lambat laun tanpa terasa ratusan buku telah berjajar memenuhi beberapa rak kayu sederhana di rumah kami. Tidak ada perawatan secara khusus terhadap buku-buku tersebut. Sesekali kami memang memindahkan atau mengatur ulang buku dari satu sisi rak ke sisi rak yang lain. Paling banter, terhadap debu-debu yang melekat nakal di permukaan atau kulit buku, ya kami sekedar membersihkannya dengan sulak atau kemoceng.

Nah, sayangnya ruangan rumah kami yang sempit tidak memungkinkan tempat yang leluasa untuk menempatkan buku yang kian hari kian bertambah. Bersamaan dengan musim penghujan yang belum usai, cilakanya kami kurang menyadari kondisi rak buku yang lembab oleh udara yang berganti panas dan dingin secara cukup ekstrim. Keadaan bertambah gawat, tatkala ketika sedikit menata buku justru kami menemukan remah-remah sisa makanan berbelatung yang menempel di atas beberapa buah buku. Seketika bau busuk menyengat menusuk hidung yang membuat nafas harus ditahan sedalam-dalamnya.

Usut-punya usut, ternyata rumah kami tengah kemasukan tikus nakal yang semakin gans berulah di malam hari. Salah satu ulah nakalnya yang makan dan kencing sembarangan, termasuk di buku-buku yang berjajar di rak kayu kami tersebut. Akhirnya dua hari liburan akhir pekan minggu lalu, kami disibukkan kerja bakti untuk bebersih buku-buku dan rak bukunya. Tidak cukup hanya dengan mengelap atau menghilangkan debu-debu, lembaran buku-buku yang menjadi lembab dan lengket antar halamannya membutuhkan pengeringan. Akhirnya dua hari tersebut kami menggelar tikar di depan rumah untuk menjemur sekian ratus buku.

Kejadian akhir pekan kemarin memberikan kesadaran baru kepada kami serumah bahwa buku memerlukan sentuhan perawatan dari pemiliknya. Tidak hanya sekedar menempatkannya di almari atau rak buku, kondisi buku yang dipengaruhi lingkungan sekitar juga senantiasa harus mendapat perhatian. Mungkin menjemur buku harus dilakukan secara rutin untuk kondisi ruang di rumah kami yang tidak memiliki sistem sirkulasi yang memadai. Titik peristiwa ini juga menjadi momentum keluarga kami untuk melawan dan memberantas tikus nakal bin rakus di rumah kami. Tidak hanya bersih secara fisik, bersih mental dan ruhaniah kita juga harus dikerjakan bersamaan. Inilah momentum rawat dan ruwat buku di rumah kami.

Lor Kedhaton, 16 Maret 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Ngisor Blimbing dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s