Sepeda Lintas Kota Lintas Provinsi


ModernlandOrang Jawa menyebut benda yang satu ini dengan pit atau sepeda. Konon dinamakan sepeda karena “asepnya tidak ada”. Sepeda jelas sangat berbeda dengan sepur yang “asepe metu ndhuwur” (asapnya lewat atas, mengacu kepada kereta api uap periode awal). Asep merupakan asap sisa pembakaran mesin berbahan bakar fosil yang biasa dikeluarkan dari knalpot atau cerobong.

Masih juga di kalangan manusia Jawa, sepeda seringkali diplesetkan cara meng-inggris-kannya menjadi “bai sikil” dari bahasa yang semestinya bycycle. Untuk ungkapan bai sikil ini tentu saja mengacu kepada cara menjalankan sepeda yang mempergunakan dua tungkai kaki buat menggenjot pedal kanan-kiri. Ah, kalau soal becandaan dan pleset-memplesetkan istilah, wong Jowo memang oye! Jadi tidak ada yang akan menyangkal bahwa sepeda merupakan sarana transportasi yang sangat ramah lingkungan. Anda setuju?Sudah hampir satu tahun ini saya kembali menyelami kembali kenikmatan mengayuh sepeda. Meskipun tidak setiap hari, setidaknya setiap pagi hari di akhir pekan senantiasa saya luangkan waktu untuk bersepeda gembira. Selain ingin bernostalgia dengan romansa masa lalu ketika hampir setiap hari bermain sepeda jenki warisan dari Mbah Kakung, sepedaan di jaman sekarang sekaligus bisa menjadi sarana olah raga untuk membakar lemak yang semakin menumpuk di bawah kulit.

Sepeda yang setia mengantar saya berolah raga di akhir pekan sengaja dilengkapi dengan boncengan alias bagasi belakang. Tentu bukan tanpa maksud dan tujuan. Boncengan tersebut didedikasikan untuk nangkringnya di Ponang yang sudah pasti tidak pernah mau ketinggalan untuk turut mbonceng kemanapun bapaknya berkelana. Jadilah akhir pekan menjadi hari pengelanaan dan pengembaraan kami berdua. Berduaan anak dan bapak, nampaknya menjadi momentum yang semakin mahal untuk hadir di tengah keluarga globalisasi yang kini semakin sibuk dengan hiruk-pikuk rutinitas harian masing-masing. Bersepada bersama bagi kami selanjutnya menjadi momentum dan saat-saat untuk membangun sebuah kedekatan. Antara anak dan bapak. Antara dua sahabat yang bertualang bersama.

Living WorldWuaduh, kok ceritanya dadi ndakik-ndakik bin muluk-muluk ya? Ah, sebenarnya tidak demikian juga. Hal-hal itulah yang semakin saya rasakan akhir-akhir ini. Sebuah kedekatan antara anak dan bapak yang mengharu biru untuk dikisahkan sekedar dalam sebuah postingan. Coba saja simak gubahan lagu yang juga pernah saya ceritakan dulu:

Pada hari minggu kuturut ayah bersepeda,

Naik speda istimewa ku duduk diboncengnya,

Di belakang ayah yang sedang bersepeda,

Mengendara speda supaya baik jalannya,

 

Kring, king-krang king-kring, king-krang king-kring, king-krang king-kring,

Kring, king-krang king-kring, king-krang king-kring, king-krang king-kring,

Swara bel sepeda.

Lalu kemana saja tujuan berkelana sepedaan yang kami lakukan? Ya, macem-macem tempat di sekitar tempat tinggal kami. Ada yang mulai berjarak 3 km, 5 km, bahkan pernah mencapai 20-an km. Ragam petualanganpun mulai dari yang sederhana, sekedar keliling tanpa tujuan, nongkrong istirahat di tepi kali, menonton banjir, menikmati car freeday, selonjoran di tepian situ sambil menyaksikan orang mancing, mengunjungi masjid legendaris, termasuk klenteng bersejarah. Bahkan akhir-akhir beberapa pekan senantiasa kami selingi dengan kegiatan belajar renang di beberapa fasilitas renang yang berbeda-beda. Tentu saja masih diantar dengan sepeda.

