Empat Hari Tiga Malam di Kuala Lumpur(10)


Little Indian

Batu Cave2Perjalanan dolan-dolan ke Kuala Lumpur awal tahun kemarin memang perjalanan liburan keluarga kami ke luar negeri yang pertama kali. Terlebih bagi si Ponang dan si Genduk, pengelanaan tersebut juga merupakan penggunaan passport yang sering terplesetkan menjadi password ke luar negeri.

Dalam perjalanan semenjak berada di dalam pesawat yang membawa kami, ada suatu hal unik yang menarik untuk dituliskan. Hal unik tersebut berkenaan dengan keberadaan para bocah yang kebetulan naik pesawat yang tidak terlalu penuh penumpangnya. Bisa dibilang penerbangan kala itu justru didominasi oleh para penumpang bocah. Dan kebetulan sekali, penumpang yang berada di belakang kursi kami juga seorang ibu-ibu wanita berkebangsaan India yang kebetulan juga membawa anak balitanya.

Nah di sinilah terbukti dengan sangat sahih bahwasanya diantara sesama anak manusia sebenarnya memiliki kesamaan metode komunikasi yang melewati batasan-batasan bahasa verbal. Khusus dalam perjalanan kami, diantara si Genduk dan si Little India seolah langsung nyambung bin connect melalui bahasa bocah lintas bangsa, lintas negara, bahkan lintas benua. Diantara keduanya seolah langsung terjalin pola komunikasi yang sangat intensif dan dinamis. Melalui tatapan  mata dan bahasa tubuh, masing-masing mengekspresikan sebuah maksud dan di saat yang sama teman komunikasinya langsung memberikan tanggapannya. Sepanjang perjalanan penerbangan itu akhirnya jadi penuh dengan candaan, tertawaan, dan teriakan dua bocah.

Perkenalan si Genduk dengan si Little India di pesawat yang membawa kami memang segera berakhir tatkala kami tiba di bandara KLIA. Dengan say good bye ala kiss bye, kedua bocah lain bangsa tersebut berpisah. Kami sekeluarga bergegas menuju stasiun KLIA Ekpress, sedangkan keluarga India tersebut menggunakan moda transportasi yang lain.Little IndiaSebagaimana kita ketahui, bangsa Malaysia terdiri atas rumpun etnik Melayu, India dan China. Masing-masing anak bangsa tersebut tentu saja memiliki adat-istiadat, tradisi dan budayanya masing-masing. Demikian halnya secara historis, mereka berkelompok mendiami suatu kawasan tertentu yang menjadi bagian sebuah komunitas bangsa Malaysia. Meskipun penyebaran masing-masing anak bangsa tersebut relatif merata, tetapi sebagai awal asal-usul sejarah, masyarakat China terkonsentrasi di Pecinan atau China Town, sedangkan masyarakat India menempati kawasan yang dikenal sebagai Little India.

Salah satu kawasan Little India yang tersohor di Malaysia adalah kawasan Kuil Batu Cave di pinggiran utara KL. Dengan menumpang commuter train dengan tarif RM3 saja, keluarga kamipun kesampaian berada di Kuil Batu Cave. Di kawasan yang merupakan tempat persembahyangan yang sangat disucikan oleh ummat Hindu ini pengunjung bisa menikmati keindahan kuil yang berada di dalam sebuah gua pada sebuah dinding bukit. Deretan tangga yang menanjak mengantarkan pengunjung maupun ummat Hindu yang ingin melakukan puja bakti kepada Dewa Murugan. Keindahan dan keunikan kuil bisa dinikmati melalui tampilan arsitektur bangunan kuil dan sudah pasti ikon patung raksasa Dewa Murugan berwarna kuning emas setinggi lebih dari 50 meter.Batu Cave1Di samping menikmati pemandangan dan bangunan kuil yang spektakuler, suasana hiruk-pikuk warga Hindu yang berbaur dengan pengunjung juga sangat menarik untuk dicermati. Di halaman pelataran kuil yang lapang, ribuan merpati hidup dengan bebasnya. Sesekali para pengunjung menebarkan biji-bijian yang langsung diserbu oleh merpati-merpati dengan semangatnya. Pada momentum inilah, anak bangsa dari berbagai penjuru bumi mendapatkan kesempatan untuk saling berinteraksi, termasuk tentu saja para bocah.

Kembali di Batu Cave, si Genduk menerapkan bahasa bocahnya kepada beberapa bocah India. Salah satu bocah yang bercengkerama dengan sangat akrab bernama Puja. Keduanya sangat semangat untuk menghambur dan menyerbu kumpulan burung merpati yang tengah berebut makanan yang ditaburkan pengunjung. Paras kulit si Genduk yang sawo matang berpadu kontras dengan kulit Puja yang kebetulan lebih gelap. Perpaduan itu seolah membentuk sebuah harmonisasi hitam-putih, gelap-terang, yang menyimbolkan warna-warni keragaman kehidupan.Little India2Tidak hanya terhenti di pelataran merpati, di tepian pelataran yang dibatasi dengan beberapa kolam ikan berair mancur, si Gendukpun mendapatkan seorang kawan karib. Lagi-lagi juga bocah gadis India. Kali ini si Genduk dan si Little Indi yang laing larut khusuk saling berceloteh sambil mengumpani ikan-ikan koi dan emas yang berenang ria di dalam kolam.

Dari kisah perjalanan si Genduk dan beberapa Littel India yang kami temui tersebut setidaknya kita kembali diingatkan mengenai makna universalitas nilai kemanusiaan. Bahwasanya kita percaya semua manusia, terlepas apapun bangsa, agama, maupun negaranya adalah sama-sama anak cucu Nabi Adam. Dengan persamaan tersebut setidaknya kita harus semakin sadar bahwa semua anak manusia adalah saudara. Jika anak-anak dan para bocah yang masih polos, suci dan murni dari dosa serta berbagai kepentingan nafsu duniawi saja langsung bisa terhubung hatinya satu sama lain dalam suatu ikatan persaudaraan yang tulus, apakah manusia yang lebih dewasa masih ingin saling bermusuhan?

Lor Kedhaton, 12 Maret 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s