Dolanan Mil-milan


Mil-milanDolanan mil-milan? Baru dengar kali ini? Mengacu kepada kata dolanan, tidaklah salah jika kita dengan sangat mudah menduga bahwa mil-milan merupakan sejenis permainan. Jenis permainan ini tentu bukan kelasnya game modern yang dikemas untuk dimainkan dengan peralatan elektronik semacam handphone, gadget, komputer dlsb. Lebih tepatnya, dolanan mil-milan termasuk permainan tradisional yang kini semakin jarang (untuk mengatakan tidak pernah) lagi dimainkan anak-anak modern. Atau jangan-jangan para orang tua generasi sekarang bahkan tidak tahu kepada permainan ini.

Saya sendiri tidak tahu pasti siapa dan kapan mil-milan ini diciptakan. Di wilayah padesan Tepi Merapi, semasa usia SD, saya bersama dengan kawan-kawan sering memainkannya.  Jangankan gadget dan smartphone yang menjadi pegangan anak sekolah sekarang, di masa itu tentu saja anak-anakpun sangat jarang memegang alat main yang dibeli. Hal ini tentu saja tidak lepas dari faktor keterbatasan-keterbatasan yang ada. Ya, keterbatasan ekonomi, keterbatasan jaman pula. Namun kondisi demikian justru menjadikan anak-anak masa lalu kemudian lebih aktif menciptakan permainan-permainan dengan bahan seadanya yang ada di sekitar mereka. Termasuk yang namanya dolanan mil-milan ini.

Semakin penasaran kayak apa permainan mil-milan ya? Permainan ini sebenarnya sangat sederhana. Hanya bermodalkan sebatang lidi yang biasa digunakan untuk sapu lidi, anak-anak dapat asyik bermain. Lidi dipotong-potong menjadi bagian kecil dengan panjang kira-kira 2-3 cm. Ada tiga jenis potongan yang dibuat, berupa potongan lurus, potongan yang ditekuk satu, dan potongan yang ditekuk dua. Perbedaan jenis potongan tersebut berkesesuaian dengan perbedaan point. Potongan lurus bernilai satu, yang bertekuk satu bernilai lima, sedangkan yang bertekuk dua bernilai sepuluh point. Seberapa banyak jumlah potongan tidak ditentukan pasti. Namun semakin banyak jumlah potongan akan sangat berpengaruh terhadap tingkat kerumitan permainan yang berlangsung.

Lalu bagaimana memainkannya? Dolanan mil-milan biasa dimainkan oleh beberapa anak sekaligus. Permainan ini minimal dimainkan dua anak. Adapun batasan seberapa banyak anak dapat sekaligus ikut terlibat dalam permainan tidak ada batasan pasti. Artinya dolanan mil-milan dapat dimainkan 3, 4, 6, 10 anak sangat tergantung kondisi.

Giliran atau urut-urutan siapa yang menjadi pemain ditentukan dengan cara pingsut atau hompimpa. Anak yang menang duluan dalam hompimpa mendapat giliran lebih awal. Urutan berganti seterusnya dan diulang hingga beberapa kali putaran. Jumlah putaran permainan sangat tergantung kesepakatan bersama, bahkan terserah tingkat kebosanan atau kepuasan seluruh pemainnya.

Area permainan biasanya dibatasi pada luasan bujur sangkar. Bisa sebuah tegel berukuran 20 x 20 cm, atau bisa juga dibuat bujur sangkar pada lapisan keras maupun kertas tebal. Intinya seberapa luas area permainan tidak ada ketentuan pastinya. Permainan ini memang memiliki banyak sisi fleksibelitas. Mungkin hal ini memang disengaja agar kreativitas dan imajinasi para bocah tidak terbelenggu sempit, bahkan justru anak-anak dibebaskan untuk menciptakan aturan-aturan bersama yang juga disepakati secara bersama-sama. Bukankah ini merupakan pengajaran nilai-nilai demokrasi yang sangat mendasar.

Cara memainkan

Lalu bagaimana cara memainkan dolanan mil-milan ini? Sangat mudah. Anak yang mendapatkan giliran bermain menempatkan semua potongan lidi yang telah dibuat di genggaman tangannya. Genggaman tersebut kemudian disebarkan semerata mungkin di area permainan yang telah disepakati. Tidak boleh ada satupun potongan lidi yang keluar dari area permainan. Jika ada yang keluark area, pemain bersangkutan diwajibkan menebar ulang atau bisa juga diberlakukan aturan gugur haknya untuk bermain pada putaran tersebut.

