Science Diplomacy


Science diplomacy? Iki panganan opo? Sayapun tidak menyangka jika ruang dan waktu telah membawa ke tengah sebuah workshop bertajuk Enhancing Researcher Capacity in Science Diplomacy: “Menjawab Tantangan Riset dalam Era Globalisasi” 

LipiDiplomasi bisa dipahami sebagai metode,teknik,atau cara-cara untuk saling mengkomunikasikan kerja sama dalam rangka mencapai suatu tujuan diantara dua pihak atau lebih. Lebih simpelnya, diplomasi adalah ilmu ngglembuk alias membujuk (sudah tentu termasuk mbujuki juga). Dalam perkembangannya istilah diplomasi mengalami penyempitan makna yang berkaitan dengan hubungan antar negara. Dengan demikian urusan diplomasi hanya menjadi urusannya Kementerian Luar Negeri.

Pendapat bahwa persoalan diplomasi luar negeri hanya semata menjadi urusannya Kementerian Luar Negeri memang terlanjur menjadi sebuah pandangan umum. Akan tetapi pandangan semacam itu ke depannya harus dibenahi seiring dengan bergulirnya era globalisasi. Diplomasi luar negeri bisa dilakukan oleh banyak pihak, bahkan seorang rakyat biasa yang tengah berwisata ke luar negeri sekalipun.

Setiap warga negara yang tengah berada di negara lain adalah duta bangsa. Keberadaan mereka mewakili citra suatu bangsa. Ucapan, tingkah laku,termasuk pakaian senantiasa tidak terlepas dari mana ia berasal. Jika sekedar orang yang melancong saja menjadi duta bangsa, apalagi TKI kita, olahragawan yang sedang bertanding, juga pelajar mahasiswa yang sedang studi, termasuk para ilmuwan yang tengah berseminar, berkonferensi atau mengikuti diklat tentu juga mengemban tugas sebagai duta bangsa. Dari sinilah pentingnya kemampuan dan keahlian berdiplomasi untuk para ilmuwan.

Melalui workshop yang berlangsung selama tiga hari ini, para peserta diberikan pemahaman mengenai peran ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai salah satu ujung tombak diplomasi dalam turut memperjuangkan kepentingan nasional di pentas internasional. Pemahaman mengenai garis kebijakan politik luar negeri menjadi sangat penting untuk dipahami sebagai suatu landasan pikir pada saat kita berinteraksi dengan warga negara lain. Hal ini mendapat penekanan yang sangat serius sehingga dalam workshop tersebut materi kebijakan ini langsung disampaikan oleh para duta besar Kementerian Luar Negeri yang telah malang-melintang menjadi diplomasi di berbagai penjuru dunia.

Di samping landasan berpikir, keterampilan atau keahlian diplomasi juga harus dikuasai. Teknik berkomunikasi, tata cara bernegosiasi, hingga bahasa persidangan pada pertemuan bilateral dan multilateral, bahkan bagaimana menikmati jamuan pesta atau makan yang dikemas dalam table manner menjadi materi utama yang disampaikan, baik secara teori maupun simulasi praktik secara langsung.

Workshop Science Diplomacy ini sebenarnya telah digelar beberapa kali untuk kalangan internal peneliti LIPI. Namun dalam pelaksanaan workshop kali ini, peserta di samping berasal dari internal LIPI juga menyertakan para akademisi dari berbagai universitas, termasuk para peneliti di lingkungan LPNK yang bernaung di bawah Kementerian Ristek dan Dikti, seperti BMKG dan Bapeten, juga dari KLH, BPS, dan institusi lainnya. Di samping LIPI sebagai tuan rumah penyelenggaraan, workshop ini juga didukung oleh British Council Indonesia dan Newton Fundation.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s