Empat Hari Tiga Malam di Kuala Lumpur(7)


KLCC1Kuala Lumpur memang identik dengan Menara Kembar Petronas atau Twin Tower. Menara yang dimiliki Proton, perusahaan perminyakan nasional Malaysia tersebut, telah diresmikan semenjak tahun 1999. Keberadaan gedung bertingkat 88 ini memiliki beberapa fungsi sekaligus, meliputi bisnis, wisata, dan hiburan. Di samping Petronas yang menempati menara 1, menara 2 banyak dijadikan kantor oleh perusahaan ternama semisal Al Jazeera, Shell, Bloomberg, Microsoft, Reuters dll. Adapun Suria KLCC menjadi mall pusat perbelanjaan yang terbesar di KL.

Di samping menikmati panorama ketinggian KL dari jembatan penghubung menara di lantai 41-42, kawasan menara kembar ini juga dilengakapi dengan area pertamanan yang luas. Berada tepat di pintu belakang Suria KLCC, terhampar sebuah kolam air yang sangat luas yang dilengkapi dengan air mancur spesial. Dikatakan spesial karena air mancur tersebut bisa menari dan menampilkan pantulan cahaya lampu warna-warni khususnya di saat malam hari.

Atraksi tarian air mancur selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung Menara Petronas. Kami sekeluargapun sengaja mendatangi menara ini dengan tujuan utama ingin menyaksikan atraksi tarian air mancur, apalagi si Genduk sangat menyukai air mancur dan apapun yang berbau air terjun. Apalagi ditambah informasi bahwa untuk naik ke atas Menara Petronas diperlukan biaya tikat yang tidak murah, dan antrinya harus sedari ba’da Subuh. Maka air mancur dan taman seputaran menara menjadi pilihan utama untuk dikunjungi.

Selepas waktu pagi hari kami pergunakan mengunjungi Batu Cave di sisi utara KL, perjalanan dari KL Sentral kami sambung dengan LRT Kelana Jaya menuju KLCC. Naik dari stasiun bawah tanah, menjulanglah dua buah menara kembar yang beberapa waktu sebelumnya hanya kami amati dari kejauhan. Setelah sedikit berjalan mengitari Suria KLCC di kaki menara, kamipun melangkah menuju pintu belakang yang tepat menghadap sebuah kolam yang cukup luas. Sayangnya, justru ketika kami datang nampak beberapa petugas sedang melakukan maintenance dan pembersihan batang-batang penyembur air mancur.

KLCC2   KLCC3

Mengobati kekecewaan si Genduk yang gagal menjumpai atraksi tarian air mancur, kami memutuskan untuk menjelajahi taman-taman di seputaran KLCC. Setelah sejenak menikmati kerimbunan pepohonan di sisi kanan, dengan berjalan melingkari telaga, nampak anak-anak justru ceria dan sumringah. Ternyata tepat di sisi belakang telaga terhampar area khusus taman anak. Hal utama yang paling menarik perhatian si Ponang dan si Genduk adalah keberadaan kolam bermain yang nampaknya sengaja dirancang untuk memanjakan anak-anak keciblon ria.

Tanpa menunggu penawaran dan izin kami, si Ponang bergegas langsung melepas baju dan celana luar. Alhasil, dengan mengenakan kaos dan celana dalam ia langsung menceburkan diri ke dalam kolam yang dangkal untuk bergabung dengan anak-anak sebayanya yang lain. Gendukpun tak mau kalah dari kakanya. Ia terus merengek dan meronta dari gendongan. Meskipun tanpa persiapan dan rencana untuk berbasah-basah ria, akhirnya kami ikhlaskan keduanya menikmati kesegaran air di tengah terik selepas tengah hari itu.

KLCC4Namanya juga anak-anak, dimanapun mereka berkesempatan ketemu kolam renang pecahlah segala keceriaan dan kehebohannya. Siang yang memang terasa gerah tersebut nampaknya sangat pas sekali jika kami berbasah-basah di dalam kolam air. Hal serupa tentunya dirasakan pula oleh anak-anak lain yang juga bermain air. Nampak siang itu kolam yang ada terisi dengan ratusan para bocah bagaikan lautan cendol yang penuh warna-warni. Jadilah kami yang mendapat tugas tambahan untuk ekstra mengawasi dan menjaga mereka. Namun dengan kegembiraan yang terpancar dari raut muka anak-anak yang penuh tawa dan celotehan menjadikan semua orang nampak menemukan kebahagiaanya.

