Tuah si Bocah Sungsang


Genduk1Sedikit-sedikit, sebagai orang Jawa, tentu saya pernah menyimak lakon wayang “Ruwat Murwa Kala”. Di dalam kisah wayang yang sering dipentaskan pada hajatan ruwatan tersebut Ki Dalang pasti medhar sabda mengenai keadaan-keadaan yang karena sebab-sebab tertentu harus menjalani ritual ruwat. Ruwat dalam bahasa Arab disepadankan dengan kata tahlukah, artinya penebusan dosa. Dalam makna yang lebih luas, ruwat bisa saja dimaknai dengan upaya pembersihan diri untuk membuang anasir negatif atau kesialan hidup.

Nah salah satu ciri seseorang, terutama sewaktu masih usia bocah, yang wajib menjalani ritual ruwatan adalah bocah yang terlahir secara sungsang. Maksud dari kelahiran sungsang, adalah posisi si jabang bayi dalam proses persalinan yang terbalik dari kebanyakan kelahiran bayi pada umumnya. Jika bayi secara normal terlahir dengan keluarnya bagian kepala terlebih dahulu, maka bayi sungsang justru terlahir dengan bagian kaki atau bagian bawah tubuh yang keluar dari dalam rahim terlebih dahulu.

Adalah sekedar sebuah kebetulan jika si Genduk memang terlahir dalam posisi sungsang. Pada masa usia kehamilan menginjak delapan bulan, janin si Genduk terbalik dengan posisi kaki di bagian bawah. Berbagai upaya telah dilakukan, namun posisi janin tidak berubah hingga hari-hari menjelang kelahirannya. Hal tersebut terjadi karena di samping posisi sudah sungsang, tali pusar atau plasenta janin juga melilit pada lingkar leher. Atas petunjuk dari dokter, kelahiran si Genduk harus dipersiapkan dengan operasi caesar.

Kala itu sekitar sepertiga malam yang akhir hari Sabtu Kliwon, air ketuban tumpah sudah. Dengan bergegas saya antarkan Ibuke Genduk ke rumah sakit terdekat. Maka segera segala daya upaya usaha dipersiapkan untuk proses persalinan secara caesar tadi. Terbaring kesakitan di ruang operasi, Ibuke Genduk terus menahan rasa yang semakin tidak bisa tahan lagi. Akhirnya, apa yang tergariskan harus terjadi benar-benar terjadi. Rencana operasi tinggallah sebuah rencana, karena sampai detik dokter yang akan mengoperasi belum datang, saat kelahiran itu tidak bisa ditunda lagi. Akhirnya terlahirlah si Genduk dengan posisi pantat keluar terlebih dahulu. Proses kelahiran bayi sungsang yang sangat mendebarkan siapapun yang menyaksikan atau bahkan sekedar mendengar kisahnya. Dialah si Genduk yang kini dikenal para tetangga sebagai bocah sungsang.

si GendukEntah sekedar gugon tuhon atau gosip para ibu-ibu, tersebarlah kisah tentang tuah si bocah sungsang. Menurut kepercayaan tradisi di sekitaran Ndalem Ngisor Blimbing, seseorang yang terlahir sungsang akan memiliki keistimewaan-keistimewaan, bahkan tuah yang tidak main-main. Saya sendiri tidak tahu persis hal tersebut benar atau hanya sekedar isapann jempol. Namun dalam perkembangan pertumbuhannya, si Genduk benar-benar menjadi idola ibu-ibu tetangga. Khususnya di waktu sore, para ibu berkumpul reriungan di bawah pohon blimbing kami. Tak lupa di tengah obrolan ngalor-ngidul yang seringkali tak jelas, mereka bergiliran mbopong, nggendhong, ataupun sekedar ngudang si Genduk.

