Senandung Kodok Ngorek


Kodok1Namanya juga musim hujan. Tentu saja air berlimpah dimana-mana, bahkan banyak daerah yang kini mengalami kelebihan air alias banjir. Dibilang banjir datang akibat hujan yang berlebih, apakah demikian? Konon katanya jumlah air, baik yang berwujud air, es, uap, maupun gas di jagad raya ini dalam suatu kesetimbangan. Kesetimbangan dimaksud tentu saja berkaitan dengan volume total air yang konstan. Nah kalau volume air sudah konstan kok terjadi “kelebihan” air dan banjir?

Dengan volume total air yang konstan tadi dan dengan asumsi curah hujan merata sepanjang musim hujan, maka kejadian banjir harus dipahami sebagai penanda telah terjadinya perubahan bentang alam. Hutan yang dulu rimbun telah banyak gundul. Sungai yang lebar dan dalam telah menjadi sempit nan dangkal. Sawah, pekarangan, kebun, rawa, dan ruang terbuka hijau yang lain telah menjadi beton semua. Belum lagi perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan di got, selokan, dan sungai-sungai. Lagi-lagi persoalan bersumber dari perilaku manusia sendiri!

Banjir kini seolah telah menjadi agenda tahunan. Setiap puncak musim hujan datang, banjir hadir di depan mata. Contohnya saja apa yang terjadi di ibukota Jakarta awal pekan ini. Hujan deras yang turun secara terus-menerus selama dua-tiga hari, didukung oleh sistem drainase yang buruk mengakibatkan ibukota tergenang. Untungnya curah hujan di wilayah hulu sungai yang melintasi Jakarta tidak pada kondisi puncaknya. Jika Katulampa juga siaga satu dan mengirimkan banjir kiriman dari atas, maka Jakarta bisa jadi benar-benar “tenggelam”.

Di tengah gelimangan genangan air, ada satu fenomena yang mungkin luput dari pengamatan kita. Tidak di desa ataupun di pinggiran kota, terdengar suara theot-theot theblung bersautan. Bisa menebak binatang apakah yang saya maksudkan? Sebagaimana syair tembang dolanan bocah peninggalan para simbah berikut:

Kodhok ngorek, kodhok ngorek, ngorek ning pinggir kali,

Theot-theblung, theot theblung……ngorek ning mblumbangan.

Seratus persen tebakan anda tidak salah. Kita memang sedang membicarakan binatang kodok alias katak. Bagi sedulur kodok, musim hujan adalah datangnya surga kehidupan. Bagi para orang tua kodok, puncak musim penghujan adalah musim mantu untuk mengawinkan pemuda-pemudi kodok. Berpasang-pasang muda-mudi kodok menghadap penghulu dan mengikrarkan ijab kabulnya. Maka di musim ini pulalah puncak bulan madu bagi pasangan kodok cowok-cewek yang telah seiya-sekata menjadi pasangan hidup tersebut.

Dan tak seberapa lama kemudian, telur-telur kodok tercecer-cecer di kolam-kolam, sungai, rawa, bahkan setiap genangan air yang memungkinkan menjadi tempat para kodok menyangkutkan rentengan telur-telurnya. Tak seberapa lama berselang, telur-telur itupun mentas menjadi kecebong. Kecebong berenang kesana-kemari hingga muncul kaki-kaki yang menggantikan sirip-sirip. Insang alat pernafasanpun berganti dengan pori-pori permukaan kulit. Kecebong bermetamorfosa menjadi precil yang kemudian tumbuh menjadi katak remaja dan dewasa. Maka jangan heran jika kemudian para kodok akan berkeliaran dimana-mana seolah mengikuti aliran dan genangan air limpahan air hujan.

Kodok2Pagi kemarin tatkala si Ponang selesai mandi pagi menjelang sekolah, sambil kemulan handuk ia keluar dari kamar mandi. Entah darimana datangnya, sekonyong-konyong melompatlah sebuah bayangan hitam di ruang tengah rumah kami. Setelah cermat saya amati, ternyata bayangan hitam tersebut adalah seekor kodok. Dugaan awal saya kodok tersebut berjenis kodok bakong yang biasanya tidur sembunyi sambil bertapa di balik batu atau celah pondasi. Namun sejurus kemudian sayapun tahu bahwa dugaan tersebut tidak tepat. Ternyata kodok yang bertandang tersebut justru kodok ijo.

Dengan susah payah, akhirnya saya berhasil menangkap kodok ijo tersebut. Terasa tidak tega untuk segera melepaskannya di kebun pekarangan sebelah, kodok tersebut justru saya kurung sementara dengan sebuah keranjang sampah yang ditutup bagian atasnya. Niatnya sih biar ditengok oleh si Genduk yang memang suka berceloteh tentang suara kodok kongkong. Jadi layaklah jika justru si Genduk yang nantinya melepas bebas kodok ijo tersebut. Masihkah di lingkungan Anda menjumpai riuh rendahnya suara kodok keciblon di blumbangan?

Ngisor Blimbing, 11 Februari 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s