Tragedi Sandal Jepit


Sandal1   Sandal2

Lagi-lagi ingin cerita soal sandal jepit. Masih senada dengan cerita yang pernah saya sampaikan di sini, kali inipun cerita sandal jepit ini bertemakan sebuah tragedi pilu yang hampir membuat malu. Jika cerita sandal jepit sebelumnya berkenaan dengan “hilangnya sandal”, maka kisah kali ini berkaitan dengan sandal bedhat, alias putusnya tali sandal atau srampat. Nampaknya bulan Oktober dua tahun berturut-turut ini saya mengalami pengulangan tragedi sandal jepit. Apakah hal ini hanya sebuah kebetulan semata, ataukah ada sesuatu makna yang terpendam? Yang jelas saya percaya bahwa hal ini sudah menjadi garis dan kehendak Sing Gawe Urip.

Jika tahun lalu, hilangnya sandal jepit telah mengharuskan saya membeli sepasang sandal baru di toko Almama, sesungguhnya tragedi tahun ini menimpa sandal yang tahun lalu telah saya beli tersebut. Hampir mirip dengan tragedi sandal jepit tahun lalu, selepas menunaikan sholat Maghrib di masjid yang sama, si Ponang sudah mengagendakan bapaknya untuk membelikan pecel lele kegemarannya. Namanya juga orang tua yang sayang anak, tentu saja permintaan itu tak enak untuk ditolak.

Sandal3Nah, pada saat akan menyeberangkan sepeda di pertigaan yang ramai dengan kesemrawutan kendaraan, tiba-tiba sandal jepit yang saya pakai terlepas. Dengan menahan rasa terkejut, saya langsung mengamati dan meneliti apa yang terjadi. Ternyata memang benar, srampat sandal bata yang saya japit dengan jempol kaki terputus. Haduhh, rasanya benar-benar seperti tertimpa kesialan yang luar biasa beratnya. Namun saya masih sempat mencoba tenang, bukankah saya naik sepeda? Kepala harus tetap dingin. Nalar harus tetap jernih. Bukankah dengan mengendarai sepeda, kaki yang tidak beralas kaki tidak akan kentara dan mencolok pandangan orang. Lagi pula saat itu kan hari sudah gelap. Ah, cuek sedikitlah!

Bagaimanapun masih ada agenda ke warung pecel lele yang tidak mungkin dibatalkan. Saya hanya sedikit geli bin keki saja jika ada satu-dua pasang mata yang memperhatikan kaki kanan yang saya seret-seret setengah berjingkat. Ndilalahnya, si Ponang pake merengek minta pecel lele di warung yang lebih jauh dari biasanya lagi. Ya, mau gimana lagi. Tugas seorang bapak harus tetap ditunaikan dengan tuntas.

Seteleh mengayuh sepeda beberapa saat, tibalah kami di warung pecel lele tepian jalan raya yang ditunjuk si Ponang. Untungnya, parkiran di muka warung tenda tersebut masih lapang dan sedikit remang. Hanya sorotan redup nan temaran dari dalam warung samar-samar  menerangi tempat itu. Sejenak menyetandarkan sepeda, saya diam sejenak. Secepat kilat berpikir, saya seolah menjelama menjadi Mac Gyver yang tidak pernah kehabisan akan dalam situasi yang genting sekalipun.

Sejurus kemudian, kepala saya tengokkan ke kanan dan kiri. Si Ponang sampai terheran-heran melihat tingkah laku bapaknya yang nganeh-anehi. Dan, pucuk dicinta ulampun tiba! Tiba-tiba saja pandangan saja tertuju kepada sebuah benda berwarna merah. Benda yang berupa gelangan terbuat dari bahan plastik lentur itupun saya pungut. Tak berselang lama, benda dewa penolong tersebut saya pasangkan pada tali srampat yang tersisa. Kebetulan juga saya segera menemukan sebuah paku bekas meski sudah berkarat. Dengan sedikit kreasi, paku segera saya kombinasikan dengan gelangan plastik tadi sehingga akhirnya sandal yang sudah bedhat tersebut dapat kembali kepada fungsinya untuk mengalasi kaki.

Sandal5Si Ponang geleng-geleng kepala. Awalnya mungkin ia berpikir bapaknya tengah kesurupan memedi sehingga bertingkah aneh. Namun setelah melihat hasil akhirnya, ia justru langsung mengacungkan jempol kanannya sambil bersorak hore. Ia seraya memuji “kreativitas” bapaknya dalam menghadapi kondisi darurat sandal bedhat.

Ada beberapa poin pembelajaran hikmah penting dari peristiwa sandal bedhat tersebut. Dalam kondisi sulit, terjepit dan darurat, seringkali kaki pikiran menjadi kalut, emosi, ditambah rasa panik. Dunia serasa gelap, seolah kiamat benar-benar telah datang. Alangkah baiknya dalam situasi demikian kita menarik nafas dalam-dalam. Kenali keadaan, lihat situasi sekeliling, tetap tenang! Siapa tahu juga ada hal-hal, entah benda, orang lain, atau apapun yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi masalah yang membelit. Sambil melakukan hal tersebut, galilah ide kreatif bin liar di balik kepala kita dengan cepat. Percayalah bahwa di dalam setiap kesulitan yang kita hadapi, Tuhan telah menyertakan pula pemecahan masalahnya walaupun hanya bersifat sementara. Famayya’mal misqoladzarotin khoiroh zarroh, wa mayya’mal misqoladzarotin syarroh zarroh.

Lor Kedhaton, 30 Oktober 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Ngisor Blimbing dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s