Ngeri Pencuri di Malam Hari(2)


Dengan nalar yang sadar saya cepat berhitung. Jika yang berada di kegelapan malam pekarangan kosong tersebut benar-benar sekawanan pencuri yang kagol karena aksinya dipergoki orang, dapat saja akan mereka melampiaskan rasa marahnya kepada saya yang ndilalahnya hanya di backingi istri di belakang punggung. Rasanya kok saya tidak mau konyol dikeroyok kawanan pencuri. Akhirnya setelah saya rasa komunikasi mentok, saya putuskan untuk meninggalkan manusia bayangan di depan saya. Saya sungguh berharap mereka tidak melanjutkan lagi aksi kriminalnya.

Setelah masuk kembali ke dalam rumah, si Ponang langsung memberondong dengan beberapa pertanyaan, “Ada apa sih Pak? Siapa sih Pak di luar? Mereka ngapain ya? Bla….bla….bla….” Saya berusaha menjelaskan singkat bahwa ada pencuri di luar rumah sedang beraksi. Mereka mencuri sesuatu dari pabrik di belakang rumah.

Ketika saya bisikkan kepada istri bahwa saya harus melaporkan kejadian mencurigakan tersebut kepada pihak keamanan pabrik di gerbang depan, justru si Ponang mencegah, “Jangan Pak, biar saja pencuri itu dihukum oleh Tuhan. Nanti kan sama Tuhan dimasukkan ke dalam neraka Pak!

Ibunya Ponang yang justru menyahut, “Ya harus dilaporkan Le! Kalau nggak dilaporkan bisa membuat pabrik rugi, dan lama-lama bisa bangkrut.” Si Ponang akhirnya manggut-manggut tanda paham.

Jujur pada saat menghadapi bayangan hitam di depan mata dan suara kawannya di sudut kegelapan, saya sebenarnya sangat ingin melampiaskan kemarahan. Rasanya benar-benar ingin langsung menghajar orang-orang kurang ngajar yang malam-malam berani memanjat tembok. Untungnya saya masih bisa mengendalikan diri dan berpikir dengan nalar yang jernih. Seandainya saya terpancing dengan emosi sendiri, meskipun mungkin dengan bantuan para tetangga dapat bersama-sama menghadapi kawanan pencuri tersebut, tetapi sangat mungkin terjadi saya dihajar duluan sebelum orang-orang kampung datang mengepung. Dan sangat mungkin pula justru para pencuri tersebut langsung lari setelah saya babak belur.

Ketika di pagi hari, beberapa tetangga sempat bertanya mengenai sedikit keramaian yang sayup-sayup juga mereka dengar. Istri saya kemudian memberikan penjelasan sebagaimana yang ia saksikan mengenai insiden semalam. Rupa-rupanya kawanan orang tidak bertanggung jawab tersebut sudah beberapa hari belakangan melakukan aksi mengambil sesuatu dari dalam kawasan pabrik. Menurut desas-desus ada oknum pegawai pabrik yang terlibat. Ada pula preman sebelah yang dikenal sangat tidak ramah. Walhasil, para warga tidak berani untuk melakukan tindakan ataupun melaporkannya kepada pihak pabrik. Mereka ketakutan seandainya diketahui melaporkan apa yang dilihatnya, justru keselamatan diri dan keluarganya bisa terancam oleh para preman.

Ada satu warga yang berniat akan melaporkan kejadian yang saya alami semalam kepada pengurus RT. Jika gerak-gerik aksi mereka dilakukan siang-malam, warga merasa keberatan dan terganggu ketenangannya. Hanya sejauh itu. Sekali lagi, mereka takut jika bertindak lebih jauh, keselamatan mereka terancam. 

