Menegakkan Pagar Miring


Salah satu segmen kisah petualangan bergurunya Nabi Musa kepada Nabi Khidzir adalah ketika mereka berdua sampai pada sebuah perkampungan yang dihuni oleh orang-orang yang tidak bersahabat, berperilaku tercela, pokoknya para pelaku kemaksiatan kelas wahid wis. Nah pada saat keduanya menjumpai sebuah rumah kosong, sudah mau roboh, pagar dan dindingnya miring, justru Khidzir mengajak Musa untuk membenahi, terutama menegakkan pagar yang miring.

Meskipun Musa menuruti semua perintah Khidzir tetapi ia tidak kuasa untuk menahan rasa ingin tahunya. Akhirnya Musa lupa dengan pantangan tidak boleh menanyakan apapun pada saat ia bersama Khidzir. Apabila Musa menanyakan sesuatu yang dikerjakan Khidizir hingga tiga kali, maka di saat itulah waktu perpisahan telah tiba. Akhirnya menjelang perpisahan sebagaimana telah menjadi perjanjian mereka berdua, Khidzir mbabar rahasia setiap hal yang dikerjakannya yang senantiasa seolah bertentangan dengan nalar logikanya Musa.

Mengenai pekerjaan menegakkan pagar tadi, Khidzir berujar,” Saya menegakkan pagar, membenahi rumah yang hampir roboh itu dikarenakan di bawah rumah tersebut tersimpan harta karun yang menjadi hak waris anak yatim-piatu. Dengan harta warisan itu, kelak para anak-anak tersebut dapat mempergunakannya sebagai bekal hidup di jalan Tuhan.” Musa manggut-manggut, ia baru paham dan memang mengakui bahwa ilmu pengetahuannya tidaklah sekedar setitik debu dibandingkan keluasan dan kedalaman ilmu Khidzir.

Menegakkan Pagar Miring sengaja diangkat menjadi tema diskusi Kenduri Cinta edisi Oktober 2014 kemarin. Berangkat dari kisah Nabi Musa dan Nabi Khidzir segenap jamaah didorong untuk menggali kembali mengenai apa dan bagaimana keadaan kehidupan kita dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Ibrah atau pelajaran menegakkan pagar miring di atas sebenarnya sangat kontekstual dengan keadaan di negara kita yang tengah terombang-ambing dalam badai prahara kehidupan yang tak kunjung usai saat ini. Bagaimana tidak kacau, para pemimpin negara ini harusnya bekerja dan berjuang untuk kepentingan segenap rakyat dan anak cucu kelak di kemudian hari, tetapi justru mereka merampok segala sumber daya hak milik para penerus bangsa. Minyak dijual murah. Batubara, timah, tembaga, pasir besi, semuanya hanya “dimakan” segelintir orang dan kelompoknya.Kita seolah sangat serakah dan tidak lagi menyisakan bagian anak cucu kita di masa datang.

Tidak terhenti hanya pada soal sumber daya alam, martabat dan kehormatan bangsa juga telah banyak digadaikan ke luar negeri. Kita menjadi bangsa yang inverior, minder, rendah diri dan selalu memandang ke atas terhadap segala apapun yang datang dari luar negeri. Kita telah kehilangan kesadaran diri dan pondasi jati diri. Kita tidak lagi mandiri sebagai sebuah bangsa yang hebat. Kita memang hanya tinggal menunggu panennya kehancuran demi kehancuran sebagai buah perbuatan yang kita lakukan.

Namun demikian sebenarnya Tuhan akan senantiasa menolong siapapun hamba-Nya yang masih mau memperjuangkan nasib. Kitapun tidak perlu berkecil hati karena sesungguhnya nenek moyang kita telah banyak mewariskan bekal pengetahuan, nilai luhur, kebijaksanaan, ataupun kearifan lokal yang senantiasa relevan sepanjang jaman. Kita harus menggali kembali, mengenali kembali, dan mempelajari kembali ilmu-ilmu “kuno” tersebut untuk dikontekstualisasikan dengan perkembangan masa kini.

Tiga kisah utuh pengembaraan Musa yang berguru kepada Khidzir, mulai dari segmen menegakkan pagar miring, membocori perahu penyebrangan, serta pembunuhan terhadap seorang bocah pada hakekatnya merupakan penggambaran keluasan ilmu Khidzir yang menembus dimensi waktu masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dari mana kita berasal, di mana kini kita berada, dan ke mana kita akan melangkahkan tujuan hidup. Carut marut persoalan bangsa dan negara kita harus didekati pemecahannya dengan memetakan masa lalu, masa kini, dan masa depan yang ingin kita tuju.

Dalam kerangka kajian Kenduri Cinta, berbagai warisan berharga dari para pendahulu tidak boleh sembarangan dieksploitasi, dikuras habis, bahkan dijual murah kepada bangsa lain karena pada hakekatnya warisan tersebut adalah titipan untuk anak cucu generasi penerus bangsa yang akan datang. Warisan tersebut dapat berupa apapun yang berharga dari bangsa kita, bisa kepribadian, nilai dan pranata luhur, adat dan tradisi, seni, hingga kekayaan alam, bahan tambang, minyak bumi, batu bara, tembaga, timah, emas dan lain sebagainya. Pada titik kesadaran pikir inilah diharapkan segenap Lingkaran Maiyyah Nusantara memerankan peranan pentingnya. Semoga.

Ngisor Blimbing, 11 Oktober 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s