Mbah Jarwo Ketabrak Sepeda


Peristiwa ini terjadi sudah lebih dari dua puluh lima tahun yang lalu. Saat itu selepas tengah siang, Mbah Jarwo yang asli orang Gondangan itu tengah santai mengendarai sepeda jengkinya. Niatnya ia ingin pergi ke sawah salah seorang kerabatnya di ngarep Gejugan. Sepetak sawah basah yang baru selesai dibajak itu memerlukan tambahan benih padi yang harus dibawanya. Meski tidak terlampau berat namun menapaki jalanan tanah berbatu menjadikan keseimbangan sepedanya sering oleng. Apalagi usia Mbah Jarwo yang tidak lagi muda juga sedikit banyak mempengaruhi kemampuan bersepedanya. Maka dari itu ia memilih naik sepeda dengan sangat pelan.

Repotnya ketika melewati jalanan di pojokan Dusun Kronggahan. Jalanan menurun berbatu itu menjadi sedikit sulit untuk dilalui Mbah Jarwo. Demi keamanan dan keselamatan, ia memutuskan untuk turun dari sepedanya. Iapun kemudian menuntun sepeda jengki dengan muatan benih padi di boncengan belakangnya itu.

Untung tak dapat diraih dan malangpun tak dapat ditolak. Memang Mbah Jarwo sudah mengantisipasi dan berhati-hati ketika menuruni jalanan terjal tadi. Akan tetapi pada saat ia sudah berhasil mencapai ujung turunan, justru secara tiba-tiba sebuah sepeda yang lain menyeruduk sepedanya dari belakang.

Benturan kedua sepedapun tak terhindarkan. Mbah Jarwo sedikit terpental dan terduduk ndeprok di sebuah kalenan air di sisi kiri jalan. Sepedanya terlepas dari genggaman tangannya dan menyelonong cepat sehingga menyisir tebing di sisi jalan yang lain. Celakanya lagi ya muatan benih padi yang dibawanya terpental di pematang tepi jalan. Untungnya benih padi tersebut dikemas di dalam karung bagor. Dengan demikian benih padi yang masih sangat muda tersebut tidak berserakan di tengah jalanan. Namun begitu, pastinya tatanan benih padi yang biasa disatukan dalam ikatan satu bentel menjadi berantakan juga.

Sambil meringis, Mbah Jarwo hanya tertegun melihat siapa yang membuat ulah dengan menabrak sepedanya. Seketika sadar sepedaya ditabrak, mungkin ia sempat ingin marah. Namun kematangan usianya telah meredamkan rasa amarahnya, terlebih ketika ia sudah sadar kondisi yang dilihatnya justru seorang bocah dengan sepeda jengki yang masih kegedaan dibandingkan ukuran tubuhnya kala itu juga jatuh ndlosor di pinggiran jalan sisi yang lain. Seketika justru rasa ibanya muncul.

Dengan berjalan pelan justru dihampirinya si bocah kecil itu. Dengan sangat sareh ia bertanya tentang keadaan si bocah. Meski terjati dan sempat terjepit peleg sepeda, tetapi si bocah ternyata tidak sampai mengalami luka lecet maupun keseleo. Belum sempat membenahi sepedanya sendiri, Mbah Jarwo justru membantu si bocah untuk mengangkat sepeda yang menabraknya dan menempatkannya di bagian jalan yang rata. Si bocah tentu terdiam membisu tanpa sepatah katapun. Ia nampak menjadi sangat sungkan dan merasa sangat bersalah telah menabrak sepeda orang lain dan menyebabkan sepeda Mbah Jarwo rusak kecil di bagian bemper slebor belakangnya.

Melihat raut muka si Bocah yang justru menjadi serba salah karena sudah merasa bersalah dan mungkin terlalu takut atau malu untuk menyampaikan permohonan maaf, akhirnya Mbah Jarwo justru mempersilakan si Bocah untuk pulang dan membawa sepedanya. Si Bocahpun segera menuntun sepedanya balik kanan menaiki turunan yang telah menjadi saksi bisu peristiwa tabrakan tidak berdarah siang itu. Setiba di sisi atas jalan, ia nampak ragu untuk melangkah. Ia berhenti sesaat dan memperhatikan apa yang dilakukan Mbah Jarwo.

Dengan langkah perlahan, Mbah Jarwo rupanya sedang membenahi sepedanya dan memperbaiki kembali muatan benih padi di boncengan belakangnya. Tidak sebegitu lama melakukan hal tersebut, Mbah Jarwo sudah mengayuh kembali sepedanya menapaki jalanan tanah berumput untuk meneruskan perjalananya. Ia sama sekali tidak lagi menengok ke kanan-kiri, seolah ia tidak mengalami peristiwa apapun.

Dengan pandangan mata penuh rasa sedih, si Bocah memandang kepergian Mbah Jarwo dengan penuh rasa sesal. Meskipun tanpa kesengajaan ia telah menabrak sepeda orang lain. Ia merasa telah mencelakai dan merugikan orang lain. Di dalam sanubari terdalamnya ia berjanji untuk lebih berhati-hati di lain waktu sehingga tidak membahayakan orang lain. Ia memang masih bocah yang baru masuk sekolah SD. Baru beberapa minggu ia belajar naik sepeda jengki yang masih sangat kebesaran untuk usianya. Karena kemahirannya belum terasah ia masih sulit mengendalikan sepeda dengan remnya tatkala mengurangi laju sepeda pada saat meluncur di turunan jalan. Akhirnya terjadilah peristiwa itu.

Sekarang setelah sekian tahun peristiwa itu berlalu, entah kenapa tiba-tiba siang ini saya menuliskannya. Sebagai sebuah pengakuan besar, si Bocah yang menabrak Mbah Jarwo itu tidak lain dan tidak bukan adalah saya sendiri. Nyuwun ngapunten lho Mbah.

Ngisor Blimbing, 28 Februari 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Mbah Jarwo Ketabrak Sepeda

  1. ipam berkata:

    Lucu tenan bro, ngakak aku, berita nggak penting ning lucu

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s