Puisi Pangeran Diponegoro


Ah, negeri ini memang semakin tidak jelas.  Harapan pergantian presiden akan dapat membawa perubahan baru ke arah yang lebih baik kok justru semakin meredup. Mulai dari wacana penghapusan identitas agama di KTP, kurikulem 2013, naik turun harga BBM yang melambungkan semua harga dan tak pernah turun lagi, isu rakyat nggak jelas, KPK vs Polri, kini mobil nasional petronas. Entah apa lagi besok pagi?

Sebagai bagian wong cilik yang sudah pasti tidak “tedjo” saya kok jadi mikir. Ini para pejabat yang ngurus negara ini pada seriuskah menjalankan pemerintahan? Atau jangan-jangan mereka tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk menjadi birokrat? Lho kok malah jadi tendesius ya? Tapi memang kalau dipikir-pikir coba, berapa banyak kebijakan yang kontroversial telah dilahirkan dan hanya sangat sedikit perbaikan yang dirasa rakyat. Atau jangan-jangan rakyat justru telah salah memiliki orang untuk menjadi pemimpin dan pejabat ya? Inginnya dapat ratu adil, e malah dapat KW-1, KW-2 atau bahkan KW-sekian!

Bicara ratu adil, sikap tegas Pangeran Diponegoro tatkala menjauhi kenikmatan hidup di istana dan memilih mengangkat senjata serta bersatu bersama rakyat. Tak mengherankan bila kalangan rakyat jelata kala itu mempercayai Diponegoro sebagai sang herucokro alias ratu adil yang akan membebaskan tanah Jawa dari belenggu penjajahan Kompeni Belanda. Beberapa hari ini saya kebetulan tengah menggali kembali kesenian Kobra Siswo yang konon dirancang oleh para simbah di wilayah Magelang sebagai kesenian yang menyamarkan para pemuda yang tengah berlatih olah keprajuritan, seperti baris-berbaris dan perang-perangan. Setidaknya spirit dan semangat kejuangan Diponegoro dan pasukannya masih hidup serta dihayati banyak generasi hingga kini.

Tatkala siang ini tengah nglaras beberapa tembang koleksi Ebiet G Ade dan Iwan Fals, si Ponang tiba-tiba bertanya, “Pak, emang Iwan Fals punya lagi Pangeran Diponegoro?” Sontak tentu saja saya kaget dengan pertanyaan tersebut. Darimana si thole ini tahu ada puisi Diponegoro, batin saya. Namun tentu saja menjawab pertanyaan tersebut saya menyampaikan jawaban tegas dengan penuh keyakinan. Ya, ada!

Memang sebenarnya lagu Pangeran Diponegoro itu tidak dinyanyikan secara langsung oleh Iwan Fals, tetapi satu kelompok musik yang memang turut digawangi Iwan Fals. Masih ingat dengan Kantata? Ya, pada album ke tiga bertajuk Kantata Revolvere yang turut menandai datangnya masa orde reformasi, ada salah satu lagu bertajuk Pangeran Diponegoro. Lagu yang dibawakan dengan penuh enerjik dan penjiwaan yang sangat dalam oleh Sawung Jabo dan diselingi pembacaan puisi oleh Rendra tersebut sesungguhnya merupakan bait-bait syair puisi yang dikarang oleh Chairil Anwar di masa perebutan kemerdekaan. Di masa bangku SD dulu, sayapun ingat pernah diminta oleh guru untuk menghapal dan mendeklamasikan puisi tersebut di depan kelas.

Ok, jika Anda semua lupa dengan dengan bait puisi Pangeran Diponegoro, berikut saya ketengahkan kembali:

Di masa pembangunan ini, tuan hidup kembali,
Dan bara kagum menjadi api,
Di depan sekali tuan menanti,
Tak gentar, Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju……Serbu…….
Serang…….Terjang……….

Menyelami kembali syair-syair penggugah semangat perang ini kok saya menjadi merinding. Andaikan para pemimpin dan pejabat kita memiliki semangat api perjuangan sebagaimana Diponegoro dalam menumpas koruptor, dalam menegakkan hukum, dalam menciptakan keadilan, sudah pasti negeri akan jaya. Atau kalau para pemimpin dan pejabat yang kita amanati kekuasaan itu tidak mau dan mampu untuk menjalankan amanat rakyat, ayolah rakyat bergerak untuk menegakkan republik ini!

Ngisor Blimbing, 7 Februari 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s