Aku Besar dan Aku Kecil


Soal besar dan kecil, tentu kita sadari bahwa keberadaan dua hal yang berbeda serta terkesan kontradiktif tersebut justru merupakan sebuah wujud sunatullah yang menyangga gerak roda kehidupan. Besar dan kecil, tak ubahnya ada dan tidak ada, kaya dan miskin, siang dan malam, tinggi dan rendah, pandai dan bodoh, sehat dan sakit, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, fana dan kekal, semua hadir berpasang-pasangan sebagai sebuah keniscayaan dunia. Masing-masing pasangan tersebut akan selalu ada dan hadir sebagai syarat sebuah keseimbangan atau harmonisasi kehidupan manusia.

Dalam kesempatan ini saya ingin berbincang mengenai besar dan kecil dalam konteks keakuan, kedirian, cinta, dan juga sikap kepemimpinan seseorang. Secara naluri kemanusiaan, seseorang tentu saja memiliki egosentris untuk mengutamakan dan mengedepankan kepentingan dirinya sendiri. Tanpa pengendalian yang tepat, egoisme yang muncul bisa berakibat menjadi perbuatan memanfaatkan, memperalat, bahkan mengeksploitasi orang lain untuk kepentingan diri sendiri.

Ketika seseorang mulai mencintai orang lain, katakanlah seseorang yang diharapkan bisa menjadi pelabuhan hatinya, sesungguhnya dorongan mencintai tersebut berasal dari kebutuhan rasa disayang dan dicintai. Suatu bentuk kebutuhan diri sendiri dengan mendapatkan sesuatu dari orang lain. Adalah naluriah manusia akan senang apabila ia mendapatkan perhatian, cinta, dan kasih sayang. Sebuah keseimbangan hubungan yang harmonis akan terwujud apabila kedua belah pihak kemudian dapat saling bertepuk seirama untuk saling mengasihi, saling mencintai, saling memberi, serta saling menerima.

Namun apabila cinta tersebut bertepuk sebelah tangan, yang sering terjadi kenapa justru rasa benci akibat cinta yang tertolak? Kejadian ini sebenarnya sebuah bukti nyata bahwa cinta yang awal bersemi tersebut bisa jadi merupakan sebuah pemaksaan rasa yang timbul dari ego seseorang terhadap orang lain. Ia berharap bahwa orang lain akan membalas rasa cintanya, kemudian memberikan perhatian, rasa kasih dan sayangnya kepada dirinya. Bukankah hal ini sebuah bentuk egoisme dimana seseorang lebih mementingkan pemenuhan rasa di hatinya sendiri dan berharap orang lain memberikannya? Aku yang ada barulah sebatas aku kecil. Aku diri sendiri. Sesungguhnya cintanya baru sampai kepada kecintaan terhadap dirinya sendiri.

Namun sebaliknya, jika rasa cinta bergayung sambut, maka rasa berbunga-bunga akan membuncah dari kedua belah pihak yang kemudian saling mencurahkan rasa cinta dan kasih sayang. Dunia seolah berseri dan indah sekali. Setiap saat, setiap detik hanya bayangan dia yang hadir di pelupuk mata. Segala angan, cita dan rasa hanya penuh dengan sosok si dia yang dicinta. Seolah semua rasa telah lebur, menyatu, manunggal dari dua hati insan yang berbeda.

Apabila kemudian ada orang lain mengganggu atau menyakiti seseorang yang kita cinta, kitapun akan merasakan terganggu dan juga rasa sakit itu. Kita akan membela orang yang kita cinta, bahkan jika perlu sampai titik darah penghabisan. Inilah bentuk totalitas sebuah cinta. Cinta sudah meluas dari cinta terhadap diri sendiri menjadi cinta terhadap kebersamaan dengan seseorang dicinta. Aku sudah mulai meluas.

