Tuhan Tuhan Batu


Sejak di bangku sekolah dasar kita telah diperkenalkan tentang sejarah perkembangan berbagai agama di Nusantara. Konon jauh sebelum agama-agama besar sebagaimana yang kini telah ada, nenek moyang kita telah menganut kepercayaan lokal yang disebut sebagai animisme dan dinamisme. Dua istilah ini senantiasa diartikan sebagai kepercayaan terhadap roh-roh leluhur ataupun roh-roh yang bersemayam pada benda-benda yang ada di sekitar lingkungan manusia, apakah pohon besar, batu besar, bahkan gunung-gunung dan samudera. Ada persepsi yang terlampau menyederhanakan pemahaman bahwa nenek moyang bangsa Nusantara adalah penyembah batu, pohon, gunung, samudera, dll.

Dalam kisah dakwah Nabi Ibrahim kepada kaumnya, Ibrahim merupakan putera dari seorang pembuat patung bernama Azar. Patung yang dibuat oleh ayah Ibrahim bukan sembarang patung yang hanya digunakan untuk mematut rumah dan taman-taman, patung tersebut dibuat untuk menjadi tuhan sesembahan. Maka salah satu misi dakwah Ibrahim adalah menghancurkan patung-patung berhala dengan kapak yang kemudian kapak dimaksud dikalung pada leher patung yang terbesar. Kisah ini sangat legendaris dan disukai oleh anak-anak sebagai dongeng yang banyak diceritakan oleh Guru Agama Islam.

Apa kaitan antara kepercayaan dinamisme, animisme hingga agama kaum Ibrahim? Tidak lain dan tidak bukan, titik singgungnya terletak di batu itu! Apakah di era modern ini kepercayaan kepada batu-batu itu masih ada?

Kira-kira 5-7 tahun yang lalu, masyarakat Indonesia begitu gandrung dan kedanan dengan komoditas anthurium, gelombang cinta dan tanaman-tanaman sejenis. Masih sangat ingat kan! Bagaimana kemudian rasionalitas logika manusia sulit menerima fakta bahwa segerombol tanaman dihargai berdasarkan jumlah helai daunnya. Entah daya magic hipnotis semacam apa yang menjadikan hal demikian. Masyarakat sedemikian mengagung-agungkan tetanaman, pepohonan demikian. Dengan nalar yang sederhana, dapatkah hal demikian dikatakan mayarakat kita sedang gandrung, terkagum-kagum, bahkan memuja atau menyembah tanaman secara berlebihan? Apakah hal tersebut muncul dari dorongang primitif jiwa-jiwa nenek moyang kita yang masih bersemayam di sanubari terdalam?

Gelombang cinta dan segala macam anthurium memang telah lewat masanya. Sudah tidak langi menjadi tranding topic ataupun transetter pembicaraa masyarakat sehari-hari. Mungkin karena kondisi negara yang masih dan seolah makin semrawut dengan suhu politik yang terus memanas? Tentu saya sendiri tidak paham akan hal ini.

Akan tetapi, demam semodel dengan gelombang cinta ini kok sepertinya ada yang tengah bangkit dan menjangkit masyarakat di waktu-waktu akhir ini ya? Sampeyan tahu apa yang saya maksudkan? Apa kesan kita jika disebutkan beberapa kata, seperti bacan, kalimaya, safir, dll? Apa itu? Itulah istilah perbatuan akik yang kini telah menjadi trend baru di kalangan masyarakat, khususnya untuk kaum Adam. Tidak hanya kakek-kakek dan kalangan lelaku dewasa, para bocah-bocah sekolahpun semakin merasa hebat jika jemari tangannya dipenuhi dengan deretan cincin batu aneka warna. Weiiit, fenomena apa lagi ya?

Di berbagai kalangan lelaki, dimana-mana orang membicarakan batu akik. Dimana-mana orang sibuk duduk sambil menggosok-gosok batu pujaan masing-masing. Bicara soal harga juga luar biasa. Ono rego, ono rupo! Entah dengan parameter atau kriteria yang diciptakan entah oleh siapa, harga sebutir batu akik ada yang paling murah hingga yang paling mahal ada. Dari yang hanya kisaran ratusan ribu, hingga puluhan, bahkan ratusan juta juga ada! Oalah jaman-jaman. Lha untuk sekedar makan dua-tiga kali saja masih banyak saudara-saudara di penjuru tanah air yang belum tercukupi, ini malah masyarakat mengenyangkan hasrat dengan batu. Apa batu juga bisa membuat perut kenyang apa ya?

Jika sebelumnya masyarakat kita begitu memuja tanaman pada masa keemasan gelombang cinta dan kawan-kawannya, kini masyarakat kita tengah memuja batu-batu akik. Jika dulu “menuhankan” pepohonan, giliran kini kita “menuhankan” batu. Hati-hati dengan itu semua lho! Setiap makhluk lain ciptaan Tuhan yang hadir di alam semesta, sesungguhnya diciptakan sekedar menjadi perantara manusia sekaligus mendukung misi kekhalifannya di muka bumi.  Semua hal tersebut tidak boleh memalingkan manusia dari ketauhidan dalam penghambaan yang hanya khusus untuh Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Senantiasalah untuk mengasah nurani dengan eling dan waspada!

Ngisor Blimbing, 15 Desember 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Tuhan Tuhan Batu

  1. Ivan Purnawan berkata:

    Pancen bener mas, urip saiki kudu super ngati-ati lan waspodo kanti tikel. Koyo wingi gek wae kabukti nyoto nang Banjarnegara. Ceritane banyu wisuhane sepatu Pak Jokowi nggo rayahan warga lan ono sik keliwat diraupke rai supoyo entuk berkah’e. Jian…. mosok arep nulis maneh “Tuhan Tuhan Menungso”
    Tapi bab jemani, koyone Sing dodol akal okol, wong tuku ngglenik sing dodol yo mas ?

    Suka

  2. irwin sigar berkata:

    fenomena jahiliyah modern telah terjadi mas nanang.hehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s