Debar Menuju Kuala Lumpur


KL TowerKuala Lumpur, siapa yang belum pernah mendengar seronoknya ibukota Malaysia ini. Sebagai warga negara tetangga yang baik, sudah pasti kita sesekali perlu juga menengoknya. Bagaimanapun sebagai saudara serumpun kita harus sesering mungkin menjalin tali silaturahim sebagaimana pernah dilakukan oleh para pendahulu dari kedua bangsa, Indonesia dan Malaysia. Malaysia, khususnya Kuala Lumpur nampaknya semakin menjadi salah satu tujuan wisata terkemuka di Asia sebagaimana ikon Malaysia Truly Asia yang gencar diiklankan satu dekade terakhir.

Keluarga kecil Ngisor Blimbing sangat beruntung diberikan kesempatan melakukan pelancongan ke Kuala Lumpur. Kota yang lebih keren dengan sebutan KL (qi-el) ini konon merupakan kota ramah wisatawan dengan berbagai tujuan wisata yang sangat menarik. Dari dengar cerita kabar burung hingga berbagai liputan berita di televisi, menjadikan keluarga kami bertekad untuk suatu saat ingin mengunjungi KL.

Jauh hari sebelum menjelang akhir tahun, kami sudah mulai berburu tiket promo bin murah-meriah. Sebagai salah satu maskapai penerbangan terkemuka yang memasang motto “Now Everyone Can Fly”, Air Asia banyak memberikan kesempatan tiket promo kepada banyak orang. Dengan biaya penerbangan yang terjangkau, Air Asia juga turut mendukung peningkatan kunjungan ke Negeri Jiran, khususnya ke KL. Melalui pinjaman kartu kredit seorang teman, terbookinglah empat tiket tujuan KL untuk 4 anggota keluarga kami untuk tanggal 22 Januari 2015 dengan QZ200.

Detik-detik menjelang akhir tahun, justru kami dikejutkan dengan lost contact Air Asia QZ8501 rute Surabaya-Singapura pada 28 Desember 2014. Mendengar dan kemudian mengikuti perkembangan pencarian lokasi pesawat jatuh hingga evakuasi penumpang yang menjadi korban, sempat miris juga perasaan kami. Terlebih perkembangan hari-hari selanjutnya layar televisi terus mengekspos berita mengenai tragedi tersebut. Sementara itu perkembangan cuaca baik di tempat tinggal kami maupun tanah air secara umum juga menunjukkan trend ekstrimnya yang ditandai dengan curah hujan tinggi, angin kencang, serta badai. Hari-hari yang kurang nyaman untuk sebuah penerbangan, dengan maskapai yang sama lagi.

Di dera rasa khawatir dan was-was akibat dari suatu kecelakaan udara yang mengerikan, kami masih sempat menghibur hati, bukankah penerbangan kami masih cukup lama berselang. Dua-tiga minggu pasca tragedi QZ8501, kami hanya berharap bahwa segalanya sudah lebih tenang. Warta berita sudah tenang, demikian halnya cuaca juga lebih tenang dan bersahabat. Sesekali kami mengecek kondisi prakiraan cuaca di KL, trendnya sih baik-baik saja. Suhu berkisar sekitar 30 derajat Celcius dengan curah hujan yang jarang-jarang. Untuk memastikan informasi tersebut, bahkan kami sekali-kali mengontak rekan di KL.

Akhirnya hari yang dinantikan dengan penuh harap cemas tiba di depan mata. Kamis, 22 Januari 2014, satu hari berselang setelah ulang tahun si sulung, justru semenjak fajar matahari tidak menampakkan sinarnya. Sembari mempersiapkan keberangkatan, justru hujan lebat turun mendera. Dengan tentengan beberapa tas perbekalan, kami dengan susah payah berangkat dengan diantar sbeuah taksi.

Sesampai di bandara Soekarno-Hatta, hujan belum juga reda. Bahkan sesaat setelah kami melakukan check-in dan memasuki ruang tunggu setelah proses meja imigrasi, hujan turun semakin deras. Jelas perasaan kami kian bercampur-aduk. Inilah perjalanan kami sekeluarga dengan penerbangan di tengah suasana dan cuaca yang serba tidak mengenakkan. Sekian lama menunggu, justru pengumuman yang diperdengarkan pesawat kami mengalami penundaan dua jam. Hal itu semakin menambah keringat dingin bercucuran justru di tengah dinginnya suasana hujan lebat. Tentu saja perasaan kami semakin tidak karuan.

Sekian lama tenggelam dalam perasaan cemas, muncul sebuah pengumuman untuk calon penumpang QZ200 untuk mengambil invesement di counter petugas. Dengan segera saya mengikuti barisan penumpang yang lainnya. Rupanya invesment yang diberikan oleh pihak maskapai akibat penundaan tersebut berupa lunch box berisi nasi putih, sayur dan potongan lauk ditambah segelas air putih. Lumayan juga sekedar meregangkan ketegangan pikiran dan perut. Segera saya memulai untuk menyantap sajian makan siang tersebut. Belum habis setengah hidangan, datang pengumuman lanjutan. Pesawat sudah siap dan penumpang dipersilakan segera boarding. Welha dalah, dengan bergegas kami menuju pintu boarding. Dan syukurnya lagi, hujan sudah reda. Meski langit masih tetap tertutup mendung tetapi suasana sudah sedikit lebih terang. Terus terang hal ini sangat menenangkan kami.

KLCCSetelah sekian lama persiapan di jalur runway bandara, akhirnya pesawat take-off dengan sempurna dari Soekarno-Hatta. Namun demikian, rasa was-was tentu saja belum sama sekali sirna. Sepanjang perjalanan, gumpalan awan dan mendung menghadang laju pesawat. Beberapa kali sempat terjadi guncangan cukup kencang. Pesawat yang tidak sepenuhnya terisi penumpang tersebut nampak lengang dengan para penumpang yang memilih terpekur di kursi masing-masing. Mungkin banyak diantaranya yang tertidur atau merenung dalam doa.

Sekira dua jam kurang sedikit, akhirnya QZ200 mendarat selamat di KLIA2 sebagaima waktu normal penerbangan. Hatipun serasa plong dan terasa amat sangat lega. Welcome to KL, happy nice days in Kuala Lumpur. Inilah saatnya memulai dan menikmati pelancongan keluarga kami.

Lor Kedhaton, 26 Januari 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s