Mengajarkan Batita Bahasa Asing, Pentingkah?


Jaman memang bergulir ke era global. Setiap hal tidak lagi dipandang dari sudut lokal dan nasional, tetapi harus diperluas ke tingkat regional hingga internasional. Interaksi manusia tidak lagi tersekat-sekat dalam batasan geografis dan negara. Seolah masyarakat dunia ke depan akan semakin cair dan membaur satu sama lain. Dari sudut pandang inilah, bahasa memiliki peranan sangat strategis sebagai sarana untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Dikarenakan interaksi manusia sudah melampaui batasan negara, maka mau tidak mau dan suka tidak suka, penguasaan bahasa asing menjadi sedemikian penting. Mbah Kakung dan cucu

Lalu sejak kapankah para orang tua harus mulai memperkenalkan penggunaan bahasa asing? Apakah penting memperkenalkan bahasa asing sejak usia batita?

Pertanyaan tersebut justru pertama kali dilontarkan oleh Firesta Farizal, M.Psi (Mbak Eta) selaku narasumber obrolan Nangkring Parenting bersama Mentari Anakku: Batita Belajar Bahasa Asing, Penting? Narasumber adalah seorang praktisi dosen Psikologi di Universitas Atmaja Jaya, sekaligus Direktur Klinik Psikologi dan Pusat Terapi Anak “Mentari Anakku” di Tangerang.

Pak Giri, salah seorang peserta acara tersebut memberikan respon bahwa mengajari batita bahasa asing belum penting. Menurutnya, dia belum mengajari anak batitanya bahasa asing karena khawatir si buah hati justru akan bingung dalam menghafal kosa kata dan berinteraksi. Ia justru lebih mengutamakan pengajaran bahasa daerah sebagai warisan jati diri bangsa kepada anak-anaknya di masa batita.

Mbak Rodami, peserta yang lain justru menganggap penting untuk mengajarkan anak bahasa asing pada usia dini. Ia berasalan bahasa asing kelak akan sangat membantu anak-anaknya, baik untuk proses pendidikan maupun karir di masa depannya. Ia sangat menyadari tantangan globalisasi jaman yang harus dipersiapkan oleh setiap orang tua dengan memberikan pondasi pengetahuan yang sebaik-baiknya, termasuk bahasa asing.

Nadya1Secara panjang lebar, narasumber kemudian membeberkan. Penting atau tidak penting bisa jadi sangat tergantung kepada tujuan masing-masing orang tua atau keluarga. Bagi keluarga yang merupakan campuran kewarganegaraan, katakanlah si suami atau justru istrinya berbeda negara, tentu menginginkan anak-anaknya dapat berkomunikasi dengan nenek-kakenya dan keluarga besar kedua belah pihak. Bisa juga bagi keluarga yang dalam beberapa bulan ke depan akan berpindah tempat tinggal ke negera lain, mereka tentu membutuhkan kemampuan berbahasa asing, termasuk anak-anak yang meskipun masih usia batita atau balita. Dalam kedua kondisi tersebut, mengajarkan atau memperkenalkan bahasa asing bagi anak-anak sejak usia dini mungkin menjadi penting.

Perlu diingat dampak, juga keuntungan dan juga kelemahan jika orang tua atau keluarga ingin memperkenalkan bahasa asing sejak usia batita. Tentu saja ada dampak positif dan negatif yang harus benar-benar dipahami. Diantara beberapa dampak positif ketika semenjak batita anak diperkenalkan terhadap bahasa asing, misalnya memudahkan komunikasi, memperkaya kosa kata anak, dan bahasa asing akan menjadi bekal masa depan anak kita. Namun demikian perlu diwaspadai pula dampak negatif yang dimungkinkan bisa timbul juga, seperti timbulnya kebingungan si buah hati yang justru menjadikan hambatan dalam berinteraski dan berkomunikasi, pencampuradukan penggunaan beberapa bahasa dalam satu kalimat, hingga kemungkinan si buah hati justru ngambek atau tidak mau berbicara.