Begitu potongan-potongan lidi tertebar di area permainan, maka potongan-potongan tersebut akan berserakan. Ada yang terpisah dari potongan yang lain, ada yang tumpang tindih, bahkan ada yang saling mengkait satu sama lain. Tugas si pemain adalah mengambil satu per satu potongan lidi dengan syarat pada saat mengambil, menggeser, atau menyentuh suatu potongan lidi tidak boleh menyebabkan potongan yang lain bergerak atau tergerak. Nah, jika sampai terjadi gerakan potongan lain inilah yang diistilahkan sebagai mil! Dari sinilah nama permainan ini berasal.

Hikmah Permainan

Meskipun permainan mil-milan sangat sederhana, tetapi banyak hikmah dan manfaat yang bisa menunjang pembentukan karakter atau kepribadian para bocah. Hikmah pertama berkaitan dengan bahan permainan yang sangat sederhana. Berangkat dari nilai kesederhanaan ini diharapkan manusia mau mengamalkan pola hidup sederhana. Namun sederhana tidak harus menghentikan tingginya kepandaian dan pemikiran, juga cita-cita manusia. Dalam bingkai kesederhanaan manusia akan lebih bermakna dan berguna bagi sesamanya.

Jika digambarkan sebagai kekuatan manusia, lidi yang terpisah dari ikatannya akan mudah dipatahkan, diluluhlantakkan, dan dihancurkan. Sebaliknya lidi yang tetap menyatu solid dalam ikatannya akan menjadikan kekuatannya berlipat ganda. Inilah simbol kekuatan yang terbentuk dari semangat kebersamaan, rasa persatuan dan kesatuan. Kebersamaan juga tercermin dari permainan yang dilakukan oleh beberapa anak sekaligus.

Pelajaran ke dua berkaitan dengan sikap teliti dalam melihat situasi. Pada saat melihat tumpukan potongan lidi, si pemain harus melihat, mencermati, kemudian mengatur strategi dan menentukan prioritas pengambilan lidi yang berisiko paling ringan sehingga tidak menyebabkan mil. Kehati-hatian saat bertindak juga dilatih agar tidak menimbulkan sentuhan yang menggerakkan potongan lidi selain yang menjadi fokus target yang diinginkan.

Hikmah ke tiga berhubung erat dengan nilai sportivitas yang ingin dibangun. Pada saat seorang pemain mendapatkan gilirannya, pemain-pemain yang lain tetap harus ikut mengamati dan mengawasi serta menjadi saksi setiap gerakan. Begitu terjadi persentuhan yang menggerakkan lidi sekecil apapun, maka mereka harus langsung memvonis mil terhadap temannya. Si pemain yang mendapat giliranpun harus sportif bila pemain yang lain telah menyatakan dirinya mil, maka iapun harus menghentikan permainan dan memberikan gilirannya kepada pemain lain.

Manfaat selanjutnya, pada saat permainan seorang pemain terhenti maka ia harus menghitung berapa skor yang dicapainya dengan cara menghitung jumlah potongan lidi yang berhasil dipisahkan dari tumpukannya sebelum terjadi mil. Ketelitian dan kejujuran dalam berhitung mutlak diperlukan. Dengan demikian anak-anak juga sekaligus belajar menghitung dengan cara penjumlahan.

Tentu saja manfaat-manfaat yang saya sebutkan di atas bisa dikembangkan menjadi lebih banyak lagi. Namun sebagai sebuah gambaran, contoh manfaat di atas kiranya dapat mewakili yang lainnya. Bagaimana menurut sampeyan? Ingin lagi mencoba permainan mil-milan? Ayo amalkan kembali permainan tradisional kita.  Anak kudu dolanan, anak dudu dolanan. Anak harus bermain, anak bukan mainan. Monggo.

Ngisor Blimbing, 7 Desember 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Dolanan Mil-milan

  1. Agus Mulyadi berkata:

    Oalah mas, aku malah gek ngerti nek dolanan iki jenenge mil-milan… padahal biyen kerep dolanan

    Suka

  2. Eilna Dzurul berkata:

    Subhanalloh, ini yang saya cari2 pak akhirnya dapet jugaaa…
    Semoga manfaat untuk tugas akhir saya…. Hihi
    Sukron, sukses bersama pak 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s