Ilusi Demokrasi


Ada satu ungkapan penting yang sangat saya ingat yang terlontar dari sekian ungkapan Cak Nun pada Kenduri Cinta Edisi Januari 2015 ini. Sebuah ungkapan yang langsung menohok hal yang sangat mendasar yang kita yakini bersama sebagai sebuah tata nilai, bahkan sistem, dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ini soal demokrasi.

Sebagaimana kita pahami bersama, demokrasi telah menjadi pilihan banyak negara di dunia untuk dijadikan landasan sistem pemerintahan. Berasal dari ungkapan bangsa Yunani, demos dan kratos, demokrasi sering dimaknai dan diingat sebagai dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat. Intinya bahwa kedaulatan tertinggi sebuah negara terletak di tangan rakyatnya. Meski dalam pelaksanaan kedaulatan tersebut dikarenakan jumlah rakyat suatu negara yang sangat banyak, kemudian diterapkan dengan sistem perwakilan rakyat yang duduk di dewan yang terhormat.

Namanya juga negara Indonesia. Seiring dengan kemajuan dunia komunikasi, terutama aplikasi internet dengan media sosialnya, ditambah lagi dengan semakin banyaknya media nasional elektronik maupun massa yang semakin tidak independen dan proporsional dalam menyampaikan warta,  maka justru distorsi-distorsi nilai yang melemahkan nilai-nilai demokrasi semakin tumbuh subur.

Melalui propaganda penyebarluasan infomasi melalui berbagai media, seringkali seorang tokoh melakukan berbagai aksi pencitraan diri. Ketika masyarakat luas yang sudah sekian lama memimpikan hadirnya perubahan melalui tokoh-tokoh yang belakangan muncul dan berkibar, masyarakat tiba-tiba terkena sindrom gampang gumunan, gampang kagetan, mudah terkagum-kagum, dan kemudian hidup mati membela tokoh-tokoh yang disodorkan media tersebut. Fenomena ini saya rasa tidak timbul serta-merta, tetapi merupakan buah konspirasi tingkat tinggi peletakan nilai ketokohan, kepemimpinan, kredibilitas dan kapabilitas seseorang yang diukur dari parameter popularitas. Semakin orang terkenal di media massa, di media sosial, maka semakin layak dan percaya diri sang tokoh untuk mencalonkan diri sebagai wakil rakyat atau pemimpin.

Melalui rekayasa pencitraan tingkat tinggi, tokoh pendosa bisa dicitrakan menjadi orang suci, bahkan ditokohkan laksana wali dan nabi. Pembohong bisa jadi orang paling jujur. Koruptor bisa menjadi pahlawan. Maling bisa menjadi idola. Semua karena polesan media online maupun off line.

Kondisi demikian bukannya menjadikan kemajuan dunia teknologi dan informasi sepenuhnya menjadi berkah yang bisa didayagunakan untuk mendukung pembangunan, tetapi tanggapan atas kemajuan tersebut yang tidak bijak, selaras, dan harmonis dengan nilai-nilai sosial kemasyarakatan yang kita akui sebagai nilai positif, apakah yang bersumber dari agama, adat dan tradisi, maupun ilmu serta kebudayaan, justru menjadi buah simalakama bagi negeri yang terus didera badai ini. Kita kini semakin sulit untuk menilai mana tokoh yang berkualitas dan mana sekedar tokoh yang dusta penuh kepalsuan dengan pencitraannya. Kita semakin tidak tahu mana yang kerikil dan mana yang mutiara sejati. Dan celakanyanya hal ini berimbas kepada pilihan politik kita ketika memilih pemimpinan yang kita amanati untuk mengurus negeri ini.

Kerikil dan mutiara, secara asal-usul memang sudah sangat berbeda. Demikian halnya dengan misi, tujuan dan tugas keberadaannya di alam semesta pasti juga berbeda. Antara kerikil dan mutiara yang jelas-jelas berbeda substansi kebendaannya memang tidak akan pernah bisa dan setara untuk diperbandingkan. Kerikil memiliki derajat kemuliaannya sendiri. Demikian halnya dengan mutiara. Namun justru pesan terpenting dari Tuhan mengenai segala keberagaman yang Ia gelar di semesta alam raya adalah agar bagaimana manusia bisa menempatkan sesuatu dengan tepat berdasarkan ruang dan waktu maqom-nya masing-masing. Dimana kerikil harus berada, dimana mutiara harus diletakkan. Ini prinsip yang terpenting. Ini urusan pantas dan tidak pantas, tepat dan tidak tepat!

Nah, seiring dengan demokrasi di negeri ini kok kayaknya kita telah membuat keputusan-keputusan pribadi maupun kolektif yang berkaitan dengan ketidaktepatan menempatkan sesuatu atau tokoh-tokoh tertentu dalam posisi yang seharus tidak ia tempati. Bukankah Tuhan sudah sangat tegas mengingatkan jika kita ingin melihat suatu kehancuran dalam suatu urusan, maka serahkanlah urusan tersebut kepada yang bukan ahlinya. Serahkan suatu amanat kepada orang yang memendam karakter pengkhianat.

Kelasnya seorang hamba tidak akan pernah bisa diposisikan untuk menjadi pemimpinan orang banyak. Kelasnya murid tidak akan pas untuk menempati menjadi guru. Meski segala kemungkinan sangat dinamis dan hal tersebut bukan suatu kepastian yang berharga mati, namun setidaknya segala prasyarat dan proses panjang harus dijalani untuk mengkarakterisasi diri sesorang meningkat kualitasnya dari sekedar kelas kerikil berubah menjadi kelas mutiara. Nah, sayangnya media kita dan juga masyarakat kita dewasa ini telah terjebak menjadi komunitas yang tidak bersabar dan percaya dengan suatu proses panjang. Inginnya semua serba instan dan cepat.

Informasi yang tidak jujur dan akurat justru menjadikan distorsi informasi yang membawa kepada ilusi demokrasi. Inilah realitas hidup kita saat ini.

Lor Kedhaton, 19 Januari 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ilusi Demokrasi

  1. rike jokanan berkata:

    ditunggu upload-an di Youtube….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s