Demikian halnya ketika telah hadir anak-anak sebagai buah kasih cinta suami-istri. Seorang suami sekaligus seorang ayah akan mengayomi istri dan anak-anaknya. Bila adal seseorang yang mengganggu anak-anaknya, ia akan tampil membela dengan sekuat tenaga. Ia bekerja, ia mencari nafkah, ia berjuang, ia bernafas, ia hidup sudah tidak lagi semata-mata demi dirinya sendiri. Ia ada untuk keluarga. Ia ada untuk anak-anak dan istrinya. Dalam konteks ini, makna cinta telah lebih meluas lagi.

Cinta telah berkembang di luar batas cinta kepada diri sendiri dan cinta kepada seseorang yang istimewa, tetapi cinta telah melingkupi sebuah keluarga. Di sinilah peranan seorang ayah sebagai sosok pemimpin yang bertanggung jawab terhadap keluarganya. Ia sisihkan rasa ego diri sendiri, ia akan kesampingkan rasa cinta kepada istrinya, jika dibandingkan rasa cintanya kepada anak-anak dan keluarganya sebagai sebuah wujud perluapan rasa cinta. Diri sendiri semakin mengkerdil, mengecil, menihil, lenyap bahkan sirna. Aku kecil mulai sirna dan tumbuh menjadi aku yang lebih besar. Di sinilah sebuah kebesaran yang sejati mulai tumbuh.

Dalam konteks pemimpin pemerintahan atau negara, filosofi sirnanya aku kecil dan tumbuhnya aku besar, bahkan aku yang lebih besar harus menjadi pijakan setiap pemimpin. Ketika ia telah memangku jabatan seorang pemimpin, maka ia harus melebar-luaskan rasa cintanya dari kecintakan terhadap diri sendiri, cinta terhadap pasangan hidup, cinta terhadap anak-anak, cinta terhadap keluarga, cinta terhadap kelompoknya, cinta terhadap partainya, menjadi cinta yang tak terbatas untuk seluruh rakyat yang menjadi tanggung jawabnya. Pemimpin sejati akan merasa sakit apabila rakyatnya tersakiti. Pemimpim akan merasa susah hidupnya jika rakyat yang dipimpinya mengalami kesusahan hidup. Rakyat kelaparan, pemimpin juga kelaparan. Rakyat menderita, pemimpin juga tidak ketinggalan merasakan derita yang sama. Inilah penjelmaan makna kesadaran manunggaling kawula lan gusti, kebersamaan, kesatuan, senasib-sepenanggungannya pemimpin dengan rakyatnya.

Adakah kita masih memiliki bibit-bibit pemimpin sejati yang melebih-luaskan aku besarnya di atas aku kecilnya, bahkan meniadakan aku kecilnya?

NB: tulisan ini merupakan pengembangan bebas dari diskusi yang menghadirkan Noe Letto sebagai narasumber dalam Kenduri Cinta edisi Oktober 2014.

Lor Kedhaton, 15 Oktoberc 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Aku Besar dan Aku Kecil

  1. bundaily berkata:

    Mantab artikelnya om nanang. Ada besar, karna ada kecil sbg pembandingnya ๐Ÿ˜€

    Btw, mas nanang setuju gak bahwa tidak ada yg namanya penolakan cinta? ๐Ÿ™‚

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Penolakan cinta? jika cinta dipandang sebagai fitrah manusia yang suci, murni, mendasar dan universal dalam relasi sesama makhluk-Nya, tentu tidak ada satupun insan manusia yang menolaknya.
      Tetapi dalam kenyataannya, cinta terkadang hadir dalam bentuk, wujud, atau manifestasi yang lebih sempit dan hanya sesuai untuk ruang dan waktu tertentu. Contohnya cinta seorang suami terhadap istri, tentu tidak akan diterima, tidak dalam konteks ruang dan waktu yang tepat jika diberikan kepada anak kandung, kepada mertua, apalagi wanita lain.
      Jadi soal cinta terkadang bisa sangat sederhana, tetapi di lain ruang dan waktu bisa juga menjadi sangat kompleks. Demikian mungkin tanggapan saya Bundaily, terima kasih berkenan singgah.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s