Legenda Gua Pindul


Membicarakan perkembangan obyek pariwisata yang berkembang pesat di Gunung Kidul tentu tidak bisa dilepaskan dari Goa Pindul. Goa Pindul merupakan sebuah obyek wisata baru andalan Kabupaten Gunung Kidul yang berada di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, kurang lebih 10 Km arah timur laut Wonosari.

Gua PindulFoto unduh dari http://www.goapindul.files.wordpress.com

Goa Pindul mulai dikembangkan sebagai obyek wisata jelajah gua (cave tubing) pada pertengahan tahun 2011 yang lalu. Berawal dari gagasan beberapa pemuda setempat yang melihat potensi mata air di dalam gua bawah tanah yang sangat menarik untuk dijelajahi, mereka kemudian menyampaikan proposal pengembangan wisata Gua Pindul ke tingkat kelurahan, kecamatan, hingga kabupaten. Sangat kebetulan jika kemudian gagasan tersebut mendapatkan gayung sambut. Sebelumnya air dari mata air di dalam Gua Pindul hanya dimanfaatkan untuk irigasi pertanian dan perikanan setempat.

Melalui bantuan dana pembangunan dari berbagai pihak, mulailah dibangun infrastruktur penunjang obyek wisata. Akses jalan diaspal mulus, jalan setapak menuju pintu masuk gua dan di ujung pintu keluar gua juga dibenahi. Sarana dan prasarana pendukungpun tak lupa dibenahi, seperti tempat parkir kendaraan pengunjung, fasilitas wc dan kamar mandi, mushola, bahkan warung makan serta toko-toko cinderamata. Demikian halnya dengan perlengkapan yang dipergunakan khusus untuk wisata gua dan jelajah sungai, semisal ban karet, pelampung, kendaraan pengantar dilengkapi.

Tidak hanya terhenti pada pembangunan infrastruktur dan perlengkapan pendukung, pembinaan sadar wisata dan pengembangan usaha pendukung kepariwisataan juga disosialisasikan dengan gencar. Desa Bejiharjo kemudian menyandang predikat sebagai desa wisata yang dikelola secara mandiri melalui beberapa kelompok sadar wisata (pokdarwis). Hingga saat ini bahkan telah terbentuk sembilan pokdarwis yang mengelola secara bersama keberadaan wisata Gua Pindul.

Sebagaimana umumnya suatu tempat di kalangan masyarakat Jawa yang masih mempertahankan sejarah dan tradisi desanya, Desa Bejiharjo dengan Gua Pindul-nya juga menyimpan banyak legenda penuh misteri yang eksotik untuk disimak. Sebagaimana kisah yang disampaikan Mbah Bejo (bukan nama sebenarnya), konon katanya nama Gua Pindul berasal dari sebuah peristiwa yang terjadi tatkala bayi putera Panembahan Senopati akan dimandikan pada sebuah sendang di dalam gua. Untung tak dapat diraih dan malangpun tak dapat ditolak, pada saat sang pengasuh tengah memandikan bayi, pipi bayi tersebut terbentur dinding gua hingga menimbulkan sebuah benjolan (benjolan dalam bahasa Jawa disebut jendul). Seketika keluarlah ikrar Panembahan Senopati yang mengatakan, “Suk tembe mburi tumekan rejane jaman, guwo iki sun tengeri guwo Pindul (pipine njendul)”.

Bayi yang pipinya terbentur, tentu saja menangis kencang. Air mata berlinang dari kedua kelopak mata bayi suci yang belum mengenal dosa tersebut. Derasnya air mata sang bayi laksana mata air yang menghadirkan butiran-butiran air. Kejadian tersebut berlangsung tepat di pintu keluar gua. Maka semenjak saat tersebut, pintu keluar Gua Pindul disebut sebagai Banyumoto. Titik inilah yang selanjutnya dibendung agar air di dalam Gua Pindul senantiasa menggenang. Di samping itu, aliran air yang dihasilkan pada bendungan Banyumoto juga dialirkan ke arah aliran Kali Oyo yang dipergunakan untuk irigasi pertanian, perikanan, dan jelajah susur Kali Oya yang juga mendukung keberadaan wisata Gua Pindul.

Ketika telah keluar dari dalam gua, bayi Panembahan Senopati selanjutnya dibaringkan pada sebuah tikar, bahkan karena ketidakadaan pakaian, maka tikar pandan tersebut kemudian dipergunakan untuk menggedhong sang bayi. Tikar dalam bahasa Jawa disebut gelaran. Maka semenjak itu dusun tempat kejadian peristiwa tersebut dinamai Dusun Gelaran.

Di samping daya tarik dongeng legendanya, Gua Pindul juga menyimpan banyak pesona. Mata air di dalam Gua Pindul merupakan mata air abadi yang tidak pernah mengering meski pada musim kemarau yang sangat panjang seperti pada saat ini. Selanjutnya menjelajahi Gua Pindul dengan menggunakan ban karet sebagai kendaraan apung sambil berentengan dengan pengunjung yang lain membentuk sebuah rantai donat raksasa berbalut rasa kebersamaan yang sangat mengesankan.

Sebagai sebuah gua alam, Gua Pindul tentu saja menawarkan sajian struktur batuan kars yang sangat khas. Di berbagai sudut sisi gua banyak terdapat stalaktit dan stalakmit yang masih aktif dan terus tumbuh. Dari bentuk fisiknya yang sangat khas, beberapa stalaktit dan stalakmit di Gua Pindul selanjutnya menyandang beberapa nama seperti batu perkasa, watu gong, kuncup melati, dan lainnya. Pada beberapa sudut langit-langit Gua Pindul terdapat sarang beberapa hewan khas gua, diantaranya burung walet, sriti, dan kelelawar atau kalong. Dari gelap-terangnya area penjelajahan Gua Pindul dapat dibedakan menjadi zona terang, remang dan gelap abadi.

Selepas berpuas menjelajahi Gua Pindul, oleh tuan rumah, pengunjung akan disuguhi dengan hidangan makan siang secara prasmana. Menu-menu masakan khas tanah kapur Gunung Kidul akan menemani dan melepas rasa lapar setelah sebelumnya berkelana di Gua Pindul maupun Kali Oyo. Di meja hidang pengunjung akan terobati rasa kengennya masakan khas padusunan seperti nasi beras merah, sayur tempe krecek, sayur daun pepaya, urap, ikan wader, hingga krupuk gendar yang super renyah nan gurih. Menikmati sajian sambil lesehan dengan teman dan kerabat, sambil beramah tamah ataupun bercanda riang tentu merupakan sebuah momentum puncak rasa bahagia yang akan senantiasa terkenang.

Sudah sampai Jogja? Alangkah sayang jika tidak sekaligus mampir di wisata alam Gua Pindul! Dijamin akan ketagihan untuk kembali. Nggak percaya? Monggo dicoba dan buktikan sendiri!

Ngisor Blimbing, 26 Oktober 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Legenda Gua Pindul

  1. rike jokanan berkata:

    Masuk daftar kunjung 2015…. Matur nuwun sudah sharing….

    Suka

  2. Deby Larasati berkata:

    pasti akan saya kunjungi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s