Situ Cipondoh1Tidak hanya urusan sepedaa untuk mengisi pagi di setiap akhir pekan, sepeda juga telah banyak berjasa untuk menunjang aktivitas keluarga. Mulai sekedar keperluan belanja sayuran di warung sebelah, hingga membeli beberapa barang di toko material dan bangunan, sepeda setia mengantar tanpa kenal lelah. Pernah pula dengan sepeda menembus keremangan jalanan tengah malam sehabis mengantarkan nonton pagelaran wayang orang di GOR saat peringatan hari jadi kota kami.

Sepeda untuk olah raga, sudah. Sepeda untuk berkelana, sudah! Untuk menunjang keperluan sehari-hari, saudah pula! Bagaimana dengan sepeda untuk berangkat kerja, alias bike to work? Itu lho jargon-jargon transportasi yang sehat dan ramah lingkungan ala para pekerja urban dengan sepeda. Tinggal genjot, tidap perlu membakar BBM dan justru membakar lemak, dan pastinya tidak mengeluarkan asap maupun partikulat yang menambah polusi udara kita.

Pernah satu kali untuk sebuah urusan yang tidak lepas dari kedinasan pabrik saya menuju tempat tersebut dengan mengayuh sepeda. Sebuah tempat di ujung perbatasan Tangerang-Bogor sekaligus menjadi tapal batas antara Provinsi Banten-Jabar yang membutuhkan waktu sekitar satu jam penuh mengayuh sepeda. Dari sisi jarak tempuh, mungkin memang belum genap 30 km sekali jalan. Tetapi hal itu menjadi sebuah pengalaman tersendiri.

Lha kenapa kemudian untuk urusan pergi ke pabrik belum sepedaan? Terus terang, saya memang ingin ikutan bike to work. Namun kondisi jalanan yang belum ramah untuk para pesepeda, ditambah lagi dengan kemacetan parah yang selalu terjadi, masih menciutkan nyali untuk benar-benar menjalaninya. Di samping pertimbangan jarak tempuh yang saya perkirakan tidak kurang dari 30 km yang sekali jalan mungkin dibutuhkan waktu 1,5 hingga 2 jam. Dengan kondisi demikian, tentu saja untuk berangkat kerja agak-agak terburu dan nikmat santainya bersepeda malah tidak ada.

Meski demikian, setiap kali mengayuh sepeda selalu terngiang sebuah tantangan dari batin diri sendiri, “Suatu saat harus mencoba pergi ke pabrik dengan sepeda!” Saya tidak tahu dari mana bisikan atau tekad tersebut berasal. Sebagai sebuah bentuk penawar bike to work tadi, juga sekaligus sebuah penjajagan track dan waktu tempuh, di akhir pekan kemarin saya bulatkan tekad untuk mencoba sepedaan arah pabrik tempat  kerja. Khusus kali ini tentu saja saya sengaja tidak memboncengkan si Ponang.

Dengan segala lika-liku jalur-jalur terobosan yang coba saya tempuh, ditambah dengan kondisi jalanan yang tidak seratus persen mulus serta kepadatan kendaraan lain yang membuat laju tersendat, sampailah titik tujuan dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Tentu saja itu untuk hari Sabtu, dimana sebagian besar orang kantoran libur. Untuk hari-hari kerja yang lain, sudah pasti butuh waktu ekstra. Untuk kali pertama pula, sepeda kami menembus batas kota, dan sekaligus menembus batas provinsi. Lengkaplah gelar sepeda kami menjadi sepeda lintas kota lintas provinsi! Apakah Anda termasuk orang yang juga menikmati sepedaan?

Lor Kedhaton, 1 Desember 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Ngisor Blimbing dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s