Hujan Sehari-hari


BanjirHarmoniHujan memang sebuah anugerah. Butiran air hujan yang tercurah dari langit akan membasahi apapun yang dijatuhinya di permukaan bumi. Dedaunan, rerantingan, dedahanan, hingga pepohonan yang basah kuyup ketika tersiram air hujan. Demikian halnya dengan tanah, batu, dan gunung-gunung.

Air yang jatuh hingga permukaan tanah, sebagian diantaranya akan terserap masuk ke dalam lapisan humus, tanah keras hingga batuan penyusun kerak bumi. Dengan kehadiran air, mineral-mineral yang terdapat di lapisan tanah akan turut hanyut atau terlarut di dalam air. Jadilah larutan mineral-mineral penting yang sebagian diantaranya akan terserap melalui mekanisme kapilerisasi akar. Mineral tersebut selanjutnya masuk ke dalam jaringan batang pohon, dahan, ranting, hingga akhirnya sampai di sel hijau daun. Mineral-mineral saripati bumi inilah yang menjadi bahan mentah proses fotosintesis dengan bantuan cahaya matahari. Dari proses inilah dihasilkan karbohidrat atau protein dan pastinya oksigen untuk pernafasan sebagian besar makhluk hidup. Dari sinilah mata rantai kehidupan berawal.

Mengingat air menjadi asal usul mata rantai kehidupan sebagaimana urain di atas, maka sangatlah tepat jika air disebut sebagai kebutuhan paling primer dan menjadi prasyarat berlangsungnya kehidupan. Tanpa asupan bahan makanan, konon manusia masih dapat bertahan hidup selama beberapa hari bahkan minggu. Akan tetapi tanpa air, hanya hitungan jam maka mekanisme biologi manusia akan terganggu. Terlebih jika manusia tanpa asupan nafas oksigen, konon hanya dalam hitungan menit manusia bisa mengalami kondisi kritis yang dapat berujung kepada kematian.

Air, sebagaimana benda atau makhluk yang lain, bermanfaat bagi manusia tentu saja dalam jumlah dan kualitas yang memadai alias proporsional. Akan tetapi jika air berkelebihan jumlah dan volumenya, bisa jadi air justru akan menghadirkan bencana. Ada banjir, tanah longsor, tsunami merupakan beberapa contoh bencana berbasis air yang seringkali menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit.

Januari sebagaimana jarwo dhosok yang dikenal orang Jawa sering diasosiasikan dalam ungkapan “hujan sehari-hari”. Setiap hari hujan turun dengan curahan yang tinggi, sebagaimana yang kini tengah kita rasakan di paruh akhir bulan ini. Udan miwis udane ra uwis-uwis, demikian istilah para simbah-simbah.

Dalam kondisi hujan yang sehari-hari bahkan setiap saat turun, seringkali hal ini menjadikan terhambatnya beberapa aktivitas atau rutinitas kita sehari-hari. Terkadang atau bahkan seringkali secara tidak sadar kita mempermasalahkan hujan. “Ya, hujan lagi. Hari gini kok sudah hujan. Mana mataharinya?” Demikian beberapa ungkapan yang sering terbersit di pikiran kita atau mungkin terucap melalui lisan kita. Secara manusiawi hal tersebut mungkin memang wajar. Diberikan cuacana panas, berkeluh kesah tentang kapan datangnya hujan. Dikasih hujan, minta panas, minta cerah.

Adalah Tuhan Yang Maha Esa memiliki kekuasaan penuh untuk mengatur segala sunatullahnya alam. Peredaran waktu, cuaca, musim, hingga iklimpun merupakan sunatullah-Nya. Dengan kesadaran pola pikir demikian, kita hendaknya sadar bahwa manusia hanya sekedar menjalani segala hal yang telah menjadi ketentuan-Nya. Tentu saja termasuk soal hujan tadi. Bahkan pada suatu ketika saat saya mengeluhkan hujan yang deras mendera sehingga perjalanan pulang dari kantor terhambat, si Ponang yang berada di samping saya segera mengingatkan bapaknya, “Nggak boleh ngeluh sama hujan Pak! Hujan kan rahmat Allah.”

Jadi bijaklah dalam hidup. Ambil hikmahnya dan ambil indahnya. Semua sekedar menjalani ketentuan.

Lor Kedhaton, 21 Januari 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s