Valentin Apaan?


Sembari nupang di boncengan onthel saat pulang sekolah si Ponang bertanya, “Pak emange Valentin itu nggak ada di Al Qur’an ya?” Sang Bapak tentu saja terhenyak. Ia hanya mbatin, kok tahu-tahunya anak kelas satu SD sudah ngomongin soal valentinan. Ketika didesak lebih lanjut si Ponang meneceritakan bahwa ibu gurunya baru menjelaskan hal ikhwal Hari Valentin. Katanya sih hari kasih sayang, tetapi tidak ada di dalam kitab suci.

Saya sendiri heran juga, kok setiap pertengahan bulan Februari pasti kita disibukkan dengan debat kusir soal Valentin yang konon katanya jauh dari nilai budaya bangsa kita. Tetapi ketika dijelaskan kepada anak kelas satu SD, jadi tergelitik juga untuk iseng-iseng urun rembug. Terlebih ketika disebut-sebut keterkaitannya dengan Qur’an.

Setahu dan sepemahaman saya, Al Qur’an yang berbahasa Arab tentu tidak memuat kata-kata valentin yang entah berasal dari bahasa latin, Yunani, atau Spanyol. Namun jika dikaitkan dengan nilai atau akhlak kasih sayang, tentu Al Qur’an sangat sarat dengan pesan-pesan kasih sayang dan kedamaian. Bahasa cinta, seperti hubb, mahabbah, tentu sangat banyak bertebaran di kitab suci tersebut. Dengan pemikiran awam sekalipun, Al Qur’an hadir sebagai pedoman hukum bagi ummat Islam dalam menjalankan segala macam amal ibadah yang ditujukan dalam rangka membentuk akhlakul karimah atau perilaku-budi pekerti yang luhur.

Nilai akhlak luhur yang diterapkan terhadap Tuhan, Rasul dan kitab suciNya akan berbuah dalam wujud ketaatan hamba terhadap Tuhan dan panutannya. Adapun esensi akhlak mulia berkaitan dengan hubungan antar sesama makhluk Tuhan, menurut hemat saya wujud ya kasih sayang sesama. Tidak mengherankan jika kitapun sejak dini sudah diajari bagaimana memiliki jiwa yang saling asah, saling asih dan saling asuh. Asah, asih dan asuh itulah manifestasi nilai kasih sayang. Jadi Qur’an, dan juga pastinya Islam jelas-jelas mengajarkan kasih sayang. Dan pastinya pula nilai kasih sayang merupakan sebuah nilai universal yang senantiasa didamba setiap insan manusia.

Lalu kemudian kenapa hari kasih sayang malah ditentang dan dilarang oleh sebagian ulama, ustadz, dan kemudian masyarakat awam juga mengamininya? Begini sedulur, sebagai sebuah produk tradisi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat barat yang notabene non muslim, Hari Valentin atau kasih sayang sebagai sebuah nilai universal mungkin tujuannya baik. Menautkan setiap hati manusia untuk saling kasih mengkasihi pasti semua orang juga setuju.

Seiring dengan globalisasi dan modernitas, terjadi pergeseran-pergeseran implementasi dari tradisi Valentin. Terutama di kalangan muda dan para penganut kebebasan individual sering kebablasan dalam pengagungan individu dan pembelaan hak asasi manusia. Prinsipnya segala hal bebas dilakukan secara personal asalkan tidak menganggu kepentingan orang lain. Orang bebas mabuk-mabukan asal di rumahnya sendiri. Orang bebas kaya raya asal tidak melanggar hukum formal.

Demikian halnya dengan tradisi Valentinan yang hangat diperdebatkan ini. Tradisi yang semula digagas untuk mengukuhkan kembali rasa kasih sayang sebagai perekat utama persaudaraan sesama manusia justru ternodai dengan dorongan kebebasan individu yang ingin bebas lepas dari segala aturan dan tatanan nilai kehidupan. Valentin di kalangan muda-mudi banyak diwarnai dengan praktik-praktik kumpul kebo dan free sex, ataupun minum mabuk-mabukan. Di sinilah letak awal asal-muasal perdebatan pro-kontra valentinan berawal.

Agama manapun, tata nilai apapun, dasar hukum apapun tentu tidak membenarkan perilaku kumpul kebo dan free sex yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kasih sayang sendiri sangat berhubungan erat dengan nilai dan ajaran agama manapun. Hanya saja sebuah nilai positif yang cukup terhenti menjadi teori atau keyakinan dogmatis, tetapi perlu pula perwujudan dalam sikap dan tindakan yang positif pula.

Soal kasih sayang, tidak semata-mata soal Valentin. Kasih sayang yang universal itu dimensinya juga sangat luas dan tidak semata-mata urusan laki-laki dan perempuan. Kasih sayang menyangkut hubungan antara suami dan istri, antara anak dan orang tua, antara pemimpin dengan rakyatnya, antara guru dan murid, antara majikan dan karyawannya, bahkan antara manusia dengan makhluk Tuhan yang lainnya. Dari titik sini, nampaknya kita harus sedikit lebih maju tidak hanya mempersoalkan secara hitam-putih mengenal tardisi Valentin. Intinya bahwa soal kasih sayang ini akan proporsional dan menjadi bermanfaat jika ditempatkan dalam ruang dan waktu yang setepat-tepatnya.

Kasih sayang Ok, tetapi jangan sampai dicampuradukan dengan perilaku madat, main, maling, madon, karena hal ini berarti memposisikan nilai kebaikan di tempat yang tidak seharusnya. Kebaikan tidak bisa dicampuradukkan dengan nilai kebatilan. Kemanfaatan jangan pernah dicampur dengan kemudharatan. Nilai positif jangan diblender dengan nilai negatif. Inilah kepastian hukum apabila memang manusia ingin menegakkannya dalam rangka menyangga nilai-nilai kehidupan.

Ngisor Blimbing, 15 Fabruari 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s