Satu ketika ada salah satu bocah tetangga yang makan berlauk ikan. Entah karena teledor atau tergesa, tiba-tiba duri ikan tersangkut di kerongkongan si bocah dan mengakibatkannya tersedak. Tentu saja hal tersebut membuat ia sangat kesakitan dan terganggu saluran pernafasannya. Ia menjadi tersengal-sengal. Dengan sedikit panik si ibu bocah segera memberinya minum air putih sebanyak-banyaknya. Maksudnya sudah pasti agar tulang yang nyangkut tersebut tergelontor dengan air dan tidak lagi menyumbat kerongkongan serta saluran pernafasan. Berkali-kali dan bergelas-gelas air digelontorkan, tetapi usaha tersebut belum juga membuahkan hasil.

Dengan tergesa, si ibu segera membawa bocahnya ke padhepokan kami. Kebetulan para ibu sedang berkumpul merubungi si Genduk. Melihat si bocah tersedak yang semakin tersengal-sengal nafasnya, salah satu ibu-ibu berinisiatif mengambilkan segelas air putih. Dengan komat-kamit bacaan bismilah dan fatihah, tangan si Genduk segera dimasukkan ke dalam air pada gelas tersebut. Tangan si Genduk diobok-obokkan pada air putih dalam gelas itu. Sejenak kemudian, air putih tersebut diminumkan kepada si bocah tersedak. Setelah beberapa teguk air masuk, nampak si bocah lega dan nafasnya lancar kembali. Keadaan telah teratasi. Peristiwa ini menambah keyakinan para ibu tentang tuah si bocah sungsang!

Kisah tuah si Genduk bocah sungsang tidak terhenti hingga di situ, Budhe tetangga yang turut mengasuh si Genduk sering membawa Genduk ke rumahnya pada saat siang hari. Biasanya selepas mandi pagi, menjelang jam 10-an si Genduk bobok hingga waktu kira-kira sekitar Dzuhur. Nanti agak lingsir matahari hingga Ashar ia juga bobok untuk sesi ke dua.

Di samping mengasuh si Genduk, Budhe ini juga sesekali menerima orderan untuk membuatkan kue ataupun hidangan keteringan. Biasalah, jika ada tetangga, kerabat, kenalan ataupun temannya punya hajatan, semisal ulang tahun, syukuran, slametan, sunatan bahkan hingga pernikahan, Budhe biasa menerima order. Bikin kue ulang tahun lah, kue lapis, kue sus, juga beberapa macam roti basah – roti kering. Bikin lemper, semar mendem, nagasari, wajik, jenang, krasikan, termasuk klemet juga pernah. Untuk paket pesanan besar ya ubarampe jamuan prasmana juga dikerjakannya. Nah, anehnya setelah ia sering momong si Genduk bahkan menidurkannya di rumahnya, pesanan kue dan makanan semakin banyak. Kalau dulu hanya sekali-sekali dalam dua-tiga minggu, kini hampir tiap minggu, bahkan pernah seminggu mengerjakan pesanan dua hingga tiga kali.

Nah, pengalaman Budhe inipun menjadi buah bibir di kalangan ibu-ibu tetangga kanan-kiri Ndalem Ngisor Blimbing. Tersebarlah cerita bahwa si Genduk memang ngrejekeni alias membawa datangnya rejeki bagi Budhe. Semakin teballah keyakinan para ibu tentang tuah si bocah sungsang. Saya sendiri tidak mampu mencernanya dengan nalar pemikiran yang logis, tetapi itulah fakta yang telah mendapatkan kesaksian tidak sedikit para tetangga kami. Saya hanya bisa meyakini bahwasanya segala kebaikan turunnya dari Tuhan. Satu-satunya tugas manusia adalah menyebarluaskan benih-benih kebaikan itu ke lingkungan sekitar keluarga masing-masing. Hanyalah manusia yang memberikan manfaat kepada sesama makhluk-Nya, dialah yang tergolong sebagai manusia yang sebaik-baiknya manusia. Khairunnas, anfauhum linnas.

Ngisor Blimbing, 8 Oktober 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s