Terus bagaimana nih? Mau serius mengenalkan bahasa asing kepada anak semenjak batita apa tidak ya? Pertimbangkan baik-baik dua hal berikut. Pertama, selama anak dan keluarga tinggal di Indonesia sangat penting untuk terlebih dahulu memperkenalkan bahasa Indonesia. Di samping sebagai bahasa ibu untuk berkomunikasi sehari-hari, bahasa Indonesia perlu diperkenalkan dalam rangka pembentukan karakter bangsa dan pelestarian bahasa nasional. Mungkin juga perlu tetap mengajarkan anak terhadap bahasa daerah agar keberadaannya tidak punah.

Poin kedua, pertimbangkan si anak-anak untuk jangka waktu terdekat khususnya, akan berkomunikasi dengan siapa saja? Jika memang keluarga merupakan sebuah keluarga campuran, tentu hal ini menjadi kebutuhan. Tetapi jika bukan pada prioritas ini, agar tidak menimbulkan kebingungan dan penguasaan anak terhadap bahasa ibu, lebih baik pengenalan terhadap bahasa asing ditunda hingga si anak benar-benar telah memiliki landasan penguasaan bahasa ibu yang baik. Di sinilah orang tua harus meletakkan prioritas.

Dari para peneliti dan praktisi pemerhati tumbuh kembang anak, ada dua pendapat mengenai pengenalan bahasa asing kepada anak-anak. Pendapat pertama menganjurkan pengenalan primary language first dengan pertimbangan bahasa kedua lebih baik diberikan setelah bahasa pertama (utama) matang (biasanya setelah usia 2 tahun). Hal ini untuk menghindarkan anak dari kebingungan mengenali maupun mempergunakan bahasa. Adapun pendapat ke dua sebaliknya, bilingual from beginning atau mengajarkannya semenjak awal. Pendapat ke dua ini dilandasi keyakinan bahwa otak manusia sangat hebat sehingga dengan sendirinya akan mampu memisahkan kedua bahasa dengan baik. Ada juga keuntungan pelafalan terhadap kosa kata dalam bahasa asing akan lebih fasih karena sudah terbiasa diucapkan semenjak dini.

Ratu Boko7Dengan demikian perlu atau belum perlunya orang tua mengajarkan atau memperkenalkan bahasa asing untuk anak usia dini harus dipikirkan mengenai tujuannya dan disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak, terutama perkembangan kemampuan berbahasanya. Anak dengan keterlambatan perkembangan bahasa lebih baik fokus mempelajari satu bahasa terlebih dahulu. Di samping itu perlu dilihat pula kebutuhan si buah hati dalam aspek tumbuh kembang yang lain, terutama yang berkaitan dengan ketertarikan ataupun minat bakatnya.

Lalu kalau pilihan yang diambil ingin memperkenalkan anak dengan dua atau beberapa bahasa sekaligus (bilingual from beginning), maka harus ada pembagian peran antar ayah-ibu, atau orang dewasa di dalam keluarga. Misalnya si ayah fokus mengajari bahasa asing, sedangkan berkomunikasi dengan bahasa ibu. Perlu juga pembiasaan agar masing-masing bahasa tidak dicampuradukkan dalam satu kalimat. Dan yang tidak kalah penting adalah konsistensi untuk menerapkannya.

Di sesi tanya jawab, para peserta nangkring sangat aktif menyampaikan pertanyaan maupun saling berbagi pengalaman. Beberapa pertanyaan yang muncul menyangkut bagaimana orang tua bersikap dengan respon-respon positif dan penguatan ketika si anak memperlihatkan rasa ingin tahu, rasa ingin belajar sesuatu yang baru, termasuk ketika ingin menggunakan bahasa asing. Ada juga Mbak Indah yang bersuamikan orang Hongaria berbagi pengalaman mengenai ketiga anaknya yang kini fasih berbahasa Hongaria, Indonesia, dan bahasa Inggris dari pembiasaan orang tua berkomunikasi semenjak usia dini.

Secara keseluruhan saya mendapatkan pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang sangat berharga dan menginspirasi mengenai bagaimana orang tua bersikap serta bertindak untuk memperkenalkan anak-anak dengan bahasa asing semenjak ini. Acara semakin terasa istimewa karena diliput oleh Kompas TV untuk sebuah program acara yang akan tayang pada pertengahan Januari tahun depan.

Ngisor Blimbing, 20 Desember 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Sastra dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Mengajarkan Batita Bahasa Asing, Pentingkah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s