Empat Hari Tiga Malam di Kuala Lumpur(6)


Masjid IndiaMeskipun tidak seberagam Indonesia, bangsa Malaysia juga terdiri atas beberapa etnik. Etnik utama yang paling besar meliputi suku Melayu, China, dan India. Nah berkaitan dengan etnik India ini, konon nenek moyang mereka dulunya sebagian besar dibawa oleh Kolonial Inggris untuk dipekerjakan dalam pertambangan timah maupun pertanian. Meski demikian sebagian kecil diantara mereka ada pula yang sengaja merantau mencari peruntungan hidup di Semenanjung Malaya.

Jika di tanah asal usulnya sebagian besar orang India menganut agama Hindu ataupun Budha, maka masyarakat India di Malaysia justru didominasi India muslim. Mungkin mereka terdiri atas anak turun Dinasti Moghul di India Selatan yang memang telah menganut agama Islam, maupun yang baru mengenal dan masuk Islam setelah berada di Tanah Melayu Malaysia.

Beberapa kawasan pemukiman masyarakat India atau biasa dikenal juga sebagai Little India juga didominasikan masyarakat India muslim. Salah satu contoh yang saya maksudkan adalah Kawasan Masjid India di pusat KL. Kawasan ini berada di seberang wilayah Masjid Jamek yang dipisahkan oleh aliran Sungai Klang. Sebagian besar warga India muslim di sini berprofesi sebagai pedagang tekstil, dan ada pula yang menjajakan makanan khas India, ataupun penjaja jasa yang lain. Tidak mengherankan jika penampakan Kawasan Masjid India sangat mirip dengan pusat perdagangan kain di Tanah Abang, Jakarta.

Kenapa kawasan Little India yang satu ini dikenal sebagai Kawasan Masjid India? Sudah pasti kita semua dapat menebaknya dengan sangat tepat. Karena di kawasan inilah berdiri Masjid India. Betul 100% untuk Anda!

Masjid India merupakan bangunan tiga lantai yang telah berdiri semenjak tahun 1863 M atau bertepatan tahun 1280 H. Arsitektur masjid ini tidak mencirikan kekhusuan sebagaimana masjid umumnya di Indonesia. Dengan dominasi balutan keramik berwarna ckolat di sisi luar, Masjid India dicirikan dengan keberadaan kubah dan menara di atas atapnya. Keberadaan masjid ini menjadi pusat kegiatan warga muslim India, terutama untuk pelaksanaan sholat lima waktu secara berjamaah ataupun ibadah sholat Jum’at.

Masjid India1    Masjid India2

Dikarenakan tempat menginap kami berada tepat di samping Masjid India, maka kesempatan untuk mengikuti sholat berjamaah pada waktu Maghrib dan Isya’ beberapa kali sempat kami ikuti. Pada kesempatan pertama kami mengikuti jamaah melaksanakan sholat Isya’. Setidaknya di lantai satu, jamaah memenuhi semua shof yang ada. Kira-kira tidak kurang dari 500-an jamaah sholat dengan khusyuk.

Di deretan sisi pinggir tersedia kursi-kursi yang disediakan bagi jamaah dalam kondisi fisik sulit untuk melakukan gerakan sholat secara sempurna, baik berdiri, ruku’, ataupun sujud. Rata-rata kursi tersebut banyak dipergunakan oleh para manula, orang sakit ataupun pera jamaah penyandang kebutuhan khusus. Meskipun tidak dilengkapi dengan AC, dengan arsitektur bukaan jendela yang banyak di sepanjang sisi ruang utama dan ditambah dengan puluhan kipas angin di langit-langit masing-masing lantai, suasana di dalam masjid tetap nyaman, sejuk dan tidak gerah.

Masjid India3Perbedaan waktu antara Jakarta dan KL memang terpaut satu jam. Namun demikian, secara siklus rotasi bumi, keberadaan di garis bujur yang berdekatan menjadikan suasana matahari terbit dan tenggelam tidak terlampau terasa perbedaannya. Pada kesempatan di KL, waktu sholat Isya’ tiba kira-kira pukul 20.33 malam. Saat berksempatan jamaah Isya’ yang kedua kalinya, kami smepat menunggu sekian lama hingga suara adzan dikumandangkan. Bahkan si Ponang sempat tertidur di pangkuan saya dan tergagap tatkala suara iqomat didengungkan sebagai pertanda sholat segera akan dimulai.

Jumlah jamaah yang banyak menjadikan suasana sedikit hiruk-pikuk tatkala sholat telah selesai dilaksanakan. Bersama anak saya, sayapun segera bergegas keluar dari masjid. Nah, ini dia tragedi kecil yang mengganjal di hati. Saat mencari sandal kami di teras depan masjid, sekian lama saya lirik kanan-kiri, saya tidak dapat menemukan keberadaan sepasang sandal kulit berwarna coklat yang dibelikan istri saya itu. Hingga tengak-tenguk menunggu hingga jamaah tinggal beberapa orang tidak ada pula tanda-tanda ada orang yang mungkin meminjam sandal tersebut dan mengembalikannya.

SandalAkhirnya saya simpulkan dan putuskan bahwa saya tidak lagi berjodoh dengan sandal saya tersebut. Meskipun sesek di dada, saya mencoba berpikir jernih dan sumeleh. Mungkin sandal tersebut lebih diperlukan dan bermanfaatan bagi orang lain. Namun demikian tentu saja saya langsung dihadapkan permasalan nyata, apakah saya harus nyeker keluar masjid dan kembali ke penginapan. Padalah sandal yang hilang itu ya satu-satunya alas kaki yang saya miliki.

Akhirnya dengan pertimbangan cepat, istri saya memutuskan untuk membeli sekedar sandal jepit. Ndilalahnya, mencari kedai atau kios penjual kasut di jam malam demikian juga sedikit repot karena kebanyakan diantaranya telah tutup. Puji syukur, setelah sekian menit menunggu, istri saja menjinjing sebuah sandal jepit biru yang dibelinya seharga RM10. Nikmatnya beribadah dengan nuansa khusyuk di negeri orang atau dimanapun mudah-mudahan tidak melupakan Anda untuk tetap waspada dan hati-hati menjaga semua barang bawaan, termasuk sandal yang berperan sangat vital.

Lor Kedhaton, 5 Februari 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Empat Hari Tiga Malam di Kuala Lumpur(6)

  1. Ping balik: Hati-hati Saat di Masjid | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s