Salah Hitung Malah Buntung


Konon hidup memang penuh main-main dan permainan. Namun dalam sebuah permainanpun tetap diperlukan perhitungan-perhitungan. Tentu saja perhitungan-perhitungan tersebut dimaksudkan agar manusia meraih untung. Kalau bisa ya sebanyak-banyaknya keuntungan dan sesedikit mungkin mengalami kerugian. Ibarat untung selalu ingin diraih, buntung senantiasa dijauhi.

Malam itu selepas tahlil dan doa untuk almarhum tetangga samping rumah Ndalem Ngisor Blimbing. Berpiring-piring hidangan kue basah dan uba rampenya segera mengalir membanjiri kalangan. Di antara piring-piring kue, hadir kue unti atau nagasari. Kue dari tepung beras diisi dengan irisan pisang raja dan dibalut daun pisang itu segera menarik minat hadirin untuk menyantapknya.

Cerita punya cerita, sang ustadz berkelakar tentang jasa kue unti. Menurutnya, kue unti tersebut pernah sangat berjasa menolongnya dari “kematian”(tepatnya sih kelaparan berat). Waktu itu serombongan orang kampung mendapat undangan untuk hadir mengantarkan seorang calon pengantin pria tetangga kami. Dikarenakan tempat akad nikah dan walimahan di rumah keluarga mempelai perempuan cukup jauh, maka rombongan tersebut harus berangkat pagi-pagi benar.

Meski berangkat esuk mruput, para ibu-ibu sudah memperingatkan agar semua rombongan sarapan dulu untuk mengganjal perut. Tidaklah baik berangkat ke suatu tempat dalam keadaan perut kosong, meskipun rombongan tersebut memang berasal dari Kampung Kosong. Namun hitung punya hitung, karena sedikit tergesa berangkat maka hampir seluruh rombongan tidak sempat sarapan. Dengan enteng mereka berpikir, ah nantinya pasti selepas akad nikah selesai biasa didahului makan-makan sarapan dulu. Nggak sarapan di rumah berarti nggak masalah lah.

Sesampai di lokasi akad nikah, memang serangkaian seremonial segera digelar. Acara pembuka, inti, terus kemudian dilanjutkan baca Qur’an, dilanjutkan pembacaan syair barjanzi, diteruskan sholawatan, dilanjutkan doa-doa, terus dan belum menampakkan ujung akhir. Walhasil, para tamu rombongan pengiring pengantin pria yang tidak sarapan tersebut semakin merasakan lilitan perut yang keroncongan. Berharap acara segera purna dan hidangan selekasnya keluar, namun justru rangkaian acara seakan tiada putus-putusnya. Waduh…..terus gimana dong?

Didera rasa lapar yang semakin tak tertahankan, satu per satu rombongan nylenthir keluar kalangan. Beberapa diantara mereka ada yang langsung menyerbu warteg. Ada yang langsung mborong bakul bakso. Ada yang cari nasi udug. Semua berhamburan tak teratur ke pinggir jalanan demi mengisi perut masing-masing.

Celaka dua belas bagi para pemimpin rombongan, termasuk para ustadz. Mereka tentu saja tidak bisa semau gue nyelonong sebagaimana anggota rombongan yang lain. Dengan amat sangat terpaksa, mereka harus terus bersabar di hadapan para wakil tuan rumah yang tidak akan melepas mereka untuk turut menyerbu warteg di pinggiran jalan. Namun sekuat-kuatnya mereka menahan rasa lapar, merekapun juga manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Akibatnya ada yang lemes tubuhnya, ada yang mulai pusing kepala, ada yang gemeter tangannya, bahkan ada yang mulai berkunang-kunang pandangan matanyanya.

Sayang sungguh seribu sayang. Pucuk dicinta, ulam ternyata tak kunjung tiba. Harap segenap hidangan pesta segera dikeluarkan oleh si tuan rumah. Rombongan itu baru ngeh, ternyata lain ladang lain belalang. Lain lubuk, lain ikannya. Lain tempat lain pula adat istiadatnya. Di kampung sendiri rangkaian acara yang panjang biasa disela dengan jeda hidangan makanan, bahkan makan besar. Ini benar-benar di luar perhitungan.

Setelah sekian lama rangkaian acara tak ada hentinya, akhirnya batin-batin hadirin yang bertanya-tanya terus kapan makanan dikeluarkan mendapatkan jawabanya. Pelan-pelan, hidangan mulai unjuk gigi. Pertama sekali keluar justru buah rambutan. Seger bener itu buah. Merah-merah bersemburat kekuningan. Nampak sudah sangat matang rambutan-rambutan itu melambai-lambaikan rambutnya. Tetapi teramat sayang seribu sayang, dikarenakan sebagian hadirin belum sarapan tentu saja mereka takut menyantap buah yang asam-asam manis tersebut. Sudah pasti perut yang kosong sangat tidak sehat jika langsung menyikat buah rambutan. Salah-salah perut bisa berabe.

Sesaat kemudian, sedikit-sedikit kue-kue dikeluarkan. Nah diantara kue basah yang hadir, beberapa rombongan yang tidak sempat turut turun ke jalanan mencari sarapan menemukan kue berbungkus daun pisang. Kue inilah yang menjadi sasaran pelampiasan rasa lapar para hadirin. Kue itulah kue unti atau nagasari yang disinggung di depan. Tanpa ba-bi-bu dan rasa malu, akhirnya empat piring kue unti langsung ludes tanpa bekas. Barulah pucuk dicinta ulam tiba!

Seiring berjalannya waktu, tibalah saat-saat jam makam siang. Lagi-lagi rombongan tersebut berhitung, atau lebih tepatnya berangan. Selazimnya acara hajatan, makan besar biasa disajikan secara prasmanan dengan banyak menu pilihan yang in the hoy. Namun sekali lagi mereka tetap harus menelan ludah. Mereka salah hitung lagi! Boro-boro nasi sebakul besar dengan lauk-pauk, sayur, krupuk, dan lain-lainnya, justru yang nongol adalah besek. Apes bener nasib mereka! Nasi sudah dalam besek, gimane mau makannya. Akhirnya rombongan tersebut segera undur diri dengan membawa oleh-oleh nasi dalam besek. Barulah di atas mobil mereka menyantap nasi besek dengan menggeleng-gelengkan kepala. Salah hitung jadinya buntung!

Pelajaran terpenting dari rombongan pengombyong pengantin tersebut, lain kali kau mau pergi kondangan tetep di rumah meski makan dulu, harus sarapan dulu. Jangan terlalu mengharapkan di sana akan disuguh ini-itu, terlebih jika adat dan kebiasaan setempat berbeda dengan di kampung sendiri. Manusia boleh berhitung, namun takdir Tuhan bisa sangat berlainan dengan harapan manusia. Kisah ini mungkin hanya sebuah contoh kecil dari banyak pengalaman manusia yang kaya akan rencana dan keinginan. Tak jarang karena terlalu yakin telah menghitung akhirnya salah hitung dan jadi buntung. Bukankah Tuhan Maha Penghitung yang sangat teliti akan rencana-rencana rahasia-Nya? Moga kita belajar.

Ngisor Blimbing, 7 Oktober 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Ngisor Blimbing dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s