DPR Polah Rakyat Kepradah


Gonjang-ganjing pemilu legislatif dengan segala problematikanya berlalu, berganti gonjang-ganjing soal pemilihan presiden. Usai Mahkamah Konstitusi memutuskan perkara sengketa pilpres, publik mendapat tontonan perseteruan Koalisi Merah Putih vs Koalisi Indonesia Hebat di dalam parlemen. Formatur pimpinan MPR, DPR, dan DPD usai terbentuk, publik kembali digiring dengan hingar-bingar pelantikan presiden dan wakilnya. Jeda sejenak, publik dag-dig-dug menunggu pengumuman susunan kabinet pemerintahan yang baru. Meski dinilai kurang “wow” tetapi Kabinet Kerja telah benar-benar terbentuk dan dilantik. Lepas dari pro-kontra beberapa tokoh yang dinilai kontroversial oleh publik, biarkanlah mereka mulai bekerja untuk membuktikan bahwa pilihan presiden tidak salah.

Sesudah kabinet terbentuk, apakah kemudian gonjang-ganjing politik itu usai dan negara kita benar-benar menjadi tenang untuk melanjutkan pembangunan? Weit….nanti dulu dulur! Ternyata memang tahun 2014 masih tersisa dua bulan. Karena tahun ini terlanjur disebut sebagai tahun politik panas, maka bola api ternyata masih terus berkobar. Kali ini soal carut-marut pemilihan pimpinan alat kelengkapan dewan. Kembali perseturuan mengerucut ke kutup Koalisi Merah Putih vs Koalisi Indonesia Hebat. Ini apalagi kalau bukan soal perebutan kursi jabatan kekuasaan yang pasti ujung-ujung ya ke duit. Ya, nggak?

¬†Setelah sebelumnya seolah KMP menang telak dalam mendudukkan tokoh-tokohnya dalam jajaran pimpinan dewan, kini barisan mereka juga mendominasi jajaran pimpinan alat kelengkapan dewan. Merasa tidak terakomodir kepentingannya, KIH justru kemudian mendeklarasikan “DPR Tandingan”. Ini kan sangat luar biasa! Mereka sudah tidak tahu malu lagi dalam mencapai kekuasaan. Apakah rakyat masih bisa diyakinkan bahwa mereka benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat?

Rakyat bisa jadi sudah jauh lebih pintar dan melek politik. Rakyat tidak akan mudah lagi dibohongi oleh para wakilnya. Dalam perseteruan yang terus berlarut-larut tersebut rakyat semakin yakin bahwa mereka hanya mementingkan kepentingan perut mereka sendiri dan golongan atau partainya masing-masing. Mereka sesungguhnya telah mengingkari amanah suci yang diberikan rakyat ke pundak mereka melalui proses pemilihan yang konon katanya demokratis. Mereka lebih mementingkan dan mengumbar hawa nafsunya yang haus kekuasaan, jabatan, dan uang. Mereka sejatinya telah berkhianat terhadap amanat rakyat.

Ibarat gegeran perang Baratayuda yang tengah mencapai puncak sebagaimana sedang tayang di salah satu stasiun tivi swasta, perseteruan antar kubu kekuatan di dalam dewan tersebut juga perang besar yang sangat banyak menguras energi bangsa ini. Dan kita semua paham, di tengah-tengah perseteruan perang besar antar para pembesar, maka sudah pasti rakyatlah yang ujung-ujungnya menjadi korban. Ibarat gajah bertempur melawan gajah, maka pelanduk mati di tengah-tengahnya.

Harusnya anggota dewan itu adalah orang-orang yang terhormat dan mampu menjaga martabatnya sebagai orang berpangkat. Mereka berada di lingkaran kekuasaan untuk memberikan tauladan kebaikan kepada segenap rakyat. Mereka didaulat untuk berpikir, bertindak dan bekerja atas nama kepentingan rakyat. Mereka didudukkan sebagai orang mulia di mata rakyat. Namun bila yang terjadi justru para anggota dewan tersebut malah berulah dan melupakan kewajiban-kewajibannya, rakyat akan sangat dirugikan. Pengawasan terhadap kebijakan pemerintah, legislasi terhadap berbagai rancangan peraturan yang diperlukan dalam menunjang kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi terbengkalai, demikian halnya dengan perencanaan dan realisasi anggaran yang tidak terawasi dengan baik. DPR berulah, rakyat dirugikan! DPR yang makan angkanya, justru rakyat yang terkena getahnya. DPR polah, rakyatlah yang kena pradahnya.

Lor Kedhaton, 4 November 2014

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke DPR Polah Rakyat Kepradah

  1. Muh Nahdhi Ahsan berkata:

    Kalau kisah Bharatayuda sudah jelas mas siapa Pandawa siapa Kurawa, kalau yang kesruh di Senayan itu ndak tau mana Pandawa mana Kurawa je, apa malah Kurawa semua tetapi merasa jadi Pandawa?

    Suka

  2. f.nugroho berkata:

    sejak peserta pemilu diputuskan hanya ada 2 pasang calon, ku udah ga minat lagi ngikuti berita politik. karena saya merasa akan terjadi perang berkepanjangan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s