Tipu-tipu Rasa Tahu(2)


Senerek3   Senerek4

Rasa soal tipu-tipu rasa tahu yang sudah saya tuliskan minggu lalu masih terasa belum tuntas. Sampeyan juga pasti paham kan, jika sesuatu tidak terselesaikan secara tuntas-tas serasa masih ada sesuatu yang mengganjal di pikiran. Terasa sangat nggriseni, bahkan mungkin menggelisahkan.

Begini sedulur, soal contoh menu tahu bakso yang dijajakan di sebuah mall tersebut menurut saya hanya merupakan salah satu contoh menu sajian di berbagai tenan foodcourt yang sering mengecewakan, tentu saja dari sudut pandang soal cita rasa dan harga. Saya pribadi sebenarnya mungkin termasuk termasuk orang yang tidak terlalu mengejar cita rasa untuk sekedar memanjakan lidah. Bagi saya nikmat atau enak itu lebih didasari oleh keadaan perut yang lapar. Lauk-pauk paling indah untuk kita menikmati suatu santapan itu ya rasa lapar tadi. Hal ini juga didorong oleh prinsip dasar “makanlah tatkala perut lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang”.

Namun bagaimanapun juga saya juga hanya sekedar orang pinggiran yang terbiasa juga makan ala kadarnya di pinggiran jalan. Dari sekedar warung tenda ataupun pedagang keliling kaki lima, sangat sering saya nikmati sajian yang dijualnya. Pun saya sering sekedar mampir di warung-warung sederhana yang juga menyajikan menu sederhana. Tentu saja soal sajian bersih dan halal tetap menjadi standar dasar yang tidak boleh ditawar.

Namun demikian, dari kedua tempat penyajian yang berbeda tersebut saya kok merasakan ada hal-hal yang sangat membedakan, bahkan secara prinsipil dari dua jenis cara dan tempat penjualan menu makanan pelipur lapar tersebut. Katakanlah kedua tempat tersebut masing-masing mewakili dua genre yang berbeda, satunya modern dan satunya tradisional. Atau bisa juga dilihat dari sisi, genre mahal dan murah, genre makanan elit dan makanan ekonom sulit, makanan orang kaya dan makanan orang papa, atau bahkan terkadang mewakili konsep kota dan desa. Lho kok ruwet men! Bagaimana nalar logikanya?

Soto1Begini, pernah baca tulisan saya soal soto yang satu ini, “Soto Kebersahajaan, Soto Keberkahan“? Atau bisa juga postingan mengenai Sop Snerek, Menu Spesial dari Magelang ? Kedua menu soto dan sop snerek tersebut dijajakan di warung sederhana pinggir jalanan. Tetapi soal cita rasa, saya berani jamin kelasnya melebihi kelas berbagai menu makanan yang dijual di mall-mall. Belum lagi soal harga, tentu saja murah meriah atau bagi kalangan orang berada mungkin ada yang menganggapnya tidak ada harganya sama sekali karena saking murahnya menurut ukuran kantong mereka.

Lalu kira-kira apa kunci perbedaaannya? Masih menurut analisis pribadi saya (mohon maaf, karena saya bukan pakar kuliner sebagaimana Pak Bondan), tetapi paling tidak saya mengandalkan lidah yang dipadukan dengan empati hati untuk menilai sebuah sajian menu makanan.

Berbagai menu makanan yang dikatakan sebagai makanan tradisional, makanan ndeso, ataupun makanan pinggir jalanan justru dibuat dengan sepenuh hati oleh penjajanya. Rasa sepenuh hati ini mungkin menjadi rahasia keberkahan sebuah sajian. Bahkan tidak sedikit jualan yang mereka lakukan sudah mendarah daging menjadi jalan hidup keluarga secara turun-temurun dengan resep super nyampleng yang terkadang menjadi rahasi warisan yang sangat berharga. Dalam hal ini mereka jauh lebih unggul soal kesungguhan, soal totalitas menjalani pilihan hidup.