Mendengar beberapa tanggapan para tetangga yang justru takut untuk bertindak, saya sempat menjadi ragu dengan rencana saya untuk melaporkan apa yang saya saksikan semalam kepada pihak keamanan pabrik. Hampir seharian penuh saya berpikir ulang, menimbang-nimbang. Tepatkah saya jika melaporkannya? Ataukah saya cukup melaporkan kepada pengurus RT saja? Apakah tindakan saya nantinya tidak membahayakan keselamatan diri saya, anak-istri, keluarga, dan warga kanan-kiri? Kalau mereka mengancam dan menteror bagaimana? Saya benar-benar merasa punya musuh yang tidak kasat mata. Mereka tahu pasti tentang saya, tetapi saya tidak mengenal wujud dan rupa mereka. Sungguh sebuah keadaan yang sangat sulit bin rumit.

Pagi hari itupun dengan beban pikiran kebimbangan di kepala, saya berangkat ke TMII untuk hadir di acara Kompasianival 2014. Sungguh sangat kebetulan pada acara tersebut hadir beberapa pembicara yang dikenal sebagai tokoh-tokoh pemberani. Ada Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan. Ada Gubernur DKI Jakarta, Ahok. Dan juga Ridwan Kamil sang Walikota Bandung. Mereka sungguh para pemimpin yang berani mendobrak kebobrokkan di institusi masing-masing. Sungguh sebuah kebetulan yang saya yakin tidak sekedar kebetulan semata. Mungkin Tuhan sedang ingin menguatkan tekad saya untuk tidak diam dalam ketakutan. Saya harus bertindak, paling tidak dengan melaporkan apa yang saya lihat mengenai aksi para pencuri malam sebelumnya. Jika Jonan, Ahok, dan Kang Emil berani, kenapa saya harus takut? Apapun risikonya! Sayapun harus membuat aksi untuk lingkungan tempat tinggal saya. Aksi nyata untuk Indonesia sebagaimana tema yang diusung dalam Kompasianival 2014.

Sepulang dari Kompasianival, sayapun benar-benar mampir ke pos keamanan pabrik belakang rumah. Dengan langkah yang sempat ragu dan dada berdebar-debar, saya kuatkan tekad untuk menepis segala ketakutan dan kekhawatiran yang belum tentu akan terjadi. Bismillah! Saya patri niat kuat di dalam hati. Sayapun harus yakin bahwa Tuhan akan melindungi diri dan keluarga saya. Kebenaran harus ditegakkan semampu-mampu apa yang bisa kita lakukan.

Di pos keamanan ada dua petugas keamanan yang menemui saya, sebut saja Pak Sigit dan Pak Maul. Saya dengan pelan mencoba menceritakan apa yang saya lihat semalam sebelumnya, pelan dan serunut mungkin. Saya hanya ingin menyampaikan pesan agar kewaspadaan dan patroli keamanan ditingkatkan. Syukur-syukur apabila tidak terjadi kehilangan barang apapun. Demikian usai bercerita, hati dan pikiran saya serasa plong. Paling tidak semampu apa yang bisa saya lakukan saya ingin beramar makruf wa nahi munkar. Dan alhamdulillah, hingga saya menulis lanjutan tulisan ini, saya masih diberikan perlindungan oleh-Nya. Masih baik-baik saja. Semoga!

Ngisor Blimbing, 27 November 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Ngeri Pencuri di Malam Hari(2)

  1. irwin sigar berkata:

    Kita bukan hanya dimntai pertanggungjawaban tentang apa yang kita lakukan, tetapi juga dimintai pertanggungjawaban terhadap tentang apa yang tidak kita lakukan. Salut atas keberaniannya melaporkan hal tersebut kepada pihak yang berkompeten mas,Tuhan pasti bersama orang yang berani menegakkan kebenaran.

    Suka

    • sang nanang berkata:

      meski tidak tahu ada hubungannya atau tidak, semenjak laporan tersebut hingga kini alhamdulillah tidak terjadi lagi indikasi-indikasi kejadian yang mencurigakan oleh oknum terkait, dan bersyukurnya juga terhadap saya dan keluarga juga tidak ada ancaman sebagaimana yang pernah dikhawatirkan

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s