Pesta Sebelum Bekerja


JKJKLazimnya sebagai ummat beragama, setiap langkah kerja senantiasa diawali dengan doa. Dalam tuntunan Islam, bahkan setiap kerja dapat diniatkan sebagai amal ibadah. Pada titik inilah bisa jadi doa menjadi benang merah penghubung dimensi kehidupan duniawi dan ukhrawi, antara dimensi horisontal dan vertikal, sebuah pijakan transedental antara manusia dengan Tuhannya.  Jika setiap kerja senantiasa dilaksanakan pada pijakan transendetal diharapkan tidak ada penyalahgunaan kerja yang dapat menimbulkan kerugian atau ketidakmanfaatan bagi manusia, bagi alam, dan tentunya untuk Tuhan. Kerja adalah sebuah karya untuk memperbesar kemanfaataan sebagaimana tuntunan Tuhan. Alangkah indahnya dunia. Anda sepakat? Nah, bagaimana jika justru sebuah kerja dimulai dengan pesta?

Secara formal, mungkin pesta sebelum bekerja tidak menjadi masalah. Tetapi mungkin dari segi aspek moral, etika, budaya, atau agama sebagaimana telah terpapar dalam uraian sebelumnya, apakah hal tersebut sudah tepat? Dalam khasanah tradisi keseharian, baik di lingkungan keluarga, kerja, ataupun kelompok masyarakat yang lebih luas, setidaknya kita mengenal syukuran atau tasyakuran, di samping ada pula “selametan“. Apakah ada relevansinya dengan pesta?

Istilah pesta, mungkin lebih identik dengan suka ria, bergembira ria, bahkan bersenang-senang, hura-hura hingga lupa aturan, lupa daratan, lupa diri dlsb. Intinya pesta ya identik dengan ekspresi kebebasan yang sebebas-bebasnya, tanpa kendali, tanpa batasan. Pesta jenis ini merupakan pesta yang sama sekali tidak produktif dan membawa kepada tindak kemudharatan atau kemaksiatan. Contoh nyatanya ya apa yang kita dengar sebagai pesta sabu-sabu, pesta arak, pesta sex, ataupun pesta kumpul kebo. Bukankah yang nampak hanyalah pemuasan nafsu yang akan menuntun manusia kepada kesesatan serta kerusakan moral?

Dalam konteks lain ada juga pesta padi, pesta buku, pesta kebun, pesta ulang tahun, pesta pernikahan, ada juga pesta rakyat. Untuk model pesta yang ke dua ini, konteksnya lebih tepat sebuah ungkapan rasa syukur terhadap karunia nikmat Tuhan. Dalam pesta juga dijalin hubungan harmonis terhadap sesama makhluk Tuhan. Dari suatu benih atau niat kebaikan, harapannya kemudian ditanam, dirawat, ditumbuhkembangkan lebih meluas menjadi nilai kebaikan yang akan benar-benar bermanfaat bagi semua.

Kembali kepada konteks syukuran atau tasyakuran, jenis pesta dengan spirit kebaikan sebagaimana contoh ke dua merupakan hal yang sepatutnya kita tumbuh kembangkan bersama dengan pemaknaan sebuah pesta merupakan wujud rasa syukur untuk memohon ridlo agar kenikmatan yang telah diberikan bisa lebih bermakna di masa depan. Syukuran merupakan ungkan rasa terima kasih kepada Tuhan setelah kita melakukan, menjalani, atau melampaui sebuah peristiwa, juga kerja, dengan selamat atas bimbingan-Nya, jauh dari halangan dan rintangan. Kenikmatan baru akan menjadi sejatinya kenikmatan jika kenikmatan tersebut dipergunakan sebenar dan sebesar-besarnya untuk mendukung jalan ketaatan kepada Tuhan.

Jadi setelah bekerja baru pesta? Demikianlah semestinya menurut saya. Bukankah berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian? Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian? Bekerja keras terlebih dulu, baru kemudian memetik hasil atas jerih upaya tersebut? Lalu bagaimana saat pemimpin baru dilantik, justru malah rakyat berpesta dalam pesta rakyat?

Pertama, dalam konteks pribadi seorang pemimpin baru, saat pelantikan adalah titik awal ia mengemban amanah rakyat. Di sinilah beban berat seorang pemimpin sejatinya baru dimulai. Pada momentum seperti ini, nenek moyang kita justru mengajarkan lelaku selametan. Dalam sebuah prosesi selametan, bukan ucapan atau ungkapan selamat bahwa seseorang telah berhasil menduduki jabatan pimpinan. Lha wong kerja baru akan mulai kok sudah bicara berhasil! Dalam sebuah selametan yang dikedepankan justru pemanjatan doa agar si pemimpin dilapangkan jalan ke depan, dihindarkan dari segala macam bentuk halangan, diberikan petunjuk mulia, diberikan kesabaran luas, dan segala macam harapan kebaikan agar amanah yang telah diberikan oleh rakyat bisa diemban dengan sebaik-baiknya. Selamat sampai tujuan dalam memangku jabatan.

Kedua, dalam khasanah sejarah kepemimpinan ummat Islam, titik pelantikan jabatan oleh Sahabat Abu Bakar as Siddiq justru dilihat sebagai sebuah musibah. Ia justru mengucapkan kalimat “inna lillahi wa inna ilaihi roji’un“, segalanya berasal dari-Nya dan segalanya akan kembali juga kepada-Nya. Kalimat yang sering diidentikkan dengan peristiwa kematian ini menunjukkan bahwa sebuah amanah jabatan kepemimpinan merupakan sebuah cobaan yang tidak ringan. Jabatan, pangkat dan kedudukan lebih dilihat sebagai musibah dibandingkan sebagai anugerah. Apakah masih ada pemimpin yang memiliki prinsip yang sama?

Ketiga, jika syukuran dikaitkan dengan keberhasilan seseorang dalam mengemban sebuah tugas, amanah, jabatan atau kursi kepemimpinan, maka yang layak menggelar tasyakuran mestinya adalah pihak yang telah paripurna memegang tampuk kepemimpinan. Apakah ia berhasil atau tidak menjalankan amanah rakyat selama memangku jabatan, tentu rakyat sudah sangat cerdas untuk memberikan penilaiannya.

Lalu bagaimana dengan pesta? Pesta rakyat? Setidaknya kita masih bisa berbaik sangka bahwa semoga pesta yang ada memang perwujudan atau bentuk rasa syukur atas anugerah seorang pemimpin yang memberikan harapan hari depan yang lebih baik. Namun demikian, batas-batas pesta agar tidak menjurus kepada tindakan berlebihan, berboros ria, pesta pora hura-hura yang menjadi pegangan bersama. Bagaimanapun sebuah harapan masih memerlukan proses pengujian ruang dan waktu yang tidak instan, jangka panjang, bahkan mungkin antar generasi.

Karena istilah pesta rakyat sudah sedemikian salah kaprah yang menjadi kabur batasannya dengan tradisi tasyakuran maupun selametan, paling tidak marilah kita arahkan pesta tersebut untuk lebih mendekati makna yang semestinya. Selamat bertugas dan bekerja “sangat keras” untuk kepemimpinan nasional kita yang baru. Semoga Indonesia benar-benar menuju era baru yang lebih baik dari masa lalu. Semoga tuhan merahmati cita-cita kita bersama. Kerja kita masing sangat panjang.

Lor Kedhaton, 20 Oktober 2014

 

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s