Gas Elpiji Langka Lagi


Jaman modern katanya harus diikuti dengan pola pikir, sikap, dan tindak yang modern pula. Demikian halnya dengan berbagai peralatan pendukung aktivitas sehari-hari juga harus berbau teknologi serba modern nan canggih. Urusan teknologi modern ini bahkan sudah memasuki ranah dapur di rumah kita. Memasak dengan kayu? Atau arang barangkali? Kompor minyak tanah? Ya, ketinggalan jaman dong! Kuno!

Urusan masak-memasak ya harus dengan kompor gaslah! Bahkan era gas telah menyelusup hingga ke pelosok kampung dan dusun. Bahkan para simbah dan mbokdhe-mbokdhe yang tidak pernah mengenyam bangku sekolahanpun tahu dan fasik menyebut gas elpiji. Gas elpiji sudah menjadi komoditas kebutuhan pokok sebagian besar masyarakat kita. Di daerah  pedesaan dimana dulunya untuk urusan tungku menyala sangat menggantungkan keberadaan kayu bakar, kini hampir semuanya beralih ke gas elpiji. Modernisasi bisa jadi memang menjadi alat untuk mempercepat transformasi masyarakat tradisional menjadi modern.

Pergeseran penggunaan bahan bakar kayu dan minyak tanah menjadi gas elpiji ini telah menimbulkan ketergantungan yang tinggi terhadap keberadaan gas elipiji di pasaran. Gangguan yang terjadi terhadap stok gas elpiji di pasaran akan sangat mengganggu stabilitas dapur di setiap rumah tangga kita. Dan hal inilah yang dalam beberapa minggu-minggu akhir ini tengah keluarga kami rasakan.

Sebagai sebuah keluarga kecil yang menjalani hidup ala kadarnya, keluarga kami termasuk pelanggan gas elpiji yang dipasarkan dalam kemasan ukuran 3 kg. Tentu saja pertimbangan skala kebutuhan, keterjangkauan harga, dan juga kemudahan pembeliannya menjadi dasar keluarga kami memilih elpiji ukuran tersebut dan tidak menentukan pilihan kepada ukuran tabung yang lebih besar.

Selama hampir mempergunakan atau berlangganan gas elpiji ukuran 3 kg, untuk urusan ketersediaan pasokan di lingkungan tempat tinggal kami sebenarnya bisa dikatakan nihil masalah ataupun kalau ada tidak pernah hingga menimbulkan ketidakstabilan yang mengganggu stabilitas dapur kami. Tetapi kok justru akhir-akhir ini, bersamaan dengan adanya kenaikan harga BBM pada akhir tahun kemarin mulai terjadi kelangkaan atau pasokan tabung gas yang tidak lancar. Tentu saja kami hanya bisa berkeluh kesah diantara sesama tetangga yang mengalami nasib yang serupa.

Ngobrol ngalor-ngidul dengan para tetangga, akhirnya sampai juga obrolan kami menyentuh peranan pemerintahan negara kita yang masih seumuran jagung ini. Sebagai imbas kenaikan harga BBM, tentu saja harga semua kebtuhan hidup kita juga melonjak naik. Harga semua jenis produk barang dan jasa tentu saja harus menyesuaikan dengan variabel produksi yang berakaitan dengan harga BBM. Imbas yang paling terasa bagi pengguna transportasi umum seperti saya tentu saja adalah kenaikan tarif angkutan yang menambah beban anggaran rumah tangga cukup berat.

Baru kira-kira satu bulan menaikkan harga BBM di tengah harga minyak dunia yang cenderung menurun, pemerintah kemudian menurunkan harga BBM. Konon pemerintah berasalan bahwa langkah ini merupakan wujud keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Cilakanya, meskipun pemerintah menerapkan kebijakan penurunan harga BBM, tetapi mekanisme pasar tidak secara otomatis meresponnya dengan menurunkan harga barang dan jasa yang sudah terlanjur naik sebelumnya. Harusnya jika memang kebijakan pemerintah tersebut berpihak kepada rakyat, di samping kebijakan menurunkan harga BBM, harus juga diiringi dengan kebijakan dan langkah-langkah untuk mengintervensi pasar agar harga-harga juga turut turun. Tetapi mungkin hal ini tidak dilakukan.

Sekedar mencermati fenomena-fenomena berbagai kebijakan pemerintah pusat yang sekarang ini pada awalnya publik sempat merasakan harapan akan adanya banyak perubahan ke arah yang lebih baik. Namun di usia pemerintahan yang baru seumuran jagung ini kok harapan-harapan tersebut agak kian meredup dengan berbagai kebijakan blunder yang diambil pemerintah. Soal gaya kerja para menterilah, soal penentuan Jaksa Agunglah, dan yang paling hangat ya soal pengajuan calon Kapolri dari sosok yang diendus memiliki rekening gendut dan telah mendapatkan rapot merah dari KPK dan PPATAK. Kok bisa? Apakah pengelolaan negara kita justru semakin mengandalkan teori untung-untungan dan coba-coba dimana setiap keputusan penting dan strategis tidak dirumuskan dengan data, informasi, dan kajian yang mendalam. Oalah Indonesia!

Nah kembali ke soal kelangkaan gas elpiji ukuran tabung 3 kg, apakah di tempat lain juga mengalami hal serupa? Ataukah ini sebagai sebuah pertanda akan naiknya harga? Ampun pemrentah!

Lor Kedhaton, 14 Januari 2015

Foto dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s