Satu jam, bahkan mungkin dua jam juga pastinya akan terasa amat kurang bagi anak-anak untuk bermain air. Namun demi melihat telapak dan jejari tangan si Genduk yang keriput serta mulai membiru, mau tak mau permainan harus segera diakhiri. Tentu saja mana anak yang mau dihentikan dari permainan yang mengasyikkannya? Akhirnya demi menghibur dan nylimur Genduk, setelah berganti dengan pakaian kering dan diblonyo minyak putih seluruh tubuhnya, ia saya bawa lari ke area wahana permainan anak yang tidak seberapa jauh dari kolam.

KLCC5Sejenak tengok kanan-kiri, e ternyata di taman itu terdapat beragam wahana permainan anak, mulai dari ayunan, plosotan, odong-odong, terowongan, jembatan gantung dll. Melihat ada satu ayunan yang kosong sayapun langsung menghamburkan diri ke ayunan tersebut. Dengan memangku si Genduk, sayapun perlahan-lahan mengayunkan diri. Manurnya, si Genduk dapat segera lupa dengan keasyikan kecipak air kolam yang dengan terpaksa ditinggalkannya.

Belum seberapa lama saya memangku Genduk yang menikmati sepoi ayunan, sekonyong-konyong ada muka hitam yang melotot di belakang saya. Tersadar dari suara lengkingan sebuah peluit, sayapun menengok ke belakang. Ternyata seorang satpam perempuan mengacungkan tongkatnya ke arah muka saya sampil meniup peluit. Ia nampak tak ramah dengan  pelototan mata bulanya. Sejurus kemudian ia berteriak, “Tak boleh!”

Haduh, gek saya ini salahnya apa to yo! Lha namanya ngenengi bocah balita naik ayunan, masak si anak harus dilepas sendirian. Meskipun saya mencoba menjelaskan bahwa saya hanya sekedar memangku bocah bayi, si satpam tetap saja tak mau paham dan bersikukuh bahwa hal itu tetap tak boleh. Tentu saja daripada urusan panjang, sayapun akhirnya ngalah juga. Sedikit merasa dongkol, sudah pasti. Tidak ada tulisan larangan dlsb kok dinyatakan bersalah. Tetapi yo wislah, namanya juga tamu di negeri orang.

KLCC6    KLCC7

Namun jujur, saya sedikit ewuh pekewuh bin menahan malu dipersalahkan demikian di depan umum. Apes bener nasib saya siang itu. Ditambah lagi si Ponang justru malah turut mengolok bapaknya dan mendukung si satpam perempuan. Mau gimana lagi coba? Akhirnya saya ajak si Genduk beralih ke wahana permainan yang lain. Untung pula tidak jauh dari area ayunan ada odong-odong kecil yang mampu mengalihkan perhatian Genduk sehingga ia tidak merajuk.

Belum seberapa lama kami tenggelam dalam permainan yang baru lagi, ternyata di tempat ayunan yang baru kami tinggalkan nampak beberapa mbak-mbak yang justru menggusur para bocah dan menguasai beberapa deret ayunan. Saya hanya mbatin, “nah ini dia para korban selanjutnya”. Saya bayangkan para mbak yang kelihatannya muka-muka saudara setanah air itu akan disemprit oleh satpam perempuan yang uring-uringan dengan saya tadi. Namun memperhatikan semenit-dua menit, hingga melewati lima menit, kok nggak ada satpam nongol. Padalah mereka nampak bergerombol di pos kebersihan. Hingga sekian lama tak ada tindakan apapun. Lho, katanya orang dewasa tak boleh pakai ayunan. Lha kok ini serombongan mbak-mbak dibiarkan merajalela! Dan memang apa yang saya alami tidak dialami oleh mbak-mbak itu. Lah piye to iki! Memang dasar saya yang kena sial, dikerjai, atau memang aturan mulai berpihak dan mengenakan pakaian gendernya? Ah, ya sudahlah!

Lor Kedhaton, 9 Februari 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Empat Hari Tiga Malam di Kuala Lumpur(7)

  1. Muh Nahdhi Ahsan berkata:

    Di KLCC mendengar orang berbicara dengan Basa Jawa itu lumrah ya mas. Hehehe… *kagol*

    Suka

    • sang nanang berkata:

      di hari-hari libur justru KLCC sering menjadi titik kumpul sedulur-sedulur Jawa yang merantau di KL, kemarin malah Ikhwan sempat mengagendakan futsal bareng di Ampang park

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s