Laron Pencari Tuhan


Pernahkah kita mengalami suasana kegelapan? Misalkan pada suatu malam, listrik di rumah kita padam dan seketika suasana menjadi gelap gulita karena lampu-lampu penerang juga padam, kira-kira apa yang akan kita lakukan?

LaronPada saat berada di kegelapan, sebagai manusia yang dilengkapi dengan indera mata untuk penglihatan, secara naluri alamiah kita pastinya akan mencari keberadaan suatu sumber cahaya. Keberadaan sorotan cahaya betapapun samarnya, akan dapat memandu kita untuk melihat sesuatu, untuk merasakan suasana sekitar, dan tentu saja untuk memposisikan diri kita pada suatu ruang dan waktu tertentu. Akhirnya meskipun dalam suasana gelap tanpa lampu, kita akan mengandalkan insting serta pengetahuan di memori pikiran kita mengenai ruang maupun barang-barang di berbagai sudut rumah kita. Maka tidak mengherankan jika dalam kondisi gelap tersebut kita akan mampu menemukan tempat dimana kita menyimpan korek api, lampu senter, lampu emergency, lilin, ataupun sumber cahaya yang lainnya.

Dari ilustrasi peristiwa matinya listrik sekaligus lampu penerang di rumah kita tadi, saya ingin menegaskan bahwasanya pada saat kita terbawa dalam suasana gelap, maka secara insting alamiah kita akan berusaha keluar dari suasana gelap tersebut. Naluri manusia akan membimbingnya untuk mencari sumber cahaya, mencari penerang, dan sekaligus meninggalkan suasana kegelapan yang membuat jiwa-raganya tidak menemukan kenyamanan. Manusia senantiasa ingin berpindah dari kegelapan kepada terangnya cahaya, mina dzulumati illannur.

Naluri menuju cahaya ini ternyata tidak hanya berlaku pada diri makhluk Tuhan yang bernama manusia saja. Ambil contoh pada tumbuh-tumbuhan. Semenjak kecambah biji ditanam, maka tunas yang tumbuh daripadanya akan tumbuh merambat atau bergerak menjauhi kegelapan lapisan bumi. Secara alamiah tunas itu berusaha mencari arah datangnya cahaya yang dapat diinderanya. Kalau masih kurang yakin, lakukanlah suatu percobaan dengan menempatkan benih kacang-kacangan yang ditaruh di atas media kapas basah. Kemudian tempatkanlah benih tersebut pada sebuah kotak almari yang kedap cahaya. Perhatikan kemanakah arah pertumbuhan tunas yang muncul? Ya, jawabnya ia akan bergerak menuju sumber cahaya. Ia tumbuh ingin merengkuh cahaya matahari. Demikian halnya pucuk-pucuk pepohonan akan berusaha menggapai matahari di angkasa raya.

Satu lagi contoh makhluk hidup yang senantiasa merindukan cahaya. Anda tahu laron? Jenis serangga bersayap lembut ini seringkali muncul bersamaan dengan musim penghujan. Hewan yang pada awalnya bersarang di kedalaman tanah ini menempati rongga-rongga tanah yang gelap membentuk suatu sistem koloni yang besar. Di dalam koloni tersebut terdapat para rayap yang bertugas sebagai pekerja dan prajurit. Ada pula rayap-rayap betina yang tugasnya bereproduksi. Saya hingga kini tidak tahu persis laron ini termasuk kelompok yang mana dalam koloni tersebut.

Pada waktu hujan datang, di samping mengalir di permukaan, air juga meresap ke dalam tanah serta mengisi rongga-rongga yang ada. Dalam kondisi demikian, seringkali sarang koloni laron juga terkena genangan air alias banjir. Hal ini memaksa di laron keluar dari sarangnya melalui lubang-lubang di tanah yang terbentuk secara alamiah. Bisa dibayangkan apa yang dilakukan oleh laron yang sekian waktu terbiasa hidup di kegelapan rongga tanah. Begitu keluar di kala senja atau malam hari, maka laron-laron tersebut akan mengepakkan sayap dan terbang menuju sumber cahaya. Maka demikianlah yang mendorong laron mengerubungi lampu-lampu yang menjadi sumber cahaya di kegelapan malam hari.

Kenapa dari manusia, tumbuhan dan binatang yang saya contohkan di atas memiliki naluri ingin berpindah dari kegelapan menuju kepada cahaya? Dari beberapa ustadz dan narasumber, disebutkan di dalam Surat An Nur ayat 35 bahwasanya “Allahunnurus samaawati wal ardzi”, Allah itu cahaya langit dan bumi. Setiap makhluk ciptaan Tuhan merupakan derivatif dari zat dan sifat-sifat Tuhan yang akan melekat menjadi naluri atau fitrah makhluk hidup. Hal ini menyebabkan setiap makhluk akan memiliki kecenderungan ingin mendekat atau kembali kepada asal-usul yang mendasari penciptaanya, yaitu Tuhan. Karena Tuhan adalah cahaya, maka amatlah logis ketika suatu makhluk berada di kegelapan, maka instingnya akan membimbing menuju cahaya. Cahaya sejati, cahaya maha cahaya. Itulah Tuhan Allah SWT.

Ngisor Blimbing, 5 Januari 2015

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Laron Pencari Tuhan

  1. Ivan Purnawan berkata:

    Betul..betul..betul…“Allahunnurus samaawati wal ardzi”, petheng ndedet tetep padhang

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s