Ngeri Pencuri di Malam Hari


Malam itu waktu Isya’ baru sesaat berlalu. Ketika hendak berwudlu di kamar mandi sudut rumah, justru mendengar suara klotak-klutik di sisi luar dinding. Sedikit berdebar, namun saya putuskan mengambil senter dan bergegas keluar. Kaki saya menuntun untuk melangkah ke samping rumah. Sejenak saya amati suasana sekeliling.  Nampak hening dan suara yang tadi menarik kecurigaan justru tak terdengar lagi. Akan tetapi pada saat sorot lampu senter menapaki dinding di pojokan rumah yang berbatasan langsung dengan pabrik di belakang rumah, ada sesuatu yang patut dianggap aneh. Ada sebatang tangga bambu tersandar di dinding!

Ketika sorot lampu senter coba saya edarkan ke sekeliling dengan lebih seksama, lho kok di kandang sapi terdapat bayang-bayang seseorang. Rupanya tubuh seseorang tertangkap cahaya yang lumayan terang temaram. Sosok tersebut kemudian melangkah mendekati saya. Dengan memberanikan diri, saya bertanya kepada sosok yang tidak sempat saya sorot raut mukanya tersebut. “Malam-malam sedang mbenerin apaan Bang?” saya mencoba membuka pembicaraan dengan pertanyaan netral.

Sang empunya bayangan sedikit tergagap. Dengan nada ragu ia menjawab, “Aanu, nggak ngapa-ngapain kok!” Sebuah jawaban yang justru membuat saya bercuriga.

Oo tak kirain lagi mebenerin sesuatu“, sanggah saya tetep menahan untuk tetap ramah bertanya.  Seketika itu justru yang terlontar sebagai tanggapan malah perkataan mbulet yang semakin aneh. Ia sempat menyatakan bahwa apa yang tengah dikerjakannya merupakan bagian pengerjaan proyek di lingkungan pabrik di belakang tembok. Saya hanya ao-ao-ao tok, mencoba untuk memahami apa yang dimaksudkannya. Tetapi saya masih enggan beranjak.

Dalam hati dan pikiran, saya sama sekali tidak percaya dengan keterangan-keterangan bayangan hitam ini. Logika saya, kalau pengerjaan proyek kenapa malam-malam pakai tangga memanjat tembok? Padahal di balik tembok masih dipagari dengan rumpun baris bambu, serta deretan pohon kelapa dan mahoni yang memagari area pabrik. Hmm, sungguh aneh!

Nah, melihat saya justru agak berlama mencoba mendengarkan jawaban yang semakin nggladrah, tiba-tiba muncul suara tanpa raga justru dengan nada tinggi penuh rasa emosi! “Apa urusannya nanya-nanya! Udah dibilingin urusan proyek pabrik!” Saya sungguh sangat terkejut dengan suara tanpa penampakan badan tersebut. Saya jadi deg-degan. Berarti  orang yang saya hadapi tidak hanya satu orang. Entah dua, tiga, lima atau segerombolan orang, saya tidak tahu pasti. Saya mulai berhitung.

Saya menyergah, “Lho lha yo wajar to saya tanya-tanya. Ini tempat tinggal saya, ketika mendengar suara-suara mencurigakan di malam hari, wajar dong kalau saya ngecek!” Saya sengaja menyorotkan cahaya senter ke tangga yang masih tetap menyandar di sisi tembok.

Si suara dari kegelapan terdengar semakin emosi. Dia justru terkesan kehilangan kesabaran. Saya baru tersadar dan berpikir bahwa saya pastinya sedang berhadapan dengan sekawanan orang yang punya itikad tidak baik. Kalau saya teriak maling atau pencuri, sulit juga karena saya tidak melihat dengan mata kepala sendiri barang apa yang mereka curi. Namun naluri pikiran saya memastikan bahwa mereka pasti pencuri.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ngeri Pencuri di Malam Hari

  1. Ping balik: Ngeri Pencuri di Malam Hari(2) | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s