Air dan Api


Panas! Dimana-mana serasa panas. Tidak siang, tidak malam, sepanjang hari kok rasanya kemrangsang. Kita serasa dimasukkan ke dalam oven. Tidak hanya sekedar keringat bercucuran, segala sendi dan tulang menjadi sedemikian tidak nyamannya. Apa iya dunia memang sudah berubah menjadi neraka? Bukankah yang serba panas, yang serba api itu konon hanya ada di neraka.

Kemarau tahun ini memang sudah sedemikian panjangnya. Bulan ber-ber, mulai September, Oktober, November, dan Desember konon dulunya sangat identik dengan tingginya curah hujan. Ber-ber, menandakan masa puncak mengalirnya sumber-sumber air. Sepanjang hari, sepanjang minggu dan selama beberapa bulan di penghujung tahun biasa diwarnai dengan hujan, hujan dan hujan. Tetapi lain dulu, lain kini. Hitungan ber-ber seolah sudah meleset jauh, Jangankan hujan, lha sekedar mendung saja seringkali hanya menghampiri sesaat seolah sengaja memberi harapan palsu. Manusia seolah sedang di-php. Benar nggak sih?

Akibat dari masa musim panas yang sudah sangat berkepanjangan tentu saja tidak hanya sekedar rasa haus di kerongkongan kita. Memang kita dalam beraktivitas sehari-sehari dalam kondisi suhu udara yang tinggi, lebih-lebih jika dilakukan di luar ruangan, seringkali menjadikan ngap-ngapan, cepat berkeringat, cepat haus, dan pastinya menjadi cepat lelah pula. Bayangkan saja jika suhu tengah hari bisa mencapai 38-40 derajat! Kondisi yang sudah pasti sudah di luar batas kenormalan yang wajar. Walhasil, aktivitas tentu saja menjadi tidak optimal dibandingkan pada kondisi normal.

Tidak hanya manusia yang terganggu dengan kemarau yang panjang ini, alampun mengalami dampak yang juga tidak kalah parahnya. Musim panas tentu saja menjadikan persediaan air berkurang sangat drastis. Sumber-sumber mata air mengecil. Sumur-sumur dan sungai-sungai juga mengering. Danau, rawa, bahkan laut juga surut airnya. Hal ini tentu saja menjadikan tata keseimbangan alam terganggu.

Maka dapat dibayangkan jika kemudian dimana-mana terjadi krisis air. Tanaman, pepohonan dan segala macam tumbuhan menjadi kekurangan air, layu, kering dan akhirnya mati. Padi-padi tidak dapat tumbuh dengan sempurna, dan banyak yang puso dan gagal panen. Demikian halnya dengan tanama sayuran maupun buah-buahan.  Akibatnya panenan menurun. Berawal dari krisis air, permasalahan merembet kepada krisis pangan.

Masalah terhenti di situ? Tentu saja tidak! Kondisi reremputan, tanaman semak, hamparan ilalang, hingga pepohonan yang mengering sangat rentan terdapat percikan api, sekecil apapun percikan tersebut. Faktor alamiah, kecerobohan, hingga tindakan sengaja manusia dalam keadaan demikian telah banyak menimbulkan bencana kebakaran. Bukankah banyak lahan, ladang ataupun hutan-hutan yang terbakar di berbagai penjuru tanah air. Bahkan akibat asap yang terbentuk dari berbagai kebakaran tersebut telah menimbulkan gangguan terhadap berbagai aktvitas manusia. Nafas sesak, mata pedih, hingga kabut asap telah melumpuhkan kegiatan manusia di beberapa daerah. Sekolah libur, para pekerja dirumahkan sementara, bahkan berbagai jalur penerbangan juga terganggu. Asap, bahkan sudah “terekspor” hingga ke beberapa negara tetangga.

Air dan api memang sama-sama dibutuhkan oleh manusia. Tetapi porsi kebutuhan manusia terhadap air dan api berada pada takaran tertentu. Air dan api yang sangat kurang akan menimbulkan masalah atau krisis. Namun sebaliknya, jika air dan api berlimpah ruah melebihi kebutuhan manusia juga tetap akan menjadi bencana. Apapun menjadi baik bagi manusia jika hadir  dalam ruang dan waktu yang tepat dengan porsi yang pas pula, barulah sesuatu itu akan memberikan manfaat dan menjadi sahabat yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Bukankah demikian?

Ngisor Blimbing, 18 Oktober 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s