Tol Baru Picu Kemacetan Baru


Bicara kemacetan di ibukota? Ah, itu mah soal biasa. Tiap hari Jakarta memang macet. Semua warga negara Indonesia dari Sabang sampai Merauke juga tahu soal hal itu. Namun tentu saja tidak semua dari warga tadi benar-benar merasakan atau bahkan merana setiap hari akibat mengalami kemacetan setiap hari. Hanya warga Jakarta dan sekitarnya atau orang yang sedang punya urusan di ibukotalah yang menikmati pahitnya kemacetan tadi. Untuk transportasi jalan raya, jarak 20 atau 30 km di jam pergi atau pulang kerja sangat biasa jika harus ditempuh paling cepat selama 2 jam. Ya, itu tadi karena macet!

Jalan tol? Dulu memang orang mengartikan jalan tol sebagai jalan yang bebas hambatan. Bebas hambatan tentu saja juga bebas kamacetan. Bagaimana mungkin jalan berbayar kok tidak bisa mengantarkan penggunanya menuju tempat tujuan dalam tempo yang lebih singkat? Namun itu cerita soal jalan tol di masa lalu! Hal seperti itu di masa kini hanya tinggal kenangan. Sebuah kisah klasik sejarah yang tidak pernah kembali lagi. Sungguh sayang seribu sayang!

Jakarta hari ini adalah Jakarta yang semakin semrawut. Kemacetan sudah menjadi hal umum yang terjadi setiap saat. Pertambahan kendaraan pribadi, baik roda empat maupun roda dua sudah sangat di atas ambang batas kapasitas jalan raya yang ada. Setiap orang sudah sedemikian individualis sehingga jalan raya menjadi ajang rimba raya. Di jalan rimba raya yang kemudian berlaku adalah hukum rimba. Siapa yang kuat, dia yang berkuasa. Siapa yang besar, dia menindas yang kecil. Truk kontainer merasa harus didahulukan daripada truk gandeng atau mobil tangki. Truk gandeng merasa lebih kuasa daripada bus penumpang. Bus umum merasa sebagai raja jalanan dibandingkang mobil pribadi atau angkot kecil. Mobil merasa lebih kuat daripada motor. Motor merasa lebih tinggi daripada sepeda kumbang. Demikian juga, sepeda kumbang merasa lebih wah daripada para pejalan kaki. Demikianlah jaman edan di rimba raya ibukota kita yang tercinta ini.

Tidak di tengah ataupun di pinggiran, bahkan Jakarta telah dikelilingi dengan sabuk jalan tol. Semenjak beberapa waktu silam, Jakarta telah dilingkari dengan jaringan jalan tol Jakarta Outer Ringroad atau JORR.  Bahkan ruas JORR terbaru kini telah dibuka dan menjadi jalur sangat strategis yang menghubungkan titik-titik di wilayah selatan, tengah, dan utara. Dari beberapa kota penyangga, termasuk ke bandara Soekarno-Hatta dan Pelabuhan Tanjung Priok. Anda benar sekali, ruas tol yang saya maksudkan adalah jalur tembus yang menghubungkan Tol Pondok Indah-Serpong dengan jalur Tol Jakarta-Merak, juga menembus hingga bandara serta pelabuhan.

Keberadaan jalan tol tembusan tersebut tentu saja diharapkan mampu menguarai kemacetan di berbagai titik ibukota dan mampu mengantarkan warga ibukota dalam beraktivitas sehari-hari. Apakah hal demikian benar-benar telah terwujud dan menjadi kenyataan?

Sebentar kawan! Manusia memang makhluk yang sangat canggih dalam berencana terhadap setiap hal. Akan tetapi kodrat dan iradat Tuhan tetap menjadi sebuah keniscayaan untuk dilawan. Bagaimanapun nalar manusia telah sangat paham jika jumlah kendaraan bermotor telah melampaui ambang batas kapasitas jalanan yang ada, maka yang akan terjadi pastilah sebuah stagnansi yang kemudian disebut sebagai fenomena kemacetan.

Dengan penambahan ruas jalan tol, harapan serta rencana manusia tentu saja menginginkan kemacetan di ruas jalan yang lain akan terurai sehingga semua arus lalu-lintas menjadi lancar jaya. Namun baru bebarapa hari ruas tol baru dimaksud beroperasi, justru muncul simpul kemacetan di beberapa titik tol lain yang bersinggungan langsung. Ambillah contoh persilangan antara Tol Jakarta-Merak dengan Bintaro-Bandara Soetta di titik Meruya. Di titik tersebut selalu terjadi penumpukan kendaraan yang tersendat, terutama kendaraan yang berasal dari Tol Pondok Indah yang ingin beralih ke arah Tomang. Akibatnya, kendaraan dari arah Merak-Tangerang juga kerap menumpuk dan menimbulkan kemacetan baru di dalam ruas jalan tol. Maka tidak mengherankan lagi, jarak Tangerang-Tomang yang hanya sekitar 20 km harus ditempuh tak kurang dari 1,5 jam. Sungguh sebuah keadaan yang semakin parah!

Ali-alih menjadi pengurai kemacetan, kebaradaan tol baru ini justru menjadi penyebab kemacetan yang baru. Apa pasalnya? Tentu saja tidak lain dan bukan, gara-gara adalah pertumbuhan kendaraan pribadi yang semakin tidak terkendali. Di sisi yang lain, operasional bus-bus ataupun kendaraan massal yang lain justru semakin mundur sehubungan dengan penuaan kendaraan yang tidak tertangani dengan baik.

Jika sebulan-dua bulan yang lalu, semua orang seolah merasa berkeberatan jika bahan bakar minyak (BBM) dinaikkan, namun pasca kenaikan sekarang jumlah kendaraan pribadi sama sekali tidak berkuang. Bahkan dari berbagai berita di media massa yang terjadi justru saudara-saudara kita tetap berkendaraan pribadi dengan bensin senilai pertamax yang lebih mahal dibandingkan premiun tanpa subsidi. Ah, andaikan moda transportasi massal yang handal segera hadir di ibukota, tentulah amat senang semua orang yang nglaju harian dan bekerja di tengah-tengah kota Jakarta.

Ngisor Blimbing, 11 Desember 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s