Lentera dari Rusia


Pernah mendengar festival balon udara. Balon udara yang saya maksudkan tentu saja bukan balon isian gas karbit, tetapi balon yang diisi dengan asap yang bersumber dari titik api yang dipasang pada bagian bawah balon. Balon semacam ini banyak diterbangkan di daerah pedesaan Jawa Tengah, khususnya pada Hari Lebaran. Meski menurut saya tidak sepenuhnya tepat, kalangan masyarakat kota lebih akrab dengan istilah lantern. Lantern mungkin lebih setara dengan istilah lampion.

Berbeda dengan balon lebaran, lantern berukuran jauh lebih kecil. Mencermati kata “lantern” saya justru mengasosiasikannya dengan kata lentera. Lentera identik dengan pelita atau lampu berbahan bakar minyak yang dipergunakan sebagai penerang di kegelapan malam. Di masa kecil pada waktu kampung halaman kami belum terjamah listrik masuk desa, lentera alias lampu senthir menjadi penerang andalan untuk mendukung aktivitas masyarakat di kala malam.

Beberapa malam yang lalu, sebuah mall raksasa di mbulak Ngisor Blimbing mengadakan acara lomba Night Run 5 K yang dimeriahkan dengan Lantern Festival. Acara lomba lari yang diawali selepas Maghrib tersebut diikuti oleh ribuan peserta. Dengan kostum warna hijau pupus, para peserta berlarian membludak di garis start saat bendera kotak-kotak dikibaskan. Dengan mengitari area real estate di pinggiran Tol Jakarta-Merak, para peserta antusias untuk segera mencapai garis finis. Suasana remang malam yang mulai turun ditambah dengan suasana sejuk selepas hujan sore sebelumnya menjadikan udara sangat sejuk untuk menghalau keringat yang mengucur deras dari para peserta.

Tak lebih dari hitungan waktu setengah jam, satu per satu peserta lomba lari mulai memasuki garis finis. Dengan ekspresi penuh kegembiraan yang membuncah, mereka seolah telah membuktikan diri bahwa mereka mampu mengalahkan diri sendiri. Segala rasa lelah, tarikan nafas yang terengah-engah, seolah terbayar lunas tatkala garis finis berhasil dicapai. Bahwa mereka menjadi juara nomor satu atau nomor seratus atau sama sekali tidak menyandang juara, mereka tetap juara bagi diri masing-masing.

Secara bertahap para pelari yang telah mencapai finis beristirahat. Sambil menata nafas kembali, panitia menyediakan minuman, snack, dan ribuan buah pisang ambon. Sambil mengendorkan otot-otot kaki, mereka kemudian satu per satu menerima sebuah lembaran kertas tipis yang dibungkus plastik transparan. Rupanya di dalam plastik tipis itulah balon kertas yang akan diudarakan secara massal.

LanternsSekilas turut mengamati deretan tulisan di sisi luar plastik saya sedikit terkesima. Bagaimana tidak kaget, permukaan palstik transparan tersebut dipenuhi dengan tulisan dengan huruf aneh plus huruf latin berbahasa Inggris. Sedikit lebih cermat, barulah saya dapat memperkirakan bahwa jenis huruf yang satunya merupakan huruf Rusia. Weiit, apakah berarti balon kertas kecil tersebut dibeli dari negeri Beruang Merah? Kok jauh amat! Heran bercampur tidak habis pikir, hanya sekedar mainan kecil harus diimpor dari negeri di ujung kutub utara? Bahkan untuk membuat balon sejenis dengan ukuran lima puluh kali lipatpun anak-anak di dusun kami sanggup! Kenapa kita lebih menghargai karya bangsa lain?

Setelah sebagian peserta yang mencapai garis finis menerima balon, sang pemandu acara menyampaikan briefing singkat tata cara mempersiapkan balon, memasang sumber api, menyalakan api, mengisi ruang balon dengan udara dari asap api, hingga siap melepaskan balon ke udara. Satu per satu peserta mulai mempraktikan arahan dari pemandu acara tersebut. Dengan aba-aba bersama tak selang berapa lama kemudian mengudaralah ribuan lampion menghiasi langit malam yang hitam kelam. Sungguh sebuah pemandangan yang mengundang decak kagum hadirin yang berkumpul. Nuansa suasana seolah menjelma menjadi khusuk nan hening laksana upacara perayaan detik-detik Waisyak di pelataran Candi Borobudur yang juga diwarnai dengan pelepasan balon lampion.

Bagus sih bagus! Meriah sih meriah! Luar biasa memang kegembiraan yang terbangun malam itu. Tetapi kok sekedar balon kertas, sekedar lentera, harus dibeli dari Rusia? Hingga hari ini otak dan logika saya belum menemukan jawabannya. Sampeyan mungkin bisa membantu saya menemukan beberapa alternatif jawaban?

Lor Kedhaton, 17 November 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s