Ada lagi satu nilai yang jauh lebih luar biasa yang masih didasari hati nurani. Soal niatan atau itikat jualan. Orang-orang kecil, para simbok atau bahkan simbah-simbah para penjual makanan tradisional yang sederhana tersebut masih banyak yang melandaskan profesi jualan mereka sebagai profesi berbagai atau melayani sesama. Berjualan bukan semata-mata mencari keuntungan, tetapi menjajakan makanan itu soal bagaimana menolong orang lain yang sedang kelaparan. Dari kedua sudut pandang ini saja kita bisa melihat secara gemblang betapa mereka sangat transedental, bahkan sufistik dalam menjalani keseharian berjulannya. Semua dilandasi atau didorong oleh nilai migunani tumrap liyan yang bersendikan nilai tradisi dan agama.

Bandingkan dengan penjaja makanan di mall-mall tadi ataupun restoran mewah bin modern! Saya berani bertaruh bahwa motivasi utama berjualan ya mencari untung. Bagaimanapun semaksimal mungkin dengan modal yang sekecil-kecilnya harus menghasilkan laba yang sebesar-besarnya. Bicara soal jual-beli, soal bisnis, bukan lagi soal berbagi dan melayani sesama, terlebih beribadah, jual-beli yang mencari laba. Dan laba itu hanya khusus terdedikasi untuk perutnya sendiri, atau keluarganya, atau konglomerasinya masing-masing. Tidak lagi dipertimbangkan sebuah langkah untuk kemaslakhatan terhadap sesama. Betapa kapitalistik bukan?

Coba kita bayangkan saja, sebuah soto di warung soto pojokan jalan hanya dibandrol seharga 8-10 ribu rupiah bahkan mungkin masih banyak yang lebih murah setiap porsinya, namun mampu mengenyangkan banyak orang. Para sopir, tukang becak, mahasiswa, pelajar, pegawai kecil sangat terbantu untuk sekedar menunaikan kewajiban menegakkan tulang punggung. Tokh bagi orang kecil, soal makan memang soal kewajiban untuk memenuhi hak biologis (meski sangat kaya makna filosofisnya).

Bandingkan soto di mall atau di restoran  juga hotel mewah, bisa saja berharga 30-100 ribu rupiah per mangkoknya. Bandingkan soal cita rasanya? Meski hanya bisa dibilang pernah merasakan (itupun traktiran rekan), tetapi yang saya rasakan kok sepo tanpa rasa. Namun yang selalu membuat saya heran, kok ya ada saja bahkan banyak pembelinya ya? Apa mereka yang selalu membeli hidangan malah itu belum pernah mencoba menu pinggiran jalan yang nikmat luar biasa sehingga tidak pernah memiliki referensi untuk membandingkan menu yang nikmat, lezat bercita rasa tinggi dengan menu sepo bin menguras kantong?Dengan uang segitu, berapa mangkok soto lezat bin murah yang bisa dibagi-bagikan kepada orang yang kelaparan?

Jelas ini soal gengsi, soal prestise yang dibangun oleh kaum the have yang sehari-hari senantiasa diiklankan gencar-gencaran di berbagai media. Mau bergaya, mau dikatakan orang kaya, orang sukses, orang modern, ya makannya harus di tempat-tempat yang mencirikan kemewahan, dan yang pasti berharga mahal.

Saya jadinya grundel sendiri, gimana orang tidak korup dan mempraktekkan korupsi jika sekedar untuk makan siang saja harus merogoh ratusan ribu rupiah untuk mengenyangkan satu perut. Hitung saja jika hari liburan membawa serta seluruh keluarga jajan di tempat elit tadi, mungkin jutaan rupiah sekejap ludes masuk perut dengan menu yang ngaudubillah tadi. Mungkin negeri ini memang sudah sangat kronis sakit jiwanya.

Lor Kedhaton, 12 Januari 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s