Pahlawan dari Desa


Kita makan nasi yang ditanak dari beras. Beras berasal dari gabah yang ditumbuk atau digiling dan dipisahkan dari kulitnya. Gabah berasal dari buliran padi yang menjuntai pada tangkai tanaman padi, yang ditanam oleh para petani. Apakah ketika kita menyantap nikmatnya nasi putih yang hangat mengepul dengan rasa pulen berpadu aroma harum, kita masih mengingat jasa petani?

Bagi masyarakat desa yang lahir, tumbuh, hingga besar bahkan menjadi bagian dari lingkungan petani, tentu saja mereka mengenal dengan sangat baik kehidupan para petani dalam mengolah tanah. Mulai tanah dibajak, diluku, dan digaru agar menjadi lumpur yang gembur dan subur. Selanjutnya pada hamparan lumpur tersebut benih padi yang sebelumnya telah disemai ditata sambil mundur atau ditandur, ditata karo mundur. Sebuah pekerjaan yang menuntut ketelitian dan ketelatenan yang ekstra tinggi.

Pun seiring dengan pertumbuhan akar benih yang menguat, tunas-tunas baru tumbuh lebih sempurna sehingga tanaman padi bagai bangun dari tidurnya di peraduan. Lir-ilir, tandure wis sumilir. Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar. Semilir angin menghidupkan hamparan hijau tanaman padi bagaikan penganten yang tengah menikmati masa-masa yang indah, damai, dan sangat nyaman.

Seiring dengan itu, anakan tanaman padi akan berbiak membentuk rumpun padi yang semakin lama semakin rimbun. Maka baris-baris dan jalur-jalur tanaman padi menghijau yang semula mengkotak-kotakkan petakan sawah menjadi luluh, lebur, dan sirna, menyatu menjadi hamparan tanaman yang rapat.

Menjelang usia dua purnama setelah tanam, bunga-bunga padi mulai merekah diiringi suara kodok ngorek, suara katak berceloteh di malam hari. Inilah masa-masa padi kematak dimana padi memulai fase pembentukan bulir padi yang bernas. Bulir padi terus tumbuh dan semakin padat berisi. Seiring waktu tanaman semakin menua, bulir padi itupun semakin matang, semakin berisi, dan batang padipun semakin menunduk. Ibarat sebuah pesan kebaikan untuk petani dan manusia siapapun yang kelak akan menikmati dirinya, padi mengajarkan tentang nilai kerendahan hati yang akan membawa manusia kepada puncak harkat dan martabat hidup.

Tidak hanya pasrah kepada gerak kemurahan alam dan Tuhan, pada setiap tahap pertumbuhan benih padi hingga rumpun padi yang menguning, petani memberikan segenap hati, segenap perhatian, segenap tenaganya untuk merawat tanaman padi dengan sebaik-baiknya. Air sebagai kebutuhan utama untuk menumbuh-kembang-biakkan benih padi senantiasa dijaga dan dipenuhi secara berkecukupan. Rumput-rumput liar, gulma-gulma nakal yang mengganggu dan merebut sari pati bumi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman padi dengan telaten diwatun, dibersihkan dan dibuang sejauh-jauhnya dari rumpun padi.

Demikian pula jika tanaman sakit akibat gangguan hama, entah ulat, belalang, hingga wereng coklat, dengan sigap para petani memberantasnya dengan semprotan pestisida. Pun ketika padi mulai bernas berisi hingga menjelang masa kematangannya, petani akan mati-matian mengamankannya dari serbuan tikus sawah ataupun gerombolan burung pipit. Maka segenap kerja keras dan usaha para petani terbayar lunas tatkala bulir-bulir malai padi dipetik dengan anai-anai benar-benar tergenggam di telapak tangan. Masa panen tiba, saat-saat yang paling hikmat untuk para petani tenggelam dalam sujud syukur panen atas kerja keras sebelumnya.

Dengan jujur kita harus mengakui, tanpa jerih payah dan kerja keras para petani, nasi putih sebagai hidangan pokok kita sehari-hari tidak akan hadir dengan sendirinya di atas meja makan keluarga kita. Petani adalah kepanjangan tangan Tuhan untuk mengantarkan gabah, padi, beras hingga nasi yang tertanak untuk memperpanjang nafas manusia, untuk menegakkan tulang manusia, untuk mengalirkan darah di segenap nadi manusia, bahkan untuk melangsungkan hidup dan kehidupan itu sendiri. Jadi tidak layakkah kita untuk mendudukkan petani sebagai pahlawan kita? Bukankah karya kerja keras mereka sangat penuh dengan hikmah kebajikan yang padanya tiada pernah akan terhenti pahala yang mbanyu mili, mengalir dengan abadi?

Petani di masa lalu berbeda dengan petani di masa kini. Seiring bergulirnya dinamika roda modernitas, semakin sedikit anak-anak petani yang bercita-cita menjadi petani. Anak-anak di kota-kota terlebih lagi. Mereka semakin jauh dari akar asal-usul darah petani dimana nenek moyang dan para leluhur mereka berasal. Mereka tidak lagi tahu dan diberi tahu darimana asal-usul nasi dan makanan yang terhidang di meja saji mereka. Mereka terbentuk menjadi manusia prakmatis yang sulit untuk mengenang jerih payah petani di sudut desa untuk menghasilkan bulir padi yang disantapnya setiap hari. Mereka hanya mengenal uang sebagai “petani” yang memberikannya rasa senang dan kenyang. Mereka seolah sudah melupakan sangkan paraning dumadi, dari mana, di mana, dan ke mana asal-usul rasa senang dan kenyang tersebut.

Petani menjadi profesi yang terpinggirkan, seolah-olah manusia modern tidak lagi membutuhkan jasa dan karya kerja keras petani di sudut-sudut desa di kaki gunung. Para petani menjadi sosok yang semakin dilupakan anak jaman. Petani adalah pahlawan sejati yang tidak lagi dikenang jaman. Para petani memang bukan sosok pahlawan nasional yang dihafal oleh siswa-siswi di sekolah-sekolah formal kita. Petani bukan pula sosok menteri, anggota dewan, ataupun artis yang senantiasa hadir di media tivi, koran, juga internet. Petani tenggelam dalam gelapnya lumpur kehidupan. Mereka bertapa dengan kerja kerasnya di pelosok-pelosok lembah dan ngarai.

Meskipun petani dilupakan, tidak dianggap, bahkan dianggap tidak ada, namun petani adalah pahlawan sejati yang hadir setia di meja makan, setidaknya tiga kali dalam sehari. Ia adalah pahlawan dari desa yang hadir nyata di desa dan di kota. Ia tidak hanya sekedar pahlawan tanpa tanda jasa, ia adalah pahlawan kemanusiaan, pahlawan kehidupan, sebenar-benarnya pahlawan tanpa pernah disebut sebagai pahlawan.

Maka tatkala pada setiap tanggal 10 November kita tenggelam haru mengenang arwah para pahlawan bangsa, ingatkah kita bahwa petani juga pahlawan kita? Salam dari desa!

Ngisor Blimbing, 3 November 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s