Hanacaraka Datawaluya


Si Ponang yang masuk SD di tlatah wilayah Banten, tentu saja tidak menerima pelajaran bahasa Jawa sebagai mata pelajaran muatan lokal sebagaimana yang diberikan di SD-SD yang ada di Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Namun demikian, dikarenakan semenjak lahir dan hingga kini bahasa Jawa masih merupakan bahasa resmi di praja Ndalem Ngisor Blimbing, maka sedikit-sedikit ia juga mengenal beberapa hal yang berkaitan dengan bahasa Jawa, termasuk aksara Jawa.

Melalui sebuah dongeng pengantar tidur yang mengisahkan Raja Ajisaka tatkala berangkat ke medan perjuangan dimana salah satu abdi ditinggalkannya di istana dan seorang abdi lainnya dimintanya mengikuti atau mengawal kepergiaannya. Merekalah Dora dan Sembada. Kepada abdi yang ditinggal diperintahkannya untuk menjaga keris pusaka di dalam istana. Kepadanya ia berpesan bahwa jika bukan dirinya yang mengambil keris, siapapun harus dihalangi bahkan dibunuh. Maka pergilah Raja Ajisaka dengan dikawal abdi dalem yang satunya lagi.

Nah pada saat menghadapi kegentingan di medan laga, segala daya upaya dan kesaktian sudah dikeluarkan oleh sang raja untuk menghadapi musuhnya. Akan tetapi hingga detik terakhir ia belum berhasil mengalahkan sang musuh. Justru semakin terlihat kekuatan musuh yang semakin membadai dan membuat Ajisaka terdesak. Ia berpikir cepat bahwasanya hanya keris pusakanyalah yang dapat diandalkan untuk memberantas lawan. Maka ia perintahkan abdi pengikut setianya untuk kembali ke istana dan mengambil pusaka untuk dibawa ke medan laga.

Setibanya di istana, abdi pengawal yang baru kembali dari medan laga menyatakan maksudnya kepada abdi penjaga pusaka. Ia katakan bahwa Raja Ajisaka dalam keadaan terdesak sehingga memerintahkannya untuk kembali dan mengambil pusaka. Namun abdi penjaga pusaka tidak serta mempercayai. Ia teringat pesan Raja Ajisaka bahwa siapaun tidak diperkenankan mengambil atau membawa pusaka istana, selain sang prabu sendiri. Demi kesetiaan kepada Ajisaka, bahkan ia rela untuk mengorbankan jiwa dan raga.

Perselisihan dan perdebatan diantara dua abdi setia Ajisaka berkembang menjadi perkelahian diantara keduanya. Dikarenakan kesaktian masing-masing abdi tersebut seimbang, maka perkelahian berlangsung sangat sengit dan berlangsung berlarut-larut lamanya. Segala macam ketrampilan telah dikerahkan, namun tidak nampak sama sekali ada pihak yang terdesak. Sekian lamanya perkelahian berlangsung, satu per satu sayatan luka mendarat di badan masing-masing abdi tersebut. Tatkala keduanya sampai di puncak kemampuan olah kanuragan mereka, dengan luka-luka yang sangat parah keduanya akhirnya mati sampyuh, tewas secara bersamaan.

Terlalu lama mengutus abdi pengawalnya untuk pulang mengambil pusaka, Ajisaka akhirnya pulang ke istananya. Namun ia sangat terkejut ketika kedatangannya justru disambut dengan berita kematian kedua abdi setianya, Dora dan Sembada. Dengan perasaan sedih yang mendalam, ia bergumam ha-na-ca-ra-ka, da-ta-sa-wa-la, pa-da-ja-ya-nya, ma-ga-ba-tha-nga. Ada dua utusan yang satu sama lain saling berselisih hingga berkelahi habis-habisan. Keduanya sama-sama sakti, hingga keduanya menjadi banten atau mayat bersama-sama.

Ha-na-ca-ra-ka, da-ta-sa-wa-la, pa-da-ja-ya-nya, ma-ga-ba-tha-nga. Dua puluh aksara inilah yang kemudian dikenal sebagai aksara Jawa hingga hari ini.

Nah, lha kok judul yang di tulis di atas hanacaraka-datawaluya. Begini sedulur, sehubungan dengan fasihnya si Ponang membawa Tiga Manula yang berkeliling Pantura hingga Jawa Selatan, ia terus terngiang nama-nama Mbah Sanip, Mbah Waluyo dan Koh Liem. Dari sinilah ia terpeleset tatkala melafalkan datasawala menjadi satawaluya. Wuaduh, benar-benar berabe bin sontoloyo! Namun benar-benar lucu bin wagu dan membuat perut saya sakit akibat kebanyak ngakak mendengar celotehan anak lanang tersebut. Jagad-jagad!

Ngisor Blimbing, 14 